DENPASAR, kanalbali.id – Angka Partisipasi Kasar Pendidikan Tinggi (APK Dikti) di Indonesia, termasuk di Bali masih rendah hanya di kisaran 35 persen dari lulusan SMA sederajat.
Hal ini menjadi salah-satu alasan ITB STIKOM Bali sangat bersemangat mengembangkan program kuliah sambal magang di Luar Negeri (LN).
“Mestinya minimal nanti bisa 60 persen sebagai tolok ukur kesejahteraan sebuah bangsa,” kata Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan di sela pelepasan mahasiswa peserta program magang di Jepang, Rabu (7/1/2026).
Alasan utama rendahnya APK Dikti, jelas dia, utamanya adalah masalah finansial dari orang tua.
Dengan program ini, mahasiswa tidak perlu memikirkan biaya kuliah karena mereka mendapatkan uang saku selama menjalani kuliah dan malahan bisa menabung untuk dibawa pulang.
Bagaimana dengan biaya keberangkatannya?. “Kami menyediakan pinjaman untuk mahasiswa yang bisa dicicil selama masa kuliah,” jelasnya.
Keuntungan dengan mengikuti program ini tentunya adalah pengalaman internasional dalam berinteraksi dengan mahasiswa dari negara-negara lain.
Khusus untuk di Bali, kendala calon peserta magang adalah sulitnya mendapat izin orang tua karena kekhawatiran akan sulit untuk menjaga langsung anaknya.
Menurut Dadang, pandangan ini harus diubah karena dengan alat komunikasi yang ada saat ini maka orang tua setaip saat dapat berinteraksi dengan putra-putrinya.
Adapun dalam acara pelepasan, ITB STIKOM Bali melepas tiga mahasiswa. Yakni, Ni Kadek Anita Setyari, Tarsisius Danrianus Tupen Lanan, dan Ni Made Ratih Purwasih.
Selain program magang, ITB STIKOM Bali juga menyiapkan program lain untuk mendorong peningkatan APK Dikti. Antara lain dengan memfasilitasi program Kartu Indonesia Pintar (KIP) jenjang Kuliah, program Beasiswa dari Yayasan dan program 1 Keluarga 1 Sarjana Pemprov Bali. ( kanalbali/RFH )


