Morbid Monke: Bunyi Aneh dari Denpasar dan Lahirnya Generasi Baru Indie Bali

DENPASAR, kanalbali.id –  Morbid Monke boleh menjadi gangguan yang menyegarkan di tengah lanskap musik Bali yang didominasi oleh cover untuk panggung pariwisata.

Mereka tidak terdengar rapi. Tidak terdengar aman. Dan memang tidak pernah berniat untuk semua menyenangkan orang.
Band yang lahir di Denpasar ini, membawa sesuatu yang jarang terdengar di skena lokal: perpaduan post-punk, experimental rock, dan elemen brass yang terasa ganjil sekaligus memikat.

Dalam setiap penampilan, Morbid Monke terdengar seperti sedang membongkar struktur musik itu sendiri – menciptakan ketegangan, kebisingan, dan ruang kosong yang disengaja.
“Kami tidak pernah duduk dan bilang, ‘ayo bikin lagu yang orang pasti suka’. Justru kami mulai dari kebingungan, dari suara-suara yang terasa tidak selesai. Dari situ kami menemukan identitas,” ujar gitari Morbid Monke, Krisna Dwipayana, Sabtu (21/02).

Morbid Monke terbentuk dari pertemuan lima individu dengan latar musikal yang berbeda. Formasi mereka terdiri dari Karisma Kele (vokal), Krisna Dwipayana (gitar), Deoka (bass), Dewok (brass), dan Gerby (drum). Tidak seperti band indie kebanyakan, kehadiran brass—khususnya terompet—menjadi elemen penting yang memberi dimensi sonik yang tidak biasa.

Alih-alih membangun sound yang “ramah pendengar”, mereka justru mengeksplorasi disonansi, groove yang tidak stabil, dan dinamika yang terasa canggung. Namun justru di situlah identitas Morbid Monke terbentuk.

Nama “Morbid Monke” sendiri mencerminkan absurditas dan humor gelap yang menjadi bagian dari karakter mereka. Ada kesan satir, ada jarak dari keseriusan yang berlebihan, seolah mereka ingin mengatakan bahwa musik tidak harus selalu terasa nyaman untuk bisa bermakna.

“Kami suka hal-hal yang awkward. Dalam hidup, banyak momen yang tidak rapi, tidak sinkron. Musik kami adalah refleksi dari itu. Kami tidak ingin terdengar sempurna, kami ingin terdengar nyata,” tambahnya.

“When I Feel Alive”: Debut yang Menolak Normalitas

Single debut mereka, When I Feel Alive, menjadi pernyataan awal tentang arah artistik Morbid Monke. Lagu ini tidak mengikuti struktur pop konvensional. Tidak ada klimaks yang dirancang untuk mudah diingat. Sebaliknya, lagu ini bergerak seperti yang kadang kadang intens, kadang kosong, kadang terasa seperti akan runtuh. Seperti kesadaran manusia.

Gitar terdengar tajam dan tidak stabil. Ritme drum bergerak dengan presisi yang disengaja namun tidak terasa mekanis. Brass muncul sebagai interupsi, bukan pelengkap.

Selain itu, ada juga beberapa nomor seperti Paradox, Loser DogGo!, serta Marry Jane. Lagu-lagu mereka berbahasa Inggris. Terdengar mencekam, ada sentuhan amarah yang menggelora, juga berisik layakanya raungan para satwa di hutan.

Tumbuh dari Komunitas, Bukan Industri

Morbid Monke lahir dari ekosistem gig kecil dan komunitas musik independen di Denpasar. Mereka bermain di ruang-ruang alternatif, venue kecil, dan acara komunitas.

Di Bali, komunitas seperti ini menjadi tulang punggung skena indie. Mereka menciptakan ruang bagi band untuk tumbuh tanpa tekanan komersial.

Morbid Monke adalah produk dari ekosistem tersebut—band yang dibentuk oleh solidaritas, bukan pasar.

Bagian dari Gelombang Baru

Morbid Monke adalah bagian dari generasi baru band indie Bali yang mulai berani menjauh dari formula lama. Generasi ini tidak lagi hanya terinspirasi oleh musik populer, tetapi juga oleh post-punk, noise rock, dan berbagai bentuk musik eksperimental dari seluruh dunia.

Internet membuka akses. Komunitas menyediakan ruang. Dan band-band seperti Morbid Monke mengisi ruang itu dengan identitas baru.

Mereka bukan hanya band baru. Mereka adalah tanda bahwa skena musik indie Bali masih hidup, masih bergerak, dan masih berevolusi.

“Kami tidak tahu apakah kami akan jadi besar atau tidak. Tapi kami tahu kami ingin terus bereksperimen. Selama kami masih penasaran, Morbid Monke akan tetap hidup,” kata Krisna.

Dan pada akhirnya grup ini muncul sebagai pengingat sederhana bahwa musik, adalah tentang keberanian untuk bersuara bahkan ketika suara itu terdengar aneh. (kanalbali/RLS)

Apa Komentar Anda?