Penelitian mengenai penggunaan smartphone dalam keluarga menunjukkan bahwa telepon genggam dapat menjadi bagian dari praktik kekerabatan.
Oleh Angga Wijaya*
DULU, merantau berarti pergi. Meninggalkan kampung halaman, keluarga, tetangga, dan segala sesuatu yang akrab. Orang pergi ke kota untuk mencari pekerjaan, sekolah, atau kehidupan yang lebih baik. Ketika berada jauh dari rumah, jarak terasa nyata. Kabar tentang keluarga harus ditunggu, sementara kerinduan mungkin disampaikan melalui surat.
Surat membutuhkan waktu. Seseorang menulis hari ini, tetapi orang di kampung mungkin baru membacanya beberapa hari kemudian. Kabar tentang ibu yang sakit, adik yang sekolah, atau ayah yang membutuhkan uang tidak datang seketika. Jarak geografis sekaligus menjadi jarak komunikasi. Merantau pada masa itu memiliki pengalaman keterpisahan yang lebih kuat.
Koster Optimis Pembangunan Jalan Tol Gilimanuk-Mengwi akan Berlanjut di 2025, Simak Alasannya
Sekarang keadaan berubah. Saya melihat para perantau di Denpasar hampir selalu lekat dengan telepon genggam. Di warung, tempat kerja, kamar kos, bahkan ketika berjalan di jalan, benda itu seolah tidak pernah jauh dari tangan. Panggilan telepon, video call, foto, pesan singkat, dan grup keluarga membuat kampung halaman selalu dapat dihubungi.
Seorang anak yang bekerja di Denpasar dapat melihat wajah ibunya pada malam hari. Orang tua di kampung dapat menyaksikan kehidupan anaknya melalui layar. Jika dulu perantau membawa kabar dari kampung ke kota, sekarang kampung halaman ikut berada di dalam telepon genggam.
Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian alat komunikasi. Dalam perspektif antropologi, teknologi perlu dilihat dari bagaimana ia masuk ke dalam hubungan sosial. Penelitian mengenai penggunaan smartphone dalam keluarga menunjukkan bahwa telepon genggam dapat menjadi bagian dari praktik kekerabatan.
Perangkat itu membantu mempertahankan hubungan, mengatur kehidupan keluarga, sekaligus menciptakan rasa dekat di antara orang-orang yang terpisah secara geografis.
BACA JUGA : Kaum Urban di Era Digital dan Beban Sandwich Generation
Karena itu, telepon genggam seorang perantau bukan sekadar benda elektronik. Fungsinya telah melebar menjadi penghubung antara kehidupan di kota dan kehidupan keluarga di kampung.
Antropologi tidak melihat perpindahan manusia hanya sebagai persoalan geografis. Migrasi berkaitan dengan hubungan sosial, ekonomi, kebudayaan, identitas, dan harapan. Merantau, dalam pengertian budaya, bahkan memiliki makna lebih luas daripada sekadar berpindah tempat. Keputusan meninggalkan kampung dapat didorong keinginan mengubah nasib sekaligus memenuhi kewajiban terhadap keluarga.
Di zaman telepon pintar, kedua kepentingan tersebut dapat berlangsung bersamaan. Perantau bekerja di Denpasar sambil mengikuti persoalan keluarga di kampung. Dari kamar kos, ia tetap dapat berbicara dengan orang tua. Dari tempat kerja, sebagian penghasilannya bisa dikirim ke rumah.
Dalam kajian migrasi, keadaan semacam ini dapat dibaca melalui konsep translocality. Konsep tersebut membantu memahami kehidupan yang tidak lagi terikat pada satu tempat. Perpindahan seseorang ke kota tidak serta-merta memutus hubungan dengan ruang asal. Sebaliknya, jaringan sosial, ekonomi, identitas, dan perhatian tetap bergerak di antara kedua tempat.
Perantau akhirnya hidup di antara dua ruang. Denpasar menjadi tempat tubuhnya berada, sementara kampung tetap menjadi ruang kekerabatan, ingatan, kewajiban, dan identitas. Keduanya bukan dunia yang sepenuhnya terpisah. Teknologi justru membuat hubungan di antara keduanya semakin rapat.
Keterhubungan tersebut paling mudah terlihat melalui telepon dan video call. Seorang perantau dapat mengetahui keadaan orang tua tanpa harus pulang. Wajah, suara, kamar kos, tempat kerja, bahkan makanan yang sedang disantap dapat diperlihatkan secara langsung. Video call bukan lagi sekadar percakapan, melainkan cara menghadirkan diri ketika tubuh tidak dapat hadir secara fisik.
Seorang anak tidak berada di ruang tamu rumah orang tuanya, tetapi wajahnya dapat muncul di layar. Sebaliknya, seorang ibu yang berada di kampung dapat melihat keadaan kamar kos anaknya. Tubuh terpisah, tetapi kehadiran tidak sepenuhnya hilang. Teknologi memungkinkan hubungan keluarga berlangsung melampaui batas geografis.
Kemudahan itu sekaligus membuat hubungan keluarga semakin intens. Panggilan dari ibu, pesan ayah, permintaan adik, atau percakapan di grup keluarga dapat masuk kapan saja. Persoalan yang dahulu mungkin menunggu sampai perantau pulang sekarang dapat disampaikan dalam hitungan detik.
Teknologi tidak hanya mengurangi jarak. Ia memungkinkan kewajiban keluarga menembus jarak. Hal ini penting karena merantau tidak otomatis membebaskan seseorang dari kehidupan keluarga. Dalam banyak masyarakat, seorang anak tetap memiliki tanggung jawab terhadap orang tua dan saudara meskipun sudah dewasa dan tinggal jauh dari rumah. Teknologi menyediakan sarana agar tanggung jawab tersebut dapat terus dijalankan.
Hal yang sama terjadi dengan uang. Dalam banyak keluarga, anak yang merantau bukan hanya orang yang pergi mencari kehidupan untuk dirinya sendiri. Keberadaannya di kota dapat menjadi bagian dari strategi ekonomi keluarga. Ia bekerja, menerima penghasilan, memenuhi kebutuhan hidup, lalu mengirim sebagian pendapatannya ke kampung.
Kiriman tersebut dapat digunakan untuk orang tua, biaya sekolah adik, perbaikan rumah, kebutuhan sehari-hari, atau keperluan keluarga lainnya. Dalam kajian antropologi migrasi, remitansi tidak hanya dipahami sebagai perpindahan uang. Di dalamnya terdapat perhatian, kewajiban, rasa berutang budi, harapan, dan hubungan timbal balik.
Karena itu, ketika seorang anak mengirim uang kepada orang tuanya setiap bulan, yang bergerak bukan hanya rupiah. Bersamaan dengan uang tersebut, berlangsung pula pemeliharaan hubungan kekerabatan.
Dalam konteks tertentu, perantau bahkan dapat dipandang sebagai investasi keluarga. Keluarga telah mengeluarkan biaya untuk membesarkan dan menyekolahkannya sampai mampu bekerja. Ketika memperoleh penghasilan, muncul harapan bahwa sebagian hasil tersebut akan kembali kepada keluarga. (kanalbali/AWJ)
*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis yang berasal dari Negara, Jembrana, Bali. Pernah belajar Antropologi Budaya di Universitas Udayana, ia menulis puisi, esai, dan berbagai tulisan tentang kebudayaan serta kehidupan sehari-hari. Sejak 2015, ia aktif sebagai jurnalis dan kembali menetap di Denpasar. Sejumlah bukunya telah diterbitkan oleh penerbit di Bali maupun luar Bali.


