Lapas Kerobokan di Masa Pandemi: Overkapasitas Hambat Jaga Jarak

Suasana salah satu blok di dalam Lapas Kerobokan. Foto diambil sebelum pandemi. (Kanal Bali/Ni Komang Erviani)
Suasana salah satu blok di dalam Lapas Kerobokan. Foto diambil sebelum pandemi. (Kanal Bali/Ni Komang Erviani)

DENPASAR – Menenteng sebuah tas plastik berwarna putih, Ega mengunjungi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Kerobokan, Bali, pagi itu. Ibu satu anak itu menyerahkan tas berisi nasi bungkus dan beberapa makanan ringan  kepada petugas. “Ini untuk suami saya,” kata Ega kepada Kanal Bali.

Petugas tampak memeriksa isi tas itu dengan teliti, sebelum dimasukkan ke sebuah kotak plastik besar. Pemeriksaan dilakukan guna memastikan tak ada benda terlarang di dalamnya. Setelah melalui proses pemeriksaan, barang titipan dari Ega yang telah dimasukkan ke kotak plastik lantas dibawa petugas ke dalam Lapas. Ega pun bergegas pulang tanpa bisa bertemu suaminya.“Sebenarnya pengen ketemu, tapi kan nggak boleh. Gara gara COVID,” kata perempuan 35 tahun itu.

Ega hanyalah satu di antara ribuan keluarga narapidana dan tahanan yang harus memendam kerinduan selama pandemi COVID-19. Mereka hanya bisa menitipkan barang atau makanan untuk diberikan kepada keluarga mereka di dalam. Kalaupun ingin bertatap muka, mereka hanya bisa melakukannya melalui layanan video call yang difasilitasi pihak Lapas.

Sejak pandemi COVID-19 muncul di Indonesia pada Maret lalu, Lembaga Pemasyarakatan Kerobokan meniadakan besukan atau kunjungan keluarga bagi seluruh penghuni Lapas, baik narapidana maupun tahanan. Kebijakan itu dibuat sebagai salah satu langkah pencegahan COVID-19 di dalam lapas. Selain menutup layanan kunjungan, pihak Lapas juga secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan bagi para warga binaan. Penyemprotan disinfektan ke seluruh wilayah Lapas juga dilakukan secara rutin setiap dua kali dalam seminggu.

Suasana Lapas Kerobokan sebelum pandemi. (Kanal Bali / Ni Komang Erviani)
Suasana Lapas Kerobokan sebelum pandemi. (Kanal Bali / Ni Komang Erviani)

“COVID-19 membuat batin kita para napi semakin tersiksa karena tidak bisa ketemu keluarga. Padahal ketemu keluarga itu seperti obat buat kita. Kita merasa dipedulikan, merasa diperhatikan. Jadi lebih semangat menjalani hukuman,” kata Oktaf, salah seorang mantan narapidana yang sempat menjalani masa masa pandemi di dalam Lapas Kerobokan. Beruntung, napi kasus narkoba itu dapat kembali berkumpul dengan keluarga setelah mendapat pembebasan bersyarat beberapa bulan lalu

Meski sempat sedih dengan kebijakan Lapas untuk menutup layanan besukan keluarga, toh Oktaf mengaku sangat mengapresiasi langkah cekatan pihak Lapas dalam mencegah COVID-19 di dalam Lapas. Sosialisasi tentang bahaya COVID-19 dan cara pencegahannya terus disampaikan berulang-ulang. Sejumlah tempat cuci tangan juga disiapkan di berbagai sudut. Warga binaan juga diwajibkan melakukan olahraga pagi untuk meningkatkan stamina. Beberapa hari sekali, ada petugas klinik datang ke blok untuk cek suhu tubuh warga binaan.

“Problemnya, kami semua tidak bisa jaga jarak. Gimana mau jaga jarak, wong tempatnya sempit. Jadi, mustahil kita lakukan physical distancing,” kata Oktaf. Ia menyadari, ada risiko yang jauh lebih besar bila ada warga binaan terinfeksi COVID-19. Karenanya, Oktaf mengaku sempat khawatir dengan merebaknya COVID-19 di masyarakat.

Selama pandemi, penghuni lapas yang berstatus tahanan juga tidak menjalani persidangan secara tatap muka di Pengadilan Negeri Denpasar. Seluruh persidangan dilakukan secara online dari ruang kantor Lapas.

Jumlah pengujung Lapas Kerobokan kini dibatasi – IST

Lapas Kerobokan juga sempat menutup pintu bagi tahanan titipan kejaksaan selama beberapa bulan. Namun kebijakan itu dilonggarkan setelah pihak kepolisian kewalahan menampung terlalu banyak tahanan di tempat mereka. Lapas Kerobokan memutuskan menerima kembali tahanan titipan, dengan syarat seluruh tahanan harus menjalani tes usap berbasis PCR dengan hasil negative terlebih dahulu.

