Jangan Asal Berselancar di Internet, Jejak Anda Sulit Dihapus

pixabay by Anrita1705

JEJAK digital digital atau footprint tidak bisa disepelekan untuk setiap pengguna internet. Karena setiap penggunanya bisa meninggalkan jejak digital yang baik dan positif serta jejak digital yang berisi data pribadi sangat rawan disalahgunakan.

Hal itu dikatakan oleh Sofia Sari Dewi, Fashion Designer, Content Creator, Clozette ID Ambassador dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kota Denpasar, Bali, Rabu 13 Oktober 2021.

“Jejak digital sangat penting. Kalau tidak dikelola dengan benar bisa jadi berbahaya dan merugikan, terutama jejak digital di media sosial. Untuk itu jika kita ingin berbuat sesuatu di ruang digital sebaiknya berpikir dahulu sebelum terlanjur meninggalkan jejak yang tidak akan hilang meski setelahnya kita hapus,” ujar Sofia Sari Dewi dalam webinar yang dipandu oleh Eddie Bingky ini.

Lebih lanjut, Sofia menjelaskan bahwa jejak digital atau digital frame adalah jejak data yang muncul ketika seseorang mempergunakan internet di perangkat komputer atau laptop, smartphone dan lainnya. Sumbernya pun banyak semisal dari situs yang dikunjungi, email yang dikirimkan dan informasi lain yang diunggah ke berbagai layanan online.

Sofia mengatakan, jejak digital terbagi dua, jejak aktif ataupun pasif. Untuk jejak digital pasif, merupakan rekam aktivitas yang tidak kelihatan di permukaan, yang bisa melihat cuma ahli IT saja.

“Pasif itu jejak yang tanpa sadar ditinggalkan oleh pengguna internet contohnya alamat IP, riwayat pencarian dan  lokasi browsing. Sementara yang aktif adalah jejak yang sengaja disebar oleh pengguna internet supaya terlihat publik contoh email, unggahan di blog, ataupun status di sosial media,” jelasnya lagi.

Tips Gunakan Bahasa Baik dan Benar di Dunia Digital

Selain jejak digital, ada juga yang dinamakan identitas digital yang merupakan cara elektronik untuk mengidentifikasi seseorang. Di dalamnya terdapat sertifikat yang berisi kunci umum yang dapat dilihat dan kunci pribadi yang tidak terlihat.

Hal-hal yang dinilai sebagai identitas digital adalah who you are, what you know,  what you have dan what you share. Untuk itulah kita perlu literasi digita agar kita bisa berpikir dulu saat mendapatkan berita, mengolah dulu apakah ini beritanya masuk akal atau tidak.

“Cek dulu ke media massa yang terpercaya kalau di situ nggak ada beritanya kemungkinan itu hoax jangan disebarkan. Jadi kita juga smart dalam memakai Smartphone, tidak cuma phone nya saja yang smart tapi kita juga harus jadi smart netizen,” kata Sofia.

Selain Sofia juga hadir pembicara lainnya yaitu Bagus Putu Ea Wijaya, S.Kom, Guru SMK TI Bali Global Denpasar, Chris Jatender Kaprodi IT STTI dan Eryvia Maronie sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.