Cinta itu tidak selalu hadir dalam kata-kata. Ia hadir dalam perjalanan menuju rumah sakit, dalam antrean panjang di poli, dalam obat yang harus diambil setiap bulan, dan dalam kesabaran menghadapi keadaan yang mungkin tidak selalu mudah.
Oleh Angga Wijaya*
SETIAP kali berobat ke Poli Psikiatri, saya selalu tertegun melihat orang tua yang mengantarkan anaknya untuk kontrol dan mengambil obat bulanan.
Mereka sering disebut caregiver. Istilah ini terdengar sederhana, tetapi pekerjaan di baliknya tidak sederhana. Mereka bukan sekadar menemani. Mereka merawat, mengingatkan minum obat, mengantar ke rumah sakit, mengawasi perubahan perilaku, menghadapi kekambuhan, sekaligus menjadi tempat pertama bagi anaknya ketika membutuhkan pertolongan.
Hari itu saya melihat seorang ibu tua mengantarkan anak perempuannya kontrol rutin. Saya sempat bertanya, mana anaknya. Ibu itu kemudian menunjuk seorang perempuan yang kira-kira berusia 35 tahun.
Saya memperhatikan keduanya. Seorang ibu yang sudah tua masih setia mengantar anaknya yang sudah dewasa. Bagi orang lain, mungkin pemandangan itu biasa saja. Tetapi bagi saya, ada sesuatu yang terasa sangat dalam. Ada cinta yang bekerja dalam diam.
Cinta itu tidak selalu hadir dalam kata-kata. Ia hadir dalam perjalanan menuju rumah sakit, dalam antrean panjang di poli, dalam obat yang harus diambil setiap bulan, dan dalam kesabaran menghadapi keadaan yang mungkin tidak selalu mudah.
Saya menemukan pemandangan serupa di Rumah Berdaya Denpasar, komunitas rehabilitasi psikososial di bawah naungan Dinas Sosial Kota Denpasar. Di sana saya melihat bagaimana orang tua tetap mendampingi anak-anak mereka yang mengalami gangguan jiwa.
Harapan mereka sebenarnya sederhana, anaknya pulih. Bukan selalu pulih dalam pengertian kembali seperti sebelum sakit. Mungkin cukup stabil, mampu menjalani kehidupan sehari-hari, bisa bersosialisasi, melakukan aktivitas, dan perlahan menjadi lebih mandiri.
Bagi sebagian orang, itu mungkin bukan pencapaian besar. Tetapi bagi keluarga ODGJ, kestabilan adalah sebuah pencapaian. Dari pemandangan-pemandangan itu, muncul pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya.
Bagaimana jika suatu hari caregiver tersebut sakit? Bagaimana jika ia terlalu tua untuk mengantar anaknya berobat? Bagaimana jika ia sudah tidak kuat berjalan? Dan bagaimana jika akhirnya ia berpulang? Siapa yang akan menjaga anaknya?
Pertanyaan ini bukan sesuatu yang terlalu jauh. Ia justru sangat dekat dengan keluarga yang selama bertahun-tahun menjadikan orang tua sebagai penyangga utama kehidupan ODGJ. Saudara mungkin bisa membantu. Keluarga besar mungkin dapat mengambil alih.
Tetapi tentu tidak selalu sama dengan orang tua yang selama bertahun-tahun setia mengantar anaknya kontrol, menempuh perjalanan jauh, menunggu di rumah sakit, memastikan obat tersedia, dan terus bertahan meskipun dirinya sendiri sudah lelah.
Orang tua memiliki jenis kesetiaan yang sulit dijelaskan. Mereka mungkin tidak memahami seluruh istilah psikiatri. Tidak semuanya mengetahui apa itu psikosis, relapse, atau rehabilitasi psikososial. Tetapi mereka tahu bahwa orang yang mereka rawat adalah anaknya.
Karena itu mereka datang lagi. Bulan berikutnya datang lagi. Dan bulan setelahnya datang lagi. Rutinitas tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi bagi sebuah keluarga bisa menjadi cara mempertahankan kehidupan.
Bukan Persoalan Individu
Di sinilah saya merasa persoalan ODGJ tidak cukup dilihat sebagai persoalan kesehatan individu. Ada persoalan keluarga dan sosial yang lebih besar. Kita tidak hanya perlu bertanya apakah seorang ODGJ mendapatkan obat. Kita juga perlu bertanya siapa yang memastikan obat itu diminum. Siapa yang mengantar kontrol, dan mendampingi ketika kondisi memburuk. Dan siapa yang akan mengambil alih ketika caregiver utama sudah tidak mampu?