Sayangnya, kabar buruk datang di bulan Oktober. Lapas Kerobokan menjadi klaster baru penularan COVID-19 di Bali. Sejumlah 181 narapidana dan tahanan dinyatakan terpapar COVID-19. Di antara 181 napi yang terpapar COVID-19, tujuh orang merupakan narapidana asing. “Kita tidak tahu persis dari mana mereka terpapar. Padahal kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah,” ujar Kepala Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Kerobokan, Yulius Sahruzah.

Ini sebenarnya bukan pertama kalinya COVID-19 ditemukan di dalam lapas. Sebelumnya, pada Agustus, ada 10 tahanan titipan dari Kejaksaan yang ditemukan terpapar COVID-19. Beruntung kesepuluh tahanan tersebut belum sempat berbaur dengan penghuni Lapas lain. Pasalnya, seluruh tahanan baru diwajibkan menempati wisma mapenaling (masa pengenalan lingkungan) selama paling tidak dua minggu pertama. Kesepuluh tahanan tersebut tidak menunjukkan gejala alias OTG (orang tanpa gejala).

Terpaparnya 181 narapidana pada Oktober lalu, terungkap setelah pihak Lapas mendapatkan laporan bahwa ada sejumlah narapidana tiba tiba kehilangan penciuman dan tak bisa mengecap rasa makanan dengan baik. Atas laporan tersebut, pihak Lapas kemudian berkoordinasi dengan pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Badung. Tes massal lantas digelar. Seluruh napi dan tahanan penghuni lapas menjalani rapid test oleh tim Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 Kabupaten Badung. Hasilnya, sebanyak 633 penghuni lapas dinyatakan reaktif.

Hanya berselang sehari setelah temuan itu, pihak Satgas COVID-19 Badung melakukan tes usap kepada 633 warga binaan Lapas yang dinyatakan reaktif. Tes usap digelar secara bertahap selama dua hari. Hasilnya, total sebanyak 181 warga binaan dinyatakan positif COVID-19.

Tes swab di Lapas Kerobokan – IST

“Alhamdulilah, semua warga binaan yang dinyatakan positif COVID-19 ternyata OTG. Nggak ada gejala, nggak ada yang sakit. Semua sehat sehat saja,” kata Yulius.

Gara gara tak menunjukkan gejala sakit, sebagian besar warga binaan yang positif COVID ternyata merasa tidak percaya kalau mereka telah terpapar COVID. Beberapa warga binaan bahkan meminta izin untuk menjalani tes usap mandiri dengan mendatangkan tim dari sebuah laboratorium swasta. Tes mandiri itu akhirnya difasilitasi pihak Lapas dengan biaya ditanggung oleh warga binaan yang bersangkutan.

“Ada tiga warganegara asing yang menjalani tes usap mandiri gara gara nggak percaya kalau mereka positif COVID. Setelah dites ulang, hasilnya tetap positif. Akhirnya, mau nggak mau, mereka percaya kalau mereka terpapar COVID,” kata Yulius.

Guna mencegah penyebaran yang lebih luas, pihak lapas segera mengkarantina seluruh warga binaan yang terpapar COVID-19. Ruang Aula di dalam lapas disulap menjadi wisma karantina, menampung lebih dari 100 warga binaan. Sedangkan sisanya dikarantina di Wisma Kuta , salah satu blok hunian di Lapas Kerobokan. Karantina berlangsung sekitar 15 hari tanpa ada satu pun warga binaan mengeluh sakit. “Semua sehat sampai akhir masa karantina,” kata Yulius.

Tak mau kecolongan lagi, Lapas Kerobokan kini menerapkan kebijakan yang lebih ketat. Selain tetap menutup pintu besukan, mewajibkan tes usap negatif bagi tahanan baru, tes usap rutin bagi petugas Lapas, pihak Lapas juga kini menerapkan protokol baru terhadap barang barang titipan dari keluarga dan kerabat warga binaan. Seluruh barang titipan kini dijemur selama sekitar setengah hingga satu jam di bawah terik matahari, sebelum diserahkan kepada warga binaan yang bersangkutan.

“Karena kita nggak pernah tahu, dari mana virusnya masuk. Bisa jadi masuk lewat barang titipan, atau bisa juga melalui hal hal lain. Untuk meminimalisir risiko, sekarang barang titipan kami jemur dulu sebelum diserahkan,” kata Yulius.

