Literasi Digital Bisa Tingkatkan Toleransi Keberagaman di Indonesia

Seorang umat Hindu diperiksa suhu tubuhnya oleh petugas kepolisian sebelum memasuki area pura untuk melakukan ritual melukat atau bersuci saat perayaan Banyu Pinaruh di Pura Tirta Empul, Kabupaten Gianyar, Bali, 5 Juli 2020. Pihak pengelola pura dari Desa Manukaya Let bekerjasama dengan kepolisian menerapkan protokol kesehatan pencegahan virus corona (Covid-19) secara ketat seperti mencuci tangan, pengecekan suhu tubuh dan penerapan jaga jarak fisik. (Johannes P. Christo)

GIANYAR – Secara bijak, teknologi digital dapat difungsikan menjadi sesuatu yang berdampak baik bagi masyarakat. Media sosial bisa menjadi komunikasi interagama yang mendukung demokrasi dan toleransi di Indonesia.

“Kalau kita berbicara mengenai toleransi, kita juga berbicara mengenai bagaimana pola pikir seseorang terhadap penerimaan keberagaman,” ucap Ni Nyoman Clara Lystia Dewi, Head of Communication at BASAbali Wiki, saat menjadi pembicara dalam Webinar di wilayah Kabupaten Gianyar, Bali, Jumat (25/6/2021).

Menurut pemaparan Ni Nyoman Clara Lystia Dewi, data UNICEF menyebutkan sebanyak 30 juta anak Indonesia saat ini menggunakan internet. Internet dapat mempengaruhi pola pikir, sikap, dan perilaku anak.

Lanjutnya, kebebasan informasi yang tersebar di internet membuat anak-anak semakin berpikir kreatif. Media sosial dan internet itu sangat bisa membantu bagaimana seseorang bisa berpikir mengenai keberagaman. Membuat anak muda menganggap bahwa media sosial adalah sarana mereka untuk berkomunikasi dengan orang dari agama, suku, dan bangsa yang berbeda. Maka dari itu, peranan media sosial juga penting untuk membangun kerukunan.

“Adanya literasi digital juga penting agar masyarakat lebih berhati-hati dalam menerima atau meneruskan berita. Dalam rangka memperkokoh kerukunan internal antar umat beragama,” ujar Clara.

Menurut Clara, masyarakat tidak boleh melupakan pilar yang membentuk kebhinekaan itu, yakni menghargai, toleransi, kemajemukan, dan tenggang rasa. Dengan memanfaatkan sosial media berlandaskan bhinneka tunggal ika, maka akan mendukung perdamaian.

Di era ini, media sosial menjadi sesuatu yang digandrungi anak muda karena memiliki sisi positif. Di antaranya menambah pengetahuan, memudahkan sosialisasi, membangun usaha/bisnis. Tutur Clara, meski tingkat literasi Indonesia terendah di dunia, memungkinkan masyarakat Indonesia mengalami transformasi gaya membaca, dari buku ke media sosial.

Media sosial dalam konteks demokrasi banyak menyebabkan perpecahan karena tidak digunakan secara bijak. Seperti, beredarnya hoaks menjelang pemilu yang menjatuhkan satu pihak tanpa melakukan pengecekan kembali apakah postingan tersebut valid atau tidak.

Webinar di Kabupaten Gianyar, Bali ini menghadirkan beberapa pembicara di antaranya, Richy Hendra (Senior Security Engineer at Maxplus), Kelly Oktavian (Chief Commercial Officer Riuh Renjana), I Putu Gede Abdi Sudiatmika (Head of Academic ITB STIKOM Bali Kampus Jimbaran), Ni Nyoman Clara Listya Dewi (Head of Communication at BASAbali Wiki), dan Marizka Juwita.

Program ini untuk mewujudkan paham Literasi Digital pada masyarakat Indonesia berlandaskan 4 pilar, yaitu Digital Ethics, Digital Skills, Digital Culture, dan Digital Safety. Program kerja sama Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dengan Siberkreasi menargetkan 100.000 orang terliterasi digital agar Indonesia #MakinCakapDigital.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari lembaga dan komunitas yang menjadi agen pendidik literasi digital. Diselenggarakan melalui webinar berbasis virtual di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten seluruh Indonesia. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.