Panji Astika: Berkuasa Bukan Tujuan Akhir Berpolitik

Anak Agung Ngurah Panji Astika, ST saat bercengkerama dengan warga - IST

TABANAN- Tujuan politik adalah merebut kekuasaan. Tapi ketika berkuasa, masyarakat harus sejahtera lahir dan batin. “Kesejahteraan akan tercapai jika pemimpinnya jujur, profesional, dan kerja keras,” tegas tokoh Puri Anom Tabanan, Anak Agung Ngurah Panji Astika yang hendak maju dalam Pilkada Tabanan.

Bermodal tiga prinsip ini, Panji Astika optimis transparansi keuangan, tata kelola pemerintahan yang baik, dan iklim usaha, khususnya bagi pengusaha lokal akan terwujud.

“Saya bercita-cita masyarakat Tabanan memiliki akses mengecek keuangan daerah melalui handphone. Segala sendi kehidupan di Tabanan akan diatur oleh sistem yang sangat transparan karena saya memposisikan diri sebagai pelayanan masyarakat,” ungkap pria murah senyum itu saat ditemui akhir pekan lalu.

Transparansi sambung Panji Astika merupakan bagian dari kejujuran dan profesionalitas. Terangnya, sebuah institusi kalau tidak dikelola secara profesional pasti akan kacau.

Dari aspek birokrasi, ungkapnya harus ada kesesuaian antara bidang yang diurus dengan latar belakang pendidikan seseorang. Seorang pemimpin tidak boleh sesuka hati menempatkan seseorang pada bidang tertentu yang tidak dikuasainya. Pasalnya, bila bidang tertentu yang menentukan hajat hidup orang banyak dipakai main-main, maka akan berbahaya bagi masa depan banyak orang.

“Profesionalisme harus didahulukan dalam segala bidang, khususnya di institusi-institusi pemerintahan yang strategis tegasnya. ” ungkap Panji Astika. “Jangan sampai ada atasan takut menegur bawahan yang adalah titipaan pemgasa,” sebutnya.

Jika serius ingin membawa Tabanan ke arah kemajuan yang memberdayakan masyarakat luas, Panji Astika mengajak semua pihak untuk profesional dalam segala hal. Termasuk menentukan pilihan di bilik suara pada Rabu, 9 Desember 2020 mendatang. Pemimpin yang profesional dan jujur dimulai dari pemilih yang profesional dan jujur; tidak mudah dibeli.

“Jadi kejujuran saya posisikan nomor satu karena sikap itu yang paling dasar bagi seorang pemimpin. Lebih-lebih seorang bupati. Kalau sudah jujur dan profesional, barulah seorang pemimpin bisa bekerja keras. Dan hal itu akan sejalur dengan hasil dari pekerjaan yang dilakukan,” pungkas alumnus Universitas Brawijaya itu. ( kanalbali/IST)