Di dalam Lapas, pemakaian masker kini diwajibkan bagi warga binaan saat keluar dari wisma atau blok hunian. Meski demikian, penghuni Lapas diperbolehkan tidak menggunakan masker di dalam blok hunian. “Kalau mewajibkan pakai masker di blok, kami salah. Karena di dalam blok itu, mereka berinteraksi. Yang terpenting mereka sudah berkomitmen sesama rekan satu wismanya, agar jangan sampai ada yang terpapar saat ke luar wisma. Demi kebaikan bersama,” ujarnya.

Lapas Kerobokan memiliki sebanyak 13 wisma. Masing-masing ditempati oleh puluhan warga binaan. Beberapa diantara juga dihuni lebih dari 100 warga binaan.. Dalam kesehariannya, warga binaan memang diperbolehkan ke luar wisma di waktu waktu tertentu untuk berbagai keperluan, seperti olahraga maupun bekerja di bengkel kerja (bengker).

Meski telah berusaha menerapkan protokol kesehatan secara ketat, Yulius mengakui physical distancing tidak mungkin diterapkan di dalam Lapas. Dengan kapasitas maksimum Lapas hanya 323 orang, Lapas Kerobokan kini diisi lebih dari 1.300 orang warga binaan. “Phyisical distancing di dalam wisma itu, mustahil,” Yulius mengakui.

Dengan kondisi overkapasitas, para penghuni lapas terpaksa tidur dengan posisi berdekatan satu sama lain. “Mustahil kalau disuruh tidur dengan jarak satu sampai dua meter. Mau ditaruh di mana?” tambah dia.

Dengan fasilitas yang terbatas, Yulius mengaku pencegahan lebih difokuskan pada pencegahan masuknya virus dari luar Lapas. Selain itu, pemantauan ketat juga dilakukan terhadap kesehatan para warga binaan. Pihak Lapas menugaskan beberapa warga binaan di blok huniannya untuk memantau ketat kesehatan warga binaan lain, dan segera melaporkan bila ditemukan ada warga binaan yang menunjukkan gejala. “Kami menyebut mereka, Tamping Kesehatan,” ujarnya.

“Dengan pemantauan ketat, kami bisa segera merespon bila ada warga binaan yang menunjukkan gejala. Sehingga kami bisa menekan potensi penularannya,” Yulius menegaskan.

Pihak Lapas juga melakukan pemantauan khusus bagi warga binaan lanjut usia (lansia), dengan memberikan vitamin secara rutin. Yulius menjelaskan, saat ini ada puluhan warga binaan lanjut usia di dalam lapas. Para warga binaan lansia tersebut menempati Wisma Lembongan, salah satu blok hunian yang memang dikhususkan bagi warga binaan lansia. Selain pengecekan suhu tubuh secara rutin, para warga binaan lansia juga diberi asupan vitamin secara rutin. “Kami menaruh perhatian khusus ke Wisma Lembongan, karena mereka menjadi golongan rentan,” tambah Yulius.

Seorang Napi menjalanai tes swab di Lapas Kerobokan – IST

Dengan berbagai keterbatasan yang ada, Yulius mengaku upaya pencegahan penyebaran COVID-19 tetap dilakukan secara serius. “Semoga ke depannya tidak ada lagi warga binaan yang terpapar COVID-19,” kata dia.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Badung I Nyoman Gunarta menjelaskan, klaster Lapas Kerobokan telah memberi kontribusi yang cukup tinggi terhadap peningkatan kasus COVID-19 di wilayahnya. Karenanya, ia berharap kasus COVID-19 di Lapas terbesar di Bali itu dapat dikendalikan. “Kami terus berkoordinasi dengan pihak Lapas dalam penerapan protokol kesehatan di sana,” kata dia.

Meski demikian, Gunarta mengaku tak bisa ikut serta melakukan kontrol di dalam lapas. “Lapas itu merupakan instansi vertikal di bawah kementerian, bukan bagian dari Pemerintah Kabupaten Badung. Jadi, kami hanya dapat melakukan koordinasi dan memberi dukungan berdasarkan permintaan mereka,” kata Gunarta.

Ia mencontohkan, Dinas Kesehatan Badung melakukan tes COVID-19 secara massal pada Oktober lalu atas permintaan resmi dari pihak Lapas. “Jadi kami siap memberi dukungan pengetesan ataupun sarana kesehatan lain bila diminta pihak lapas,” kata dia.

Banyaknya warga binaan Lapas Kerobokan yang terpapar COVID-19 membuat keluargapara warga binaan merasa was was. Tak terkecuali Ega. . Ia berharap, sang suami dapat terhindar dari virus tersebut. “Di dalam kan susah jaga jarak, jadi takut juga kalau suami saya kena. Semoga dia baik baik aja,” uja Ega. (Ni Komang Erviani)