Bertahun-tahun kemudian saya membuka kembali akun Facebook lama. Saya memandang cukup lama dua kata yang pernah saya tulis dengan keyakinan penuh: Calon Presiden. Saya tidak menghapusnya. Saya membiarkannya tetap ada.
oleh Angga Wijaya
BUKAN sebagai kenangan yang membanggakan. Melainkan sebagai pengingat bahwa saya pernah hidup di dalam sebuah kenyataan yang terasa begitu meyakinkan, tetapi ternyata bukan kenyataan yang dibagikan bersama.
Dan mungkin, justru dari situlah perjalanan saya memahami skizofrenia benar-benar dimulai. Saya sering bertanya kepada diri sendiri, kapan sebenarnya saya mulai sakit? Apakah ketika saya menulis “Calon Presiden” di Facebook?
Ataukah jauh sebelum itu, ketika pikiran mulai menyusun hubungan-hubungan yang sesungguhnya tidak pernah ada? Saya tidak pernah menemukan jawabannya. Gangguan jiwa tidak selalu datang seperti gempa bumi. Ia lebih sering menyerupai air pasang. Mula-mula hanya membasahi telapak kaki. Hampir tidak terasa. Lalu perlahan naik hingga akhirnya kita sadar bahwa daratan yang tadi dipijak telah berubah menjadi lautan.
Begitulah yang saya alami. Tidak ada satu pagi ketika saya bangun lalu berkata, “Hari ini saya akan mengalami waham.” Yang ada hanyalah keyakinan-keyakinan kecil yang tumbuh sedikit demi sedikit.
Saya merasa lebih peka. Lebih mampu menangkap tanda-tanda. Lebih mengerti arah peristiwa dibandingkan orang lain. Segala sesuatu tampak saling berkaitan.
Sebuah berita politik, percakapan di warung kopi, lagu yang diputar di radio, bahkan tatapan orang yang berpapasan di jalan, semuanya seolah mengandung pesan yang ditujukan kepada saya. Sekarang saya tahu bahwa itu adalah gejala psikosis. Namun ketika mengalaminya, saya merasa justru sedang melihat kenyataan yang sesungguhnya.
Saya kemudian memahami mengapa banyak orang dengan skizofrenia menolak ketika dikatakan sedang sakit. Bukan karena keras kepala. Bukan pula karena tidak mau menerima ookenyataan. Masalahnya adalah, kenyataan yang mereka alami memang berbeda.
Saya pernah berada di sana. Karena itu saya tidak pernah marah kepada diri saya yang dahulu. Saya justru merasa iba. Bayangkan jika seluruh dunia berkata bahwa Anda keliru, sementara seluruh pengalaman batin Anda mengatakan bahwa Andalah yang benar. Di situlah kesepian itu bermula.
Bagi keluarga, teman, atau tenaga kesehatan, saya adalah seseorang yang mengalami gangguan jiwa. Bagi diri saya sendiri saat itu, saya adalah orang yang sedang memahami sesuatu yang tidak dipahami orang lain. Perbedaan cara memandang inilah yang sering membuat komunikasi menjadi begitu sulit.
Kini saya mengerti mengapa psikiater lebih banyak mendengarkan daripada berdebat. Mengapa perawat jiwa berusaha menenangkan, bukan memaksa. Mengapa keluarga yang sabar sering kali lebih membantu daripada seratus argumen yang paling logis.
Sebab ketika seseorang sedang hidup di dalam waham, logika tidak selalu menemukan jalan masuk. Yang lebih dulu sampai adalah rasa aman. Baru setelah itu kenyataan perlahan dapat diterima kembali.
Saya beruntung. Saya bertemu dokter yang baik, memiliki orang-orang yang tetap percaya bahwa saya bisa pulih. Dan saya menemukan dunia menulis sebagai cara untuk menyusun kembali kenyataan.
Peningkatan Infrastruktur Teknologi Digital Mampu Meningkatkan Promosi Wisata dan Produk Lokal
Setiap kali menulis, saya belajar membedakan antara pengalaman dan penafsiran. Saya belajar memilih kata dengan hati-hati. Saya belajar memeriksa kembali apakah sesuatu benar-benar terjadi atau hanya saya kira terjadi.
Tanpa saya sadari, menulis menjadi latihan untuk kembali berpijak pada kenyataan. Barangkali karena itu saya terus menulis. Bukan hanya untuk menghasilkan buku atau artikel, melainkan untuk menjaga percakapan dengan diri sendiri.
Ada yang berubah setelah saya melewati semua itu. Saya menjadi lebih pelan ketika menilai orang lain. Jika dahulu saya mudah mengatakan seseorang aneh, sekarang saya memilih bertanya lebih dulu; pengalaman apa yang sedang ia jalani?
Antropologi pernah mengajarkan saya bahwa setiap tindakan manusia memiliki konteks. Skizofrenia mengajarkan pelajaran yang sama, tetapi dengan cara yang jauh lebih personal. Saya belajar bahwa di balik perilaku yang tampak ganjil, sering kali ada penderitaan yang tidak terlihat.
Di balik kemarahan, mungkin ada ketakutan. Di balik kecurigaan, mungkin ada kecemasan. Di balik waham, ada seseorang yang sedang berusaha memahami dunia dengan otak yang tidak lagi bekerja sebagaimana biasanya.
Kesadaran itu membuat saya tidak lagi tertarik memberi label kepada manusia. Saya lebih ingin mendengarkan kisahnya. Beberapa tahun lalu, saya mungkin berharap skizofrenia benar-benar hilang dari hidup saya.
