Buat Terobosan, 2 LSM Bakal Gunakan Dana Swakelola untuk Penanggulangan AIDS di Denpasar

Made Suprapta selaku Technical Officer Indonesia AIDS Coalition (IAC) pada sosialisasi di Denpasar Kamis (1/12/2022) - RFH

DENPASAR, kanalbali.id – Dua lembaga swadaya masyarakat di Denpasar, yakni Yayasan Gaya Dewata (YGD) dan Spirit Paramacita (YSP), telah mengajukan proposal untuk program penanggulangan HIV-AIDS di Denpasar.

Langkah ini merupakan suatu terobosan karena selama ini pengelolaan anggaran APBD sepenuhnya dilakukan oleh Dinas Kesehatan bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Denpasar.

“Realisasinya nanti di tahun anggaran 2024, sekarang kita masukkan dalam perencanaan anggaran,” kata  Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Denpasar dr AA Ngurah Gede Dharmayuda di Denpasar, Kamis (1/12/2022).

BACA JUGA: Case Closed Rayakan Ultah, Ponglik Kulik Kisah Menteri Bintang Puspayoga

Adapun dalam proposal yang diajukan, YGD akan melakukan pelatihan berperspektif kesetaraan gender untuk petugas kesehatan untuk menekan stigma dan diskriminasi. Sedang YSP mengajukan program penjangkauan untuk Orang dengan HIV (ODHIV) yang putus obat.

Pengelolaan dana swakelola itu sendiri terbuka peluangnya setahun yang lalu  setelah pemerintah mengubah  Peraturan Presiden (Perpres) No. 16/2018 menjadi Perpres No. 12/2021 tentang pengadaan barang dan jasa pemerintah (PBJ).

Sosialisasi dana swakelola di Denpasar, Kamis (1/12/2022) – IST

Perpres tersebut kemudian dibuat turunannya oleh lembaga pengadaan barang dan jasa pemerintah (LKPP) dengan peraturan LKPP No. 3/2021 yang memberikan ruang bagi Organisasi Masyarakat terlibat dalam proses pembangunan dengan memperbolehkan menggunakan dana pemerintah melalui skema Swakelola Tipe 3.

“Kami menangkap peluanga ini terutama karena makin menurunnya dana dari lembaga donor. Dengan dana APBD, kita harapkan ada keberlanjutan proogram penanggulangan AIDS,” kata  Made Suprapta selaku Technical Officer Indonesia AIDS Coalition (IAC) yang mendorong akses untuk dana ini di Kota Denpasar.

Pendanaan program penanggulangan HIV-AIDS di Bali diawal penemuan kasusnya pada tahun 1987 sampai sekitar tahun 2013 hampir 95% didanai oleh donor asing seperti USAID dan AusAID melalui skema G to G.

Setelah tahun 2013 pendanaan donor asing secara nasional hanya menyisakan dukungan dari The Global Fund, membiayai kombinasi pencegahan AIDS, Tuberkulosis dan Malaria yang sering disingkat GFATM. (kanalbali/RFH)

Apa Komentar Anda?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.