Tekan Stigma dalam Pencegahan HIV, Peringatan Hari Kondom Internasional Digelar di Bali

Seminar dalam rangka peringatan Hari Kondom Internasional di Bali - RFH
Seminar dalam rangka peringatan Hari Kondom Internasional di Bali - RFH

DENPASAR, kanalbali.id Sejumlah kegiatan digelar di Bali pada Jumat (14/2/2025) serangkaian peringatan Hari Kondom Internasional (HKI). Acara-acara itu bertujuan untuk mengurangi stigma atau tabu terhadap kondom sebagai alat untuk melakukan pencegahan HIV AIDS.

Kepala Biro Asia AIDS Healthcare Foundation (AHF) Dr. Chhim Sarath menyatakan, stigma budaya dan kurangnya pendidikan terus menghalangi jutaan orang untuk mengakses kondom.

HKI kata dia adalah pengingat bahwa hambatan-hambatan ini harus diatasi dengan pendidikan yang luas dan memastikan kondom diperlakukan sebagai sumber daya kesehatan masyarakat yang penting.

“Jadi kondom bukan barang mewah karena kondom tetap menjadi metode yang paling hemat biaya yang kita miliki untuk melindungi diri dari HIV dan IMS,” katanya dalam seminar yang digelar bersama Yayasan Kerti Praja, Bali.

BACA JUGA: HIV Masih Jadi Ancaman, Perlu Sinergi Semua Kalangan untuk Pencegahan

Dipilihnya Bali sebagai tempat acara karena keyakinannya bahwa Bali cukup terbuka untuk melihat permasalahan HIV ini sebagai masalah kesehatan yang harus segera diatasi.

Ia mengungkapkan pengalamannya di Kambodja dimana penanganan HIV AIDS sangat terlambat dan menyebabkan tingginya angka kematian. Hal itu karena kurangnya pencegahan dan pelaporan kasus ketika pasien sudah berada di fase AIDS.

. Kepala Biro Asia AIDS Healthcare Foundation (AHF) Dr. Chhim Sarath
. Kepala Biro Asia AIDS Healthcare Foundation (AHF) Dr. Chhim Sarath (kanan) saat berdikusi dengan wartawan serangkaian Hari Kondom Internasional – IST

Sementara Asep Eka Nur Hidayat, Country Program Manager, AHF Indonesia mengingatkan kembali, bahwa di bali pada tahun 2006 telah dibuat adanya komitmen Sanur. Salah-satunya adalah komitmen untuk mendorong penggunaan kondom di kalangan kelopok beresiko tinggi dalam penularan HIV.

“Kondom dan pencegahan IMS memberikan perlindungan ganda dalam pencegahan HIV, IMS, dan kehamilan yang tidak direncanakan. Kami berkomitmen untuk mengikuti rencana dan kebijakan Pemerintah Indonesia serta terus berjuang melawan hambatan pencegahan yang dialami oleh pasien dan pasangannya dengan perhatian dan sensitivitas yang tinggi,” sebutnya.

Penyarikan Agung MDA Bali, Dr. Dewa Nyoman Rai Asmara Putra mengakui, sampai saat ini masalah kondom masih menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan secara terbuka dalam masyarakat.

Hal ini terkait norma-norma budaya Bali yang melarang hubungan seks di luar Lembaga pernikahan. Dalam KUHP Indonesia pun terdapat ancaman pidana bila terjadi hubungan semacam itu.

Namun, kata dia, bukan berarti sosialisasi kondom tak bisa dilakukan, khususnya untuk kelompok-kelompok yang berisiko tinggi dalam mata rantai penularan HIV.

“Strategi ini yang harus disinkronkan. Jangan hanya begitu saja membagikan kondom, tapi bagaimana melihat sebagai bagian dari strategi pencegahan HIV,” tegasnya.

Jumlah kasus HIV di Bali sendiri secara akumulatif sejak 1987 sudah mencapai 16.427 kasus dan sebagain besar terjadi di Denpasar. Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar dr. Anak Agung Ayu Agung Candrawati mengakui, pencegahan penularan HIV di kota Denpasar yang menjadi penyumbang terbesar kasus HIV di Bali belumlah maksimal.

Terbukti pada tahun 2024 masih terdapat 800 temuan kasus penularan yang baru. “Separoh dari yang ditemukan sudha berada dalam fase AIDS,” sebutnya.

Di sisi lain, pelayanan untuk pencegahan dan penanganan kasus HIV di Denpasar sudah sangat baik dimana terdapat 33 layanan untuk Voluntary Consulting Tes (VCT) dan berbagai layanan lainnya.(kanalbali/RFH)

 

Apa Komentar Anda?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.