Hari ini harapan saya berubah. Saya tidak lagi meminta masa lalu dihapus. Saya hanya berharap diberi kejernihan untuk mengenali diri sendiri. Saya tetap minum obat, tetap mengunjungi psikiater, dan tetap bermeditasi.
Bukan karena saya kalah. Melainkan karena saya ingin tetap tinggal di dunia yang dapat saya bagi bersama orang lain. Di dunia inilah saya dapat menulis. Di dunia inilah saya dapat mencintai.
Dan di dunia inilah saya akhirnya memahami bahwa kesehatan jiwa bukan sekadar tidak adanya penyakit, melainkan kemampuan untuk kembali menjalin hubungan, dengan kenyataan, orang lain, dan dengan diri sendiri.
Beberapa waktu lalu saya kembali membuka akun Facebook lama. Saya sengaja mencarinya. Di sana masih tersimpan foto-foto yang buram, status-status yang canggung, dan jejak seorang lelaki yang pernah percaya bahwa dirinya akan menjadi presiden.
Saya membaca semuanya perlahan. Lalu saya tersenyum. Bukan karena lucu, melainkan karena saya tahu lelaki itu telah menempuh perjalanan yang sangat panjang untuk bisa sampai di titik hari ini.
Saya tidak menghapus tulisan “Calon Presiden” itu. Saya membiarkannya tetap ada. Ia bukan monumen kebanggaan. Ia juga bukan aib yang harus disembunyikan. Ia adalah pengingat bahwa manusia dapat kehilangan kenyataan, tetapi juga dapat menemukannya kembali.
Saya sering membayangkan seandainya saya tidak pernah mengalami skizofrenia. Mungkin saya akan menyelesaikan kuliah tepat waktu, mngkin saya akan bekerja di tempat yang berbeda. Mungkin hidup saya akan lebih mudah.
Namun, setiap kali pikiran itu datang, saya selalu berhenti pada satu pertanyaan. Apakah saya akan menjadi orang yang sama? Saya tidak tahu. Yang saya tahu, penyakit ini telah mengubah cara saya memandang manusia.
Saya menjadi lebih sabar. Lebih pelan dalam memberi penilaian. Lebih berhati-hati ketika menyebut seseorang “aneh” atau “tidak masuk akal”. Karena saya pernah hidup di dalam dunia yang, bagi saya saat itu, terasa sangat masuk akal.
Sebagai penulis, saya percaya bahwa setiap pengalaman, seberat apa pun, selalu menyimpan kemungkinan untuk diubah menjadi makna. Bukan berarti kita harus bersyukur atas setiap penderitaan. Bukan. Ada rasa sakit yang memang tetaplah rasa sakit. Ada kehilangan yang tidak perlu dipuji.
Namun, manusia memiliki kemampuan yang luar biasa, yakni memberi makna pada apa yang dialaminya. Mungkin itulah yang sedang saya lakukan melalui tulisan ini. Saya tidak sedang meromantisasi skizofrenia. Saya tidak sedang mengatakan bahwa waham adalah sesuatu yang indah.
Waham telah membuat saya tersesat. Ia mengambil sebagian tahun-tahun terbaik dalam hidup saya. Ia membuat saya kehilangan banyak kesempatan. Tetapi ketika saya berhasil kembali, saya menemukan sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya; empati.
Saya menjadi lebih mampu memahami bahwa setiap orang sedang memikul sesuatu yang tidak selalu tampak di permukaan. Kini, jika ada yang bertanya apa cita-cita saya, jawabannya jauh lebih sederhana dibandingkan dahulu.
Saya tidak ingin menjadi presiden. Saya tidak ingin menjadi orang paling berpengaruh. Saya tidak ingin menjadi penyelamat dunia. Saya hanya ingin tetap sehat. Tetap dapat menulis. Tetap mampu membedakan mana kenyataan dan mana bisikan dari pikiran yang sedang lelah.
Saya ingin terus belajar menjadi manusia biasa. Sebab saya pernah kehilangan sesuatu yang paling mendasar dalam kehidupan: kemampuan mempercayai kenyataan yang dibagikan bersama. Ketika kemampuan itu kembali, saya merasa seperti pulang.
Andai hari ini Facebook meminta saya mengisi ulang kolom biodata, saya tidak akan lagi menulis “Calon Presiden.” Saya hanya akan menulis satu kata. Penulis. Barangkali itulah jabatan yang paling jujur yang pernah saya miliki.
Saya tidak memimpin sebuah negara. Saya tidak mengubah sejarah. Saya hanya berusaha merawat ingatan, menyusun pengalaman menjadi kata-kata, lalu membagikannya kepada orang lain dengan harapan sederhana; semoga ada seseorang yang merasa tidak lagi sendirian setelah membacanya.
Jika tulisan ini membuat satu orang lebih memahami skizofrenia, lebih berbelas kasih kepada penyintas, atau lebih berani mencari pertolongan ketika dirinya mulai goyah, maka pengalaman yang dahulu terasa begitu gelap tidak sepenuhnya sia-sia.
Saya pernah menjadi presiden. Setidaknya, di dalam kepala saya. Hari ini saya lebih bersyukur menjadi seorang penulis. Karena hanya sebagai penulislah saya dapat menceritakan perjalanan pulang dari dunia yang pernah saya yakini sebagai kenyataan. Skizofrenia, kawani saja. (Habis)
Baca Juga : Presiden di Dalam Kepala Saya (1)
*) Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai.


