Hindari Komentar Negatif di Media Sosial

pixabay by arthur_bowers

MEMANG sangat mudah mengomentari unggahan atau konten orang lain di media sosial. Padahal belum tentu kita bisa membuat hasil karya berupa konten seperti yang kita komentari.

Menurut Wicha Riska saat menjadi Key Opinion Leader dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Senin 18 Oktober 2021, kerap kali komentar yang diberikan atas unggahan seseorang itu berisi komentara negatif yang bisa memicu pertengkaran ataupun berujung pada persoalan hukum di kemudian hari.

“Sebarkan atau berkomentarlah yang baik-baik saja jangan yang membuat membuat orang lain tersinggung atau komentar-komentar yang bersifat hate comment,” ujar Wischa dalam webinar yang dipandu oleh Tony Thamrin ini.

Untuk itu, lanjut Wischa, sebelum mengungkapkan komentar kita atas unggahan atau konten orang lain kita perlu berpikir dulu sebelum bertindak atau think before you act.

“Kita perlu menerapkan sejumlah prinsip yang bisa dirangkum sebagai THINK sebagai patokan beretika dalam memposting komentar di medsos,” imbuhnya.

Prinsip ini bisa membantu kita untuk berpikir beberapa kali sebelum memutuskan untuk berkomentar di media sosial. Prinsip pertama adalah True yaitu sebelum berkomentar harus tahu dulu kebenarannya harus dicari dulu sumbernya apakah dari situs resmi atau tidak. Sesuai apa tidak kalau sekiranya memang ingin tahu kebenarannya ada baiknya just skip jangan dikomentari.

Sebab ada sejumlah konten yang sengaja memberikan judul yang provokatif agar ditonton, agar kita subscribe itu yang diperlukan oleh para youtuber itu.

Literasi Digital untuk Anak, Pentingkah?

Prinsip kedua adalah Helpful, apakah bisa membantu orang yang membacanya? Sebelum mengetik apabila ingin memberikan nasehat sekalipun sebaiknya bisa secara langsung kepada yang bersangkutan atau dengan kata lain DM atau japri saja.

Selanjutnya adalah Inspiring atau menginspirasi.Contohnya bagaimana cara bersedekah agar lebih berkah. Meski konten sangat menginspirasi sekali tetapi ada saja kadang yang dari kita suka bilang apaan sih riya atau sombong sekali.

“Contohnya itu teman-teman juga jangan sampai komentar kita yang tadinya tulisan atau pesannya kontennya berniat untuk menginspirasi dalam kebaikan, kita malah dijulidin jangan sampai kayak gitu ya teman-teman. Kalau ada konten yang terlihat menginspirasi maka kita beri komentar dengan yang positif saja,” jelasnya.

Prinsip selanjutnya adalah Necessary. Wicha mencontohkan sebuah konten yang diposting Kementerian Komunikasi dan Informatika mengenai atlet nasional yang sedang berjuang di Pekan Olahraga Nasional (PON). Isi pesan tersebut sebenarnya mengharapkan sebuah doa dan dukungan untuk para atlet yang akan bertanding. “Ternyata bukannya malah mengapresiasi malah dikomentari negatif,” katanya.

Yang terakhir adalah prinsip Kind atau kebaikan apakan komentar yang kita ungkapan berisi kebaikan karena kata-kata yang baik itu menyejukkan.

Selain Wischa juga hadir pembicara lainnya yaitu Anggie Setia Ariningsih, CEO Tech Company, Lalu Nurul Yaqin, Ph.D, Direktur LPPM UGR Kabupaten Lombok Timur dan Nurul Amalia PRamugari Saudia Airlines, Digital Content Creator dan Forex Trader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.