Yuk Sadari, Dunia Digital adalah Ruang Heterogen dan Mulltikultur

pixabay by kreatikar

MULTIKULTURALISME ruang digital menjadi penting karena pada hakekatnya Indonesia adalah sebuah negara yang heterogen yang terdiri dari banyak suku-suku bangsa dan bahasa.

Menurut Tiara Maharani, penulis dan koresponden Indonesia untuk TTG Asia dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Jembrana, Bali, Kamis 30 September 2021, ruang digital menjadi tempat bertemunya beragam orang dari segala penjuru dunia dengan beragam adat budaya dan latar belakang.

“Di Indonesia sendiri saja ada 13.046 pulau dengan 1.340 suku bangsa dan 700 bahasa daerah, dengan keragaman ini bayangkan kalau tanpa sebuah literasi, filosofi yang kokoh maka akan terjadi konflik,” ujar Tiara Maharani dalam webinar yang dipandu oleh Tony Thamrin ini.

Lebih lanjut, kata Tiara, kondisi keragaman di atas hanya berasal dari Indonesia saja, sementara ruang digital bersifat borderless yang memungkinkan orang-orang dari negara lain ikut aktif berpartisipasi. Sehingga keragaman di dunia digital semakin luas lagi.

“Bayangkan dengan suku bangsa seluruh dunia yang bertemu dengan negara lain, semuanya bertemu di ruang digital dan melebur. Sehingga harus dipahami bahwa keberagaman ini nyata dan ruang heterogen bukan hanya sebuah ada di ruang nyata dan bukan hanya sebuah slogan milik Indonesia Bhinneka Tunggal Ika saja,” imbuh Tiara.

Selain itu pemahaman akan multikultural ini juga penting untuk menghalau kebingungan akan disrupsi budaya dari dunia digital dengan masuknya budaya asing melalui konten yang dikonsumsi di ruang digital.

“Semakin banyak konten yang kita konsumsi jadi kita tidak sadar siapa sih kita ini karena banyaknya budaya asing dan budaya baru yang dan pertemuan dari berbagai suku yang berbeda membuat kita tanpa sadar mempengaruhi kita pada akhirnya kita menjadi sosok yang asing yang bukan diri kita yang bisa membuat kita kehilangan karakter dan ke-Indonesiaan kita,” beber Tiara.

Begini Peran Komunitas Akademik dalam Pendidikan Era digital

Semua beragam budaya itu dikatakan Tiara memiliki kelebihan, kekurangan dan keunikan terrsendiri. Kelebihan ini harus dijadikan sebuah kekayaan dan kita juga harus bisa mengikis konten-konten yang  melahirkan kecurigaan, kecemburuan, permusuhan dan kebencian itu yang biasa terjadi di dunia digital.

Tiara juga mengingatkan lagi bahwa Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan kita untuk memahami keanekaragaman. Memahami multikulturalisme dalam ruangan digital berarti menghargai keragaman atau kemajemukan. Sikap menghargai kemajemukan ini bisa kita praktekkan dalam keseharian kita.

Misalnya kita bertetangga bersosialisasi di lingkungan rumah dengan menerapkan etika bersopan santuan antar tetangga dan hal ini kita bawa di ruang digital. “Meskipun tetangga memilki sikap berbeda dengan kita yang katakanlah tak sesuai dengan yang kita inginkan tetapi dalam keseharian kita pasti tetap sopan, begitu juga yang harusnya kita lakukan di ruang digital, menghargai orang lain yang sesame pengguna ruang digital,” katanya.

Selain Tiara juga hadir para pembicara lain yaitu Alaika Abdullah, Virtual Assistant & Digital Content Creator, I Kade Joni Asmara Adi Putra, Founder CV Saraswati 108, Sariasih Grosir Bali Oxygen Supply dan Bunga Harum Dani sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (KANALBALI/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.