Kaum Urban di Era Digital dan Beban Sandwich Generation

Kaum urban - Setengah limasore/Unsplash.com.
Kaum urban - Setengah limasore/Unsplash.com.

Teknologi digital membuat hubungan keberabatan semakin mudah dipelihara bahkan ketika seseorang harus merantau dan menjadi kaum urban. Sandwich generation pun terus berlangsung. 

oleh Angga Wijaya

MERANTAU  tidak selalu merupakan proyek individual. Keberhasilan seorang anak dapat menjadi keberhasilan keluarga, sementara penghasilannya menjadi sumber daya bersama. Seseorang menjadi kaum urban di kota besar untuk mencari nafkah, tetapi sebagian hasilnya mengalir kembali ke kampung.

Dari sini persoalan sandwich generation dimana orang harus mencari penghasilan untuk dirinya sekaligus membantu keluarga menjadi menarik. Seorang anak muda bekerja di Denpasar sambil membayar kos, makan, transportasi, dan kebutuhan pribadi. Mungkin ia sedang menabung untuk menikah, membeli rumah, atau membangun masa depan. Pada saat yang sama, orang tua masih membutuhkan bantuan dan adik mungkin belum mandiri.

Posisinya berada di antara dua tuntutan, yakni membangun kehidupan sendiri dan menopang keluarga asal. Persoalan tersebut tidak sepenuhnya dapat dijelaskan melalui ekonomi. Di dalamnya terdapat nilai kekerabatan dan moral tentang berbakti, membalas jasa orang tua, membantu saudara, dan menjaga keberlangsungan keluarga.

Fenomena ini juga tidak mengenal batas suku maupun agama. Orang Bali, Jawa, Sasak, Madura, Flores, Batak, dan kelompok etnis lainnya dapat mengalaminya. Keluarga dengan latar agama berbeda pun dapat berada dalam situasi serupa. Bentuk kewajibannya mungkin berbeda, tetapi posisi sosialnya sama: anak bekerja jauh dari rumah sekaligus tetap bertanggung jawab terhadap keluarga.

BACA JUGA: Kampung Halaman di Dalam Telepon Genggam

Teknologi membuat hubungan tersebut semakin mudah dipelihara. Uang dapat dikirim dalam hitungan detik, keputusan keluarga dibicarakan melalui grup, dan keadaan orang tua diperiksa lewat video call. Teknologi tidak menciptakan kewajiban kekerabatan, tetapi membuat kewajiban tersebut dapat dijalankan tanpa harus pulang.

Perkembangan lain yang menarik adalah kemampuan perantau menyiarkan kehidupan rantau kepada kampung. Facebook dan TikTok memungkinkan seseorang melakukan live dari kota tempatnya bekerja. Suasana jalan, tempat kerja, warung, pasar, tempat wisata, bahkan kamar kos dapat diperlihatkan secara langsung.

Orang-orang di kampung tidak lagi hanya menerima cerita setelah perantau pulang. Mereka dapat menyaksikan kehidupan tersebut ketika sedang berlangsung. Dulu, perantau pulang membawa cerita tentang kota. Kini kota dapat dibawa pulang melalui layar.

Seorang ibu di kampung dapat melihat anaknya berada di suatu tempat di Denpasar. Saudara di rumah dapat mengikuti aktivitasnya. Teman sekampung pun dapat mengetahui kehidupan perantau tanpa harus menemuinya. Kehadiran tidak lagi harus ditandai tubuh yang berada di tempat yang sama.

Namun, live juga mengubah cara seseorang menampilkan dirinya. Kehidupan tidak hanya dijalani, tetapi dapat dipertontonkan. Perantau tidak sekadar mengalami kota, tetapi juga dapat menunjukkan kepada orang lain bagaimana dirinya menjalani kehidupan di kota.

Di sinilah perbedaan antara mengalami dan menampilkan kehidupan menjadi penting. Media sosial membuat batas keduanya semakin tipis. Live bukan hanya teknologi komunikasi, melainkan juga ruang pembentukan identitas.

Perantau dapat memperlihatkan dirinya sebagai pekerja, anak kos, anak muda kota, orang yang sedang berjuang, atau seseorang yang dianggap berhasil. Kampung tidak hanya menerima kabar tentang dirinya, tetapi juga menerima representasi dirinya.

