Bahaya Penggunaan Internet yang Tidak Sehat

pixabay by HolgersFotografie

MANFAAT internet sangat banyak dan memudahkan kehidupan masyarakat dalam beraktivitas. Penggunaan internet secara positif mencerminkan internet sehat. Namun, terlalu banyaknya konten negatif bisa menyebabkan penggunaan internet kita sebaliknya, tidak sehat.

Saat ini kita berada di kondisi pandemi di mana aktivitas berlangsung dari rumah. Sebagian besar bahkan hampir seluruhnya mengandalkan koneksi internet untuk sekolah, bekerja, bermain medsos, berinteraksi, hiburan, belanja, perbankan, dan mendapatkan informasi.

Dengan banyaknya aktivitas yang mengandalkan internet. Intensitas kita membuka dan menggunakannya menjadi lebih sering. Penggunaan yang tidak tepat bisa menyebabkan kita kecanduan dan merupakan salah satu indikator bahwa kita tidak menggunakan internet secara sehat.

“Tanpa disadari, kita semua sudah candu sama internet. Kalau sudah kelihatan gejala bangun tidur, mau tidur, atau saat makan membuka internet ini tanda internet tidak sehat,” ujar Gebryn Benjamin, Lead Creative & Marketing Strategy dalam Webinar Literasi Digital di Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, Rabu (13/10/2021).

Gege menyampaikan, selain kecanduan internet secara keseluruhan, efek tidak sehat dari internet, yakni kecanduan pornografi, game online, pinjol ilegal, dan lainnya. Platform-platform tersebut banyak dibuat untuk menimbulkan kecanduan. Di samping itu, adanya kejahatan siber, konten kekerasan, ujaran kebencian, dan hal negatif lainnya.

Kita bisa menjadi korban dampak negatif internet didasari beberapa faktor. Pertama, kesadaran yang rendah akan efek tidak sehat dari internet. Kedua, minimnya literasi digital seseorang. Sementara pada anak-anak, faktor utamanya ialah kemudahan akses dan tidak adanya pengawasan dari orang tua.

“Lingkungan sekitar juga berpengaruh. Kalau lingkungan sekitarnya negatif, maka akan terbawa negatif. Kalau kita bergabung di lingkungan positif, kita akan menjadi orang yang positif juga,” tutur Gege.

Untuk itu, saat kita bermedia sosial harus bisa mengambil manfaat positifnya dengan mengikuti akun-akun yang baik. Kemudian, memperbanyak literasi digital dan mempelajari pilar-pilarnya (kecakapan, etika, budaya, dan keamanan digital), biasakan diri untuk selalu triple checking saat mendapatkan informasi di internet. Biasakan menyebarkan informasi yang benar terlebih dahulu.

Saat menggunakan internet, penting untuk kita mengelola prioritas berdasarkan tujuannya. Misalnya, belajar atau bekerja. Pahami dan buat jejak digital yang positif bukan sebaliknya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, Rabu (13/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Anggie Ariningsih (CEO Tech Company), Arman Kalean (Akademisi IAIN), dan Ahmad Affandy (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.