Mengenal 5 Tingkat Literasi Digital, Anda Termasuk yang Mana?

pixabay by Free-Photos

LITERASI digital merupakan kemampuan penting yang perlu dimiliki setiap orang saat ini. Namun pakar mengatakan literasi digital bukan sekadar kemampuang menggunakan internet loh.

I Gusti Kade Siladana, Waka Kurikulum SMK Negeri 3 Tabanan mengatakan literasi digital merupakan bagian dari budaya digital yang kini terus berkembang.

“Perkembangan budaya digital memunculkan profesi dan bisnis baru. Ini membuat sejumlah bisnis dan profesi lama sudah tidak lagi relevean, bukti bahwa budaya digital membawa disrupsi di segala bidang,” tutur Gusti, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Tabanan, Bali, Senin (4/10/2021).

Gusti menjelaskan secara ringkas, ada lima tingkatan literasi digital yang perlu diketahui masyarakat. Sebab, masing-masing tingkatan memiliki kemampuan dan kegunaan yang berbeda.

Tingkatan pertama adalah technological awareness. Dengan kata lain, orang pada tingkatan ini hanya sebatas mengetahui saja teknologi digital, tanpa pernah memahami penggunaannya.

Tingkatan kedua adalah technological literacy. Pada tingkatan ini, orang mulai mengenal fitur-fitur teknologi dan belajar menggunakannnya.

Tingkata ketiga adalah technological capability. Setelah mengetahui dan mengenal teknologi, sampailah orang pada kemampuan untuk menggunakannya secara benar.

“Ini bisa kita lihat pada generasi yang lebih tua. Ada yang tahu saja handphone untuk menelepon jarak jauh, ada yang bisa pakai sebatas SMS dan telepon saja, ada juga yang sudah mahir menggunakannya untuk browsing internet, video call, hingga bekerja,” tutur Gusti.

Hargai Tiap Karya Orang Lain yang Positif di Medsos

Tingkatan keempat adalah technological creativity. Di sini, pengguna tidak hanya memakai tapi mampu menerapkan dan memodifikasi fungsi teknologi dalam keseharian. Tingkatan kelimat dan terakhir adalah technological criticism, yakni saat seseorang sudah mampu memberdayakan teknologi.

“Indikator kecakapan berteknologi digital yang tertinggi ditandai dengan kemampuan memberdayakan teknologi digital (ICT) secara kritis, bijaksana, dan produktif, maka kita semua harus mentransformasi budaya digital kita dari level technological awareness menuju level technological criticism,” tutur Gusti.

Di kesempatan yang sama, key opinion leader Fitri Yani mengatakan penggunaan internet yang baik dan positif merupakan salah satu bentuk kemampuan literasi digital yang perlu diterapkan dalam kehidpan sehari-hari.

Adanya internet tidak hanya sebatas menjalin silaturahmi dengan keluarga dan kerabat yang jauh, tapi juga bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan bisnis, memproduksi karya dan konten kreatif, serta mengembangkan jaringan.

Dalam kesempatan kali ini hadir juga Alaika Abdullah (Virtual Assistant dan Digital Content Creator) serta Rizky Rahmawati Pasaribu (Advokat dan Managing Partner Law Office Amali & Associates).

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.