Waspadalah, Trend Gempa Bumi Secara Global Terus Meningkat

DENPASAR- Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyatakan, untuk trend gempabumi secara global dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.

Hal tersebut, diketahui dari kumpulan data Unified Soil Classification System (USCS) dan lembaga yang memonitor gempabumi secara global.

“Dari data dunia yang dikumpulkan oleh USCS dan lembaga yang memonitor kegempaan di eropa, ada trend secara global itu kenaikan kejadian gempabumi secara global,” kata Karnawati saat usai membuka acara “Sekolah Lapang Cuaca Nelayan Provinsi Bali tahu 2020,” di Kantor Balai BMKG Wilayah lll Denpasar, Bali, pada Senin (9/11).

Sementara, untuk gempabumi di Indonesia juga mengalami trend kenaikan. Dari data tahun 2013 pertahun terjadi gempabumi sebanyak 5000 kali kini tahun 2019 meningkat hingga 11. 500 pertahun.

“Kalau kita lihat sejak tahun 2013 hingga 2016 kejadian gempabumi itu rata-rata 5000 sampai 6000 kali dalam satu tahun. Tetapi, mulai 2017 itu meningkat menjadi 7000 kali lebih dalam satu tahun dengan berbagai kekuatan. (Kemudian) mulai 2018 sampai 2019 peningkatannya melonjak 11.500 kali dalam satu tahun. Jadi, frekuensi kejadian gempabumi ini baik secara global ataupun secara nasional ini trednya sedang meningkat,” ujarnya.

“Sementara tahun 2020 ini, data yang sudah terkumpul belum mencapai 11.500. Seperti tahun 2019 untuk sementara. Semoga saja tidak nambah, doanya begitu. Jadi (diharapkan) ada penurunan 2020 tapi tahunnya belum habis ini. Kita masih menunggu (data) sampai akhir Desember,” tambahnya.

Ia juga menyebutkan, dengan adanya gempabumi tersebut tentu 90 persen akan mengakibatkan atau memicu tsunami. Karena, tsunami terjadi karena adanya gempa di dasar laut.

“Berarti 90 persen tsunami itu diakibatkan atau dipicu oleh gempabumi, maka dengan peningkatan frekuensi gempa bumi terutama yang terjadi di dasar laut dikhawatirkan juga akan menambah potensi tsunami juga,” ujarnya.

“Tetapi doa kita tidak akan demikian. Sehingga, yang paling penting sekarang adalah mitigasi. Karena, kepastiannya tidak pasti yang lebih tepat adalah berisiap-siap, seandainya terjadi gempa bumi, seandainya terjadi tsunami,” ungkapnya.

Ia juga memaparkan sistem mitigasi untuk mengatasi gempabumi dan tsunami di Indonesia. Salah satunya, wilayah yang paling siap dalam mitigasi tersebut adalah Denpasar, Bali.

“Kebetulan wilayah Denpasar itu, salah satu wilayah di Indonesia yang paling siap. Terbukti, di hotel-hotel di sepanjang Sanur dan Kuta terutama hotel berbintang itu sudah terverifikasi bahwa bangunannya tahan gempa sesuai dengan bulding code,” ujarnya.

“Dan di situ dapat dijadikan selter evakuasi di atas lantai dua. (Lantai ) tiga dan empat itu bisa selter evakuasi sistemnya sudah disiapkan di BPBD Provinsi Bali, ini salah satu terbaik dan sistemnya sudah siap 24 jam,” sambungnya.

Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa di Denpasar merupakan backup Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS). “Denpasar ini, merupakan backup sistem Indonesia Tsunami Early Warning Sistem, yang pusatnya ada di Kemayoran Jakarta. Kalau di sana lumpuh, diambil ahli oleh Denpasar, mereka standby terus 24 jam,” ujar Karnawati. ( kanalbali/KAD )

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.