“Meditasi Telepon Genggam”: Puisi Sebagai Renungan atas Kecanduan Digital

DIMANA-MANA, kita melihat orang-orang yang tampak asyik dengan ponsel pintar. Entah melihat media sosial, menonton video, bermain gim, atau terlibat dalam percakapan virtual. Manusia mengalami kecanduan digital.

Bahkan tak jarang, perhatian terhadap lingkungan sekitar atau lawan bicara menjadi terabaikan. Fenomena ini tak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga menjalar hingga ke ruang-ruang paling privat dalam kehidupan masyarakat modern.

Fenomena tersebut menjadi titik tolak lahirnya buku puisi terbaru penyair Angga Wijaya berjudul Meditasi Telepon Genggam.

Buku ini segera terbit di bawah penerbit Sonar Pustaka, dengan jumlah 52 halaman, berukuran 13×19 cm, menggunakan kertas bookpaper, dan soft cover ivory 260 gr.

Harga pre-order dibagi dalam dua gelombang: Batch 1 seharga Rp 52.000, Batch 2 Rp 55.250, sementara harga normal adalah Rp 65.000.

Menurut Angga Wijaya, buku ini adalah suara yang mengajak kita untuk berhenti sejenak, menyimak detak jantung sendiri, dan mengingat kembali bahwa manusia bukan hanya perangkat yang terhubung, melainkan jiwa yang merindukan makna.

Dalam wawancara dengan redaksi, Angga menyampaikan bahwa puisi-puisi dalam buku ini memiliki benang merah yang sama yaitu ponsel pintar dan ekosistem teknologi digital.

“Sebagian besar puisi berasal dari buku-buku puisi saya sebelumnya, namun saya sisipkan pula puisi baru yang punya tema besar serupa, yakni teknologi internet, media sosial, dan bagaimana semua itu membentuk ulang cara hidup dan berpikir manusia modern,” jelasnya.

Kecanduan Ponsel dan “Permainan Mendalam”

Angga mengaitkan tema bukunya dengan pemikiran Clifford Geertz, antropolog Amerika Serikat yang pernah meneliti sabung ayam di Bali. Dalam salah satu esainya, Geertz menyebut sabung ayam sebagai Deep Play atau permainan mendalam — aktivitas yang tampak sederhana namun sarat dengan makna sosial, politik, bahkan eksistensial.

“Dulu, sabung ayam adalah permainan status. Sekarang, ponsel bisa dibilang sebagai bentuk permainan mendalam era digital. Obyeknya berubah, dari ayam jago menjadi telepon genggam. Kita memperebutkan atensi, eksistensi, pengaruh — semua itu tak kasat mata, tapi sangat menentukan dalam struktur sosial hari ini,” ungkap Angga.

Ia juga menyinggung lagu dari seorang musisi Indonesia yang menggambarkan kecanduan internet dengan satire: bahkan di tempat ibadah, orang masih sibuk dengan ponsel. Dalam lagu itu, internet disebut sebagai “Dajjal”, tokoh apokaliptik yang dikenal dalam beberapa kitab suci.

“Lagu itu menyindir, tapi juga mengajak kita merenung,” tambah Angga.

Refleksi Budaya dan Ancaman Sosial

Dalam halaman belakang bukunya, Angga menuliskan bahwa teknologi ibarat mata pisau: bisa berguna, bisa juga melukai.

“Kini tergantung kita, larut dalam permainan atau menjaga jarak dengannya. Apakah kebiasaan bermain ponsel hanyalah bentuk budaya baru atau justru ancaman terhadap peradaban manusia?” tulisnya.

Penyair yang juga seorang esais dan jurnalis ini meyakini bahwa komunikasi di kehidupan nyata kian berkurang, bahkan bisa hilang sama sekali, akibat dominasi percakapan digital.

“Ketika semua interaksi berpindah ke layar, kita kehilangan sentuhan manusiawi. Humor jadi emotikon, tangisan jadi status singkat. Itulah yang ingin saya renungkan dalam puisi,” katanya.

Catatan Panjang Seorang Penyair

Sejak 2018, Angga Wijaya, penyair 41 tahun kelahiran Negara, Jembrana, Bali,  telah menulis tujuh buku kumpulan puisi: Catatan Pulang (2018), Dua Kota Dua Ingatan (2019), Taman Bermain (2019), Notes Going Home (2019), Tidur di Hari Minggu (2020), Menulis Halusinasi (2021), dan [Bukan] Anjing Malam (2024).

Ia juga menulis tujuh buku esai dan kumpulan artikel, antara lain: Masa Depan Itu Nisbi (2020), Aku Tak Lagi Mendengar Bisikan Suara (2020), Umbu, Simfoni, Sunyi (2021), Gawai, Pandemi, Kesurupan (2023), Biografi [Bukan] Malin Kundang (2024), Mahalini Tidak Sendiri (2024) dan buku esai terbaru Telanjur Galbay (2025)

Buku Meditasi Telepon Genggam menjadi karya terbarunya yang memadukan kritik sosial, spiritualitas, dan refleksi budaya dalam bentuk puisi.

“Saya percaya puisi bisa menjangkau dimensi batin manusia yang tak tersentuh oleh opini atau ceramah. Ia mengajak merenung, bukan menggurui,” ujar Angga.

Tentang Buku

Buku Meditasi Telepon Genggam disiapkan untuk para pembaca yang merasa jenuh dalam keramaian digital dan ingin “pulang ke kedalaman batin yang sejati.” Dengan desain sampul modern dan simbolik — gambar ponsel dan telapak kaki dalam dua lingkaran warna berbeda — buku ini menawarkan pengalaman visual dan isi yang saling mendukung.

Angga berharap buku ini bisa menjadi ruang kontemplasi di tengah hiruk pikuk zaman.

“Saya menulis buku ini bukan untuk menyalahkan teknologi, tapi untuk mengajak kita duduk sejenak, mengamati, dan mungkin—memaafkan diri kita sendiri yang terlalu sibuk bermain ponsel pintar,” pungkasnya.

Untuk Pemesanan:

Kunjungi sonarpustaka.com atau scan QR code yang tersedia di poster resmi.

Instagram: @sonarpustaka | WhatsApp: +62 812-1501-6635

Penerbit: Sonar Pustaka.

(kanalbali/IST)

Apa Komentar Anda?