Selama ini keluarga sering dianggap sebagai caregiver secara alamiah. Orang tua merawat karena mereka adalah ayah dan ibu. Tetapi menjadi orang tua tidak membuat seseorang kebal terhadap usia, penyakit, kelelahan, persoalan ekonomi, dan kematian.
Suatu hari mereka juga akan pergi. Karena itu, keberlanjutan perawatan ODGJ perlu dipikirkan sejak sekarang. Jangan sampai pengobatan terputus hanya karena orang tua yang selama ini menjadi pendamping utama sudah tidak mampu menjalankan perannya.
Pengobatan yang terputus dapat membuat kondisi kesehatan mental memburuk. Keluarga kembali menghadapi situasi yang mungkin lebih berat. ODGJ pun berisiko kehilangan kesempatan untuk mempertahankan kestabilannya.
Saya kira kita membutuhkan sistem yang lebih besar daripada satu keluarga. Keluarga tetap penting, bahkan sangat penting. Tetapi keluarga tidak seharusnya menjadi satu-satunya benteng. Ketika orang tua mulai menua, perlu ada perencanaan; siapa yang akan mengambil alih perawatan, bagaimana akses pengobatan tetap berlangsung, di mana ODGJ dapat memperoleh dukungan psikososial, dan bagaimana mereka bisa belajar hidup lebih mandiri.
Kemandirian bukan berarti ODGJ harus hidup tanpa bantuan. Kemandirian bisa berarti mampu mengurus diri, mengenali ketika kondisi mental mulai memburuk, meminta pertolongan, melakukan aktivitas sehari-hari, dan mengambil keputusan dalam batas kemampuannya.
Karena itu, rehabilitasi psikososial juga penting. Pemulihan tidak hanya berlangsung di ruang praktik dokter atau rumah sakit. Kehidupan seseorang berlangsung di rumah, lingkungan sosial, tempat kerja, komunitas, dan ruang publik.
Saya sendiri memahami persoalan ini bukan hanya sebagai pengamat. Saya pernah menjadi anak yang membutuhkan perawatan. Pada masa-masa awal ketika mengalami skizofrenia, ibu dan ayah saya sangat terpukul. Mereka mungkin tidak selalu memahami apa yang terjadi. Tetapi mereka tetap berada di sana.
Yang paling saya ingat bukan semua nasihat mereka, melainkan kehadiran mereka. Mereka ada ketika saya sedang berada dalam masa yang sulit. Kini mereka semua telah berpulang.
Saya tidak lagi bisa melihat mereka menunggu saya. Tidak bisa lagi mendengar kekhawatiran mereka. Tetapi cinta mereka tetap tinggal dalam ingatan. Saya membawa cinta itu sampai hari ini. Saya telah pulih, belajar mandiri, bekerja, menulis, dan terus berkarya. Ketika melihat orang tua lain mengantar anaknya berobat, saya seperti melihat kembali sebagian dari masa lalu saya. Saya melihat kecemasan dan juga harapan mereka. Dan saya melihat cinta yang bekerja tanpa banyak suara.
Karena itu, saya percaya cinta orang tua memang luar biasa. Tetapi cinta tersebut jangan dibiarkan bekerja sendirian. Orang tua juga membutuhkan dukungan. Mereka bisa lelah, sakit, dan tua. Dan pada akhirnya, mereka juga akan meninggal. Kita perlu memastikan bahwa ketika tangan orang tua tidak lagi mampu menggenggam tangan anaknya, ada tangan lain yang siap menyambut.
Bukan untuk menggantikan cinta orang tua. Tidak ada yang bisa. Melainkan untuk meneruskan apa yang telah mereka mulai, yakni, menjaga seorang manusia agar tetap memiliki tempat di dunia. Mungkin pertanyaan terbesar tentang ODGJ bukan hanya bagaimana membuat mereka pulih. Pertanyaan yang juga perlu kita jawab adalah; Siapa yang akan merawat mereka ketika orang yang selama ini mencintai dan merawat mereka sudah tidak ada?
Pertanyaan itu sebaiknya dijawab sebelum terlambat. Sebab cinta orang tua memang luar biasa. Tetapi masa depan seorang anak tidak boleh berhenti ketika orang tuanya sudah tidak mampu lagi menjaganya.
Denpasar, 3 Agustus 2026
*) Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai/artikel.


