Antropologi dan Diplomasi di Balik Makan Bersama

Ilustrasi makanan Nusantara.(Foto: Mufid Majnun/Unsplash)
Ilustrasi makanan Nusantara.(Foto: Mufid Majnun/Unsplash)

Ada utang budi di sana. Mungkin ini perasaan yang sangat pribadi. Tetapi semakin saya pikirkan, semakin saya merasa bahwa persoalan makan bersama sebenarnya tidak sesederhana perut yang lapar dan makanan yang tersedia di atas meja.

Oleh Angga Wijaya*

KEMARIN atasan sekaligus sahabat saya mengundang saya ke kedainya untuk makan siang bersama. Pagi-pagi, ia mengirim pesan tentang itu. Ia sedang mencoba menu sahabatnya yang baru berbisnis makanan laut (seafood). Pesan itu dilengkapi foto dan daftar menu yang membuat lidah berdecap.

Saya, dengan susah payah memilih diksi atau pilihan kata dalam kalimat pada pesan itu, meminta maaf karena belum bisa memenuhi undangannya. Hari itu, saya baru tidur dini hari, setelah semalaman menulis dan membaca buku yang belum sempat saya baca. Saya dalam kondisi mengantuk dan kurang tidur ketika teman saya mengirim pesan sekitar pukul 08.05 WITA.

“Ya, sudahlah. Semoga Anda sehat,” tulisnya kemudian. Ada nada kecewa di sana. Bukan apa-apa. Saya sejak lama kurang terbiasa memenuhi undangan makan bersama. Kalau ngopi, masih saya mau. Makan bersama, apalagi di tempat makan publik, rasanya bagi saya amat personal sifatnya.

Makan bersama, bagi saya, lebih cocok untuk pasangan dan keluarga. Kalau teman, saya agak enggan. Apalagi teman yang mentraktir.

Rasanya seperti membebani saya. Ada utang budi di sana. Mungkin ini perasaan yang sangat pribadi. Tetapi semakin saya pikirkan, semakin saya merasa bahwa persoalan makan bersama sebenarnya tidak sesederhana perut yang lapar dan makanan yang tersedia di atas meja.

Dalam antropologi, makanan hampir tidak pernah hanya perkara makanan. Manusia makan untuk hidup, tetapi cara manusia makan juga memperlihatkan bagaimana ia hidup bersama orang lain.

Siapa yang boleh makan bersama siapa, siapa yang menyediakan makanan, siapa yang duduk di tempat tertentu, siapa yang membayar, siapa yang mengundang dan siapa yang diundang, semuanya dapat mengandung makna sosial.

Makan bersama, dengan demikian, dapat menjadi sebuah bentuk diplomasi. Bukan diplomasi antarnegara yang mengenakan jas dan duduk di meja panjang dalam sebuah jamuan resmi. Ini adalah diplomasi sehari-hari. Diplomasi antara teman dengan teman, atasan dengan bawahan, tetangga dengan tetangga, keluarga dengan keluarga.

“Ayo makan.” Kalimat itu tampaknya sederhana. Tetapi di dalamnya ada tawaran untuk membangun sebuah hubungan.

Dalam banyak kebudayaan, makan bersama memang menjadi cara untuk menciptakan dan memperbarui ikatan sosial. Kita bisa melihatnya dalam berbagai tradisi makan bersama di Nusantara. Di Jawa ada kenduri. Di Bali ada magibung. Orang makan beramai-ramai, berbagi makanan dan ruang, sekaligus memperkuat hubungan sosial.

Di dalam praktik semacam itu, makanan tidak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari ritual sosial. Orang tidak sekadar memasukkan nasi dan lauk ke dalam mulut. Mereka berbagi ruang, waktu, perhatian, dan kehadiran.

Mungkin karena itu saya merasa makan bersama dengan teman berbeda dengan ngopi bersama teman. Ngopi terasa lebih ringan. Kita bisa duduk di warung, kedai kopi, atau tempat sederhana. Satu cangkir kopi bisa menemani percakapan berjam-jam. Tidak ada keharusan menghabiskan makanan dalam waktu tertentu. Tidak ada perasaan bahwa seseorang sedang memberikan sesuatu yang besar kepada kita.

Makan terasa lebih intim. Apalagi ketika seseorang mengatakan, “Saya traktir.” Di situlah persoalan saya muncul. Saya tahu, bagi banyak orang, traktir adalah bentuk kebaikan. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan mentraktir teman bisa menjadi ungkapan perhatian dan persahabatan. Seseorang mungkin hanya ingin mengatakan, “Hari ini biar saya yang membayar.”

Namun, bagi saya, pemberian semacam itu tidak pernah benar-benar netral. Ada sesuatu yang bergerak bersama makana, seperti rasa sungkan, rasa berutang, atau kewajiban untuk suatu hari membalas.

Dalam antropologi, hubungan pemberian memang sering dibicarakan sebagai hubungan timbal balik. Marcel Mauss, misalnya, dalam kajiannya tentang gift, menunjukkan bahwa pemberian tidak sesederhana memberi sesuatu lalu selesai. Pemberian dapat menciptakan hubungan sosial dan kewajiban untuk menerima serta membalas.

