Tips Menjaga Rekam Jejak Digital di Dunia Maya

pixabay by succo

SAAT menggunakan media sosial, seringkali orang tidak sadar mengunggah berbagai hal yang bisa merugikan dirinya. Mereka tidak sadar bahwa setiap yang diunggah di media sosial akan menjadi jejak digital.

“Iya jadi rekam jejak digital adalah jejak data yang kita buat dan kita tinggalkan ketika menggunakan perangkat digital,” ujar Managing Director PT Astrindo Sentosa Kusuma, Astried Finnia dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital wilayah Paniai, Papua, Selasa, (19/10/2021).

Ia memaparkan bahwa jenis rekam jejak digital sendiri sangatlah beragam. Menurut Astried, rekam jejak digital bukan hanya postingan di media sosial, tapi juga pencarian di Google, daftar riwayat di Youtube, riwayat ojek online, dan pebelian di marketplace.

“Lalu rekam jejak digital juga bisa berasal dari games online yang dimainkan, apps yang diunduh, musik online yang diputar, situs web yang dikunjungi, dan berbagai lainnya,” ujar Astried.

Oleh sebab itu ia mengingatkan untuk tidak boleh abai terhadap jejak digital yang ditinggalkan saat mengakses internet. Untuk itu ia juga menyarankan agar jejak digital yang ditinggalkan tidak berdampak negatif.

Memahami Sikap Toleransi di Ruang Digital

“Makanya pertama itu memeriksa jejak digital. Apabila terdapat jejak digital yang kurang baik, sebaiknya segera hapus atau sembunyikan,” kata Astried.

Kemudian, ia juga menyarankan untuk bisa lebih bijak dalam menulis atau mengunggah. Astried mengatakan bahwa diperlukan pemikiran yang matang sebelum menulis atau mengunggah apapun ke internet.

“Perhatikan perangkat mobil. Pejari aturan privasi di dalam perangkat tersebut kemudian pastikan tidak mengizinkan aplikasi yang akan menarik data pribadi tanpa sepengetahuan diri sendiri,” ujar Astried.

Lebih lanjut, ia menyarankan untuk lebih membangun citra yang postif. Artinya gunakan akses internet untuk hal yang bisa lebih bermanfaat bagi orang banyak.

Dalam webinar kali ini, ada juga Ody Waji, CEO Waji Travest, Maria Kobepa, Asisten Pengacara, dan  Ainun Auliah sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.