Di titik ini, merantau zaman sekarang menjadi menarik secara antropologis. Seseorang pergi dari kampung, tetapi jaringan sosialnya tidak ikut ditinggalkan. Tubuh berpindah tempat, sementara hubungan kekerabatan tetap bekerja. Penghasilan bergerak pulang, komunikasi berlangsung dua arah, dan kehidupan kota dapat disaksikan dari kampung.

Konsep translocality menjadi relevan untuk membaca keadaan tersebut. Kehidupan sosial tidak selalu berhenti pada satu lokasi. Hubungan, uang, informasi, perhatian, identitas, dan pengalaman dapat bergerak di antara tempat-tempat berbeda.

Kampung halaman pun tidak lagi hanya berupa tempat geografis. Ia menjelma menjadi jaringan yang hadir dalam nomor telepon, grup WhatsApp, rekening bank, foto, video call, live Facebook atau TikTok, dan ingatan yang terus bekerja.

Namun, di balik kedekatan tersebut terdapat paradoks. Teknologi memang membuat perantau lebih dekat dengan keluarga, tetapi kedekatan itu dapat membuatnya semakin sulit mengambil jarak. Dulu, jarak mungkin memaksa seseorang belajar mandiri. Sekarang keluarga dapat menghubunginya kapan saja, termasuk ketika persoalan yang dibicarakan sebenarnya kecil.

Teknologi tidak hanya menghapus jarak. Ia juga dapat memindahkan rumah ke dalam kehidupan perantau. Rumah tidak lagi berada hanya di kampung. Ia dapat muncul di layar telepon kapan saja.

Mungkin inilah yang membedakan pengalaman merantau sekarang dengan masa lalu. Dulu, seseorang yang pergi harus belajar hidup dengan jarak. Sekarang, seseorang pergi sambil membawa teknologi yang memungkinkan jarak tersebut terus dinegosiasikan. Ia dapat berbicara dengan orang tua, mengirim uang, mengetahui keadaan rumah, sekaligus memperlihatkan kehidupannya di kota.

Saya kemudian bertanya; apa sebenarnya arti merantau pada zaman sekarang? Apakah merantau masih berarti meninggalkan kampung halaman? Ataukah merantau berarti memindahkan tubuh, sementara hubungan sosial, ekonomi, emosional, dan kekerabatan tetap berlangsung di kampung?

Mungkin merantau sekarang bukan lagi tentang seberapa jauh seseorang pergi. Ia tentang kemampuan hidup di antara dua ruang. Tubuh berada di kota, penghasilan bergerak pulang, suara bergerak bolak-balik, wajah muncul melalui layar, kehidupan kota disiarkan kepada kampung, dan persoalan kampung masuk ke kamar kos.

Perantau modern tidak sepenuhnya meninggalkan kampung. Ia membawa kampung ke mana pun ia pergi. Teknologi telah membuat perjalanan itu lebih mudah, tetapi sekaligus membuat seseorang semakin sulit untuk benar-benar pergi.

Seseorang tidak hanya membawa koper ketika meninggalkan kampung. Ia membawa nomor telepon orang tua, grup keluarga, kewajiban mengirim uang, harapan keluarga, dan sebuah telepon genggam. Di dalam benda kecil itu tersimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada teknologi, yakni hubungan kekerabatan.

Ia pergi dari rumah, tetapi rumah tidak pernah benar-benar pergi dari dirinya. Maka pertanyaan tentang merantau mungkin bukan lagi Seberapa jauh kita pergi?”, melainkan “Seberapa jauh kita benar-benar bisa pergi ketika kampung halaman selalu ada di dalam telepon genggam?***

*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis yang berasal dari Negara, Jembrana, Bali. Pernah belajar Antropologi Budaya di Universitas Udayana, ia menulis puisi, esai, dan berbagai tulisan tentang kebudayaan serta kehidupan sehari-hari. Sejak 2015, ia aktif sebagai jurnalis dan tinggal di Denpasar. Sejumlah bukunya telah diterbitkan oleh penerbit di Bali maupun luar Bali.

Apa Komentar Anda?