Tentu saya tidak sedang mengatakan bahwa teman yang mentraktir saya sedang membuat utang. Tidak sesederhana itu. Tetapi perasaan saya barangkali tumbuh dari kesadaran bahwa setiap pemberian memiliki hubungan sosial di belakangnya.

Karena itu saya bertanya-tanya; apakah makan bersama di restoran atau kedai merupakan bentuk baru dari budaya menjamu yang telah lama dikenal masyarakat Nusantara?

Dahulu, seseorang mungkin mengundang kita ke rumahnya. Ibu atau istrinya memasak. Keluarga ikut menyiapkan makanan. Kita duduk di ruang makan atau ruang keluarga. Makanan dimasak oleh orang-orang yang kita kenal. Ada proses yang berlangsung sebelum makanan sampai ke meja.

Kini kita bisa mengundang teman ke food court, warung, restoran cepat saji, atau kedai. Tinggal memilih menu, pesan, tunggu beberapa menit, makanan datang. Selesai.

Praktis, tetapi rasanya berbeda. Bukan berarti makan di rumah lebih asli dan makan di restoran lebih tidak asli. Kebudayaan selalu bergerak, masyarakat dan ruang sosial berubah. Cara manusia menyediakan makanan juga berubah.

Namun ada sesuatu yang hilang ketika makanan sepenuhnya menjadi barang yang dibeli. Di rumah teman, makanan dapat membawa jejak hubungan. Kita mungkin tahu siapa yang memasaknya. Kita melihat dapur. Kita mencium aroma masakan sejak pintu dibuka. Kita melihat anggota keluarga bergerak menyiapkan piring. Bahkan mungkin ada makanan yang tidak sempurna bentuknya, tetapi justru terasa lebih personal.

Di restoran, hubungan itu digantikan oleh transaksi. Kita membayar makanan. Pemilik restoran membayar pekerja. Pekerja menyediakan makanan. Semua berjalan dalam mekanisme ekonomi.

Tetapi manusia rupanya tidak pernah sepenuhnya puas dengan transaksi. Kita masih membutuhkan perjumpaan. Itulah sebabnya orang tetap berkata, “Ngopi yuk.” Bisa jadi yang kita cari sebenarnya bukan kopi. Kita mencari seseorang untuk duduk bersama.

Dalam kehidupan modern yang semakin individual, ajakan makan atau ngopi mungkin menjadi semacam perlawanan kecil terhadap kesendirian. Kita bisa mengirim pesan kepada seseorang dari tempat yang berbeda, mengirim foto makanan, bahkan mengirim makanan melalui aplikasi. Tetapi semua itu tidak sama dengan duduk berhadapan.

Ada tubuh di sana. Ada suara, jeda, tatapan, dan makanan yang dimakan bersama. Dan mungkin itulah yang membuat makan bersama menjadi semacam diplomasi. Kita tidak selalu membutuhkan meja perundingan untuk memperbaiki hubungan. Kadang kita hanya membutuhkan sepiring nasi.

Orang yang sedang berselisih bisa duduk bersama. Dua sahabat yang lama tidak bertemu bisa makan bersama. Seorang atasan dan bawahannya bisa berbicara tanpa suasana kantor. Dua orang yang berbeda pandangan dapat menemukan percakapan yang sebelumnya tidak mungkin terjadi. Makanan membuka ruang.

Namun, saya masih menyimpan kegelisahan kecil terhadap ajakan makan dari teman. Mungkin saya memang terlalu sensitif terhadap pemberian. Mungkin saya terlalu melihat makanan sebagai sesuatu yang personal. Atau mungkin saya masih membawa cara pandang lama bahwa makan bersama adalah bentuk kedekatan yang tidak bisa sembarangan diberikan kepada siapa saja.

Karena itu, ketika kemarin saya menolak undangan sahabat saya, mungkin yang saya tolak bukan makanannya. Saya hanya belum siap menerima sebuah bentuk kedekatan. Saya belum siap menerima traktiran.

Dan mungkin sahabat saya kecewa bukan karena saya tidak datang untuk mencicipi seafood temannya. Ia mungkin kecewa karena sebuah ajakan untuk duduk bersama tidak saya terima. Di situlah saya kemudian berpikir, bahwa barangkali diplomasi yang paling sederhana dalam hidup manusia memang bukan perjanjian, pidato, atau jabat tangan.

Barangkali ia adalah sepiring nasi. Kita duduk di hadapan orang lain, makan dari meja yang sama, berbicara tentang hal-hal yang penting maupun tidak penting, lalu pulang dengan hubungan yang sedikit berbeda dari ketika kita datang.

Dan mungkin, dalam kehidupan yang semakin membuat kita makan sendirian di depan layar, duduk semeja dengan orang lain adalah salah satu bentuk kebudayaan yang masih perlu kita pertahankan. ***

*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis yang tinggal di Denpasar, Bali. Ia pernah menempuh pendidikan Antropologi Budaya di Universitas Udayana dan aktif menulis esai, puisi, serta artikel jurnalistik. Sejumlah tulisannya terbit di berbagai media, antara lain KanalBali, Tatkala.co, dan Podiumnews.com. Ia telah menerbitkan sejumlah buku puisi dan esai.

Apa Komentar Anda?