Festival yang berangkat dari tradisi Ngembak Geni ini telah dikemas menjadi agenda tahunan oleh masyarakat Desa Les. Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi ruang promosi potensi desa wisata, seni budaya, serta produk UMKM masyarakat setempat. Antusiasme masyarakat dan wisatawan yang hadir turut memberikan dampak ekonomi bagi warga.
Agung Alit : Fair Trade Demi Planet Bumi!
Wabup Supriatna yang hadir sekaligus membuka kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Desa Les dalam menjaga tradisi dan mengembangkannya menjadi daya tarik wisata. Ia menilai sinergi antara pemerintah desa, tokoh adat, dan pelaku pariwisata menjadi kekuatan utama dalam membangun desa wisata yang berkelanjutan.
“Saya mengucapkan selamat kepada masyarakat Desa Les dan para pelaku pariwisata karena Les Ngembak Festival ini sudah keempat kalinya bisa dilaksanakan,” ujarnya.
Terima Audiensi PT. Nutrifood Indonesia, Wakil Rektor UNUD Mohon Tambahan Kuota Mahasiswa Magang
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga arah pengembangan pariwisata agar tetap berpijak pada karakteristik lokal. Menurutnya, keaslian dan keunikan desa menjadi nilai utama yang tidak boleh ditinggalkan dalam upaya menarik wisatawan.
Ia mengingatkan bahwa konsep desa wisata harus tetap dijaga agar mampu memberikan pengalaman yang berbeda dan autentik bagi pengunjung. Pendekatan tersebut diyakini mampu memperkuat posisi Buleleng sebagai destinasi alternatif di Bali.
“Pengembangan pariwisata harus disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik lokal. Konsep desa wisata harus tetap dijaga agar memberikan pengalaman yang autentik,” tegasnya.
Selain itu, Wabup Supriatna juga menegaskan bahwa Buleleng tidak perlu meniru pola pengembangan pariwisata di wilayah Bali Selatan. Justru, kekuatan Buleleng terletak pada keaslian alam dan budaya yang dimiliki.
“Kita tidak harus meniru pariwisata di Bali Selatan. Buleleng harus berkembang sesuai dengan karakteristik dan potensi yang kita miliki,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Les Ngembak Festival IV, Nyoman Adi Yanan, menjelaskan bahwa festival ini merupakan inisiatif masyarakat yang berangkat dari tradisi lokal. Selain mempererat kebersamaan, kegiatan ini juga menjadi sarana promosi potensi desa.
Ia menyebutkan bahwa pelaksanaan festival mampu meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya melalui sektor UMKM dan kuliner lokal yang melibatkan warga secara langsung.
“Festival ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus mempromosikan desa wisata, produk UMKM, dan kuliner khas masyarakat,” jelasnya.
Les Ngembak Festival IV digelar selama tiga hari, 20–22 Maret, dengan berbagai rangkaian kegiatan seni, budaya, dan aksi sosial, yang diharapkan terus memperkuat identitas pariwisata Buleleng berbasis kearifan lokal. ( kanalbali/RLS )


