KLUNGKUNG, kanalbali.id – Rumah BUMN Klungkung kembali menggelar pelatihan keterampilan dengan mengangkat kerajinan tangan sebagai peluang usaha. Kali ini, peserta diajak belajar membuat produk makrame unik yang memiliki nilai jual.
Pelatihan bertajuk “Membuat Produk Makrame Unik Bernilai Jual” tersebut digelar pada Kamis, pekan lalu. Kegiatan diikuti lima peserta dan dimentori oleh Betty Irawati, mitra binaan Rumah BUMN Klungkung sekaligus pemilik Goody Moody yang memproduksi berbagai kerajinan tas dan home decor unik dari makrame sejak 2023.
Pelatihan ini digelar dengan melihat peluang produk kerajinan tangan atau handmade yang memiliki nilai jual lebih tinggi dan dihargai lebih mahal dibandingkan produk massal pabrikan. Bahan baku utama makrame berupa tali katun atau kur juga relatif murah dan mudah didapat.
Hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan Rumah BUMN Klungkung mengadakan pelatihan untuk menciptakan peluang bisnis. Kegiatan ini juga sesuai dengan tujuan Rumah BUMN Klungkung sebagai tempat bagi pelaku usaha baru maupun inovator untuk bereksperimen, mengembangkan ide bisnis, serta memanfaatkan fasilitas seperti co-working space.
Dalam pelatihan, peserta mempelajari teknik dasar makrame hingga cara mengemas hasil kerajinan menjadi souvenir yang menarik. Keterampilan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku UMKM menambah ragam produk jualan sekaligus membuka peluang usaha baru.
Fasilitator BUMN Klungkung, Agung Kemala Dewi, mengatakan antusiasme peserta menjadi salah satu hal yang mendorong optimisme terhadap manfaat pelatihan tersebut.
“Melihat antusiasme luar biasa dari para mitra binaan, pemuda hingga pelajar yang mengikuti pelatihan kemarin, kami optimis pelatihan ini dapat menjadi ruang bagi peserta mengasah keterampilan, menambah ragam produk UMKM, sekaligus melihat peluang usaha dari kerajinan makrame,” kata Agung.
Menurut Agung, salah satu target program Rumah BUMN Klungkung adalah mendorong peserta agar berani memulai usaha mandiri maupun mengembangkan inovasi produk. Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi keluarga dan lokal.
“Salah satu target program Rumah BUMN Klungkung adalah dapat mendorong mereka untuk berani mulai membuka usaha mandiri dan/ pengembangan inovasi produk sehingga menjadi penggerak ekonomi keluarga dan lokal,” ujarnya.
Betty Irawati mengatakan dalam pelatihan tersebut dirinya berbagi keterampilan membuat gantungan kunci makrame berbentuk bunga.
“Hari ini berbagi ilmu tentang pembuatan gantungan kunci makrame berbentuk bunga di Rumah BUMN Klungkung. Menyenangkan mengajar anak- anak muda berstatus pelajar yang begitu antusias mempraktekan,” kata Betty.
Menurut Betty, tempat belajar di Rumah BUMN Klungkung juga nyaman dengan dukungan staf yang ramah. Ia berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat menjadi bekal untuk terus berkreasi dan berwirausaha.
“Semoga ilmu ini bisa menjadi bekal untuk berkreasi dan berwirausaha bagi anak anak muda. Terimakasih rumah BUMN Klungkung yang telah memberi kesempatan pada saya untuk berbagi ilmu ini,” ujarnya.
Manfaat pelatihan juga dirasakan Ni Wayan Adiyanti, peserta yang sekaligus pemilik usaha Adinda Rajut Collection. Ia mengaku mendapatkan pengetahuan baru, terutama mengenai teknik tali-temali dalam pembuatan makrame.
“Kegiatan pelatihan di RB Klungkung kemarin sangat menyenangkan dan bermanfaat. Banyak ilmu baru yang saya dapat, terutama tentang teknik tali temali makrame agar terlihat lebih rapi dan cantik yang membuat saya tertarik untuk belajar lagi dan mengembangkanya,” kata Adiyanti.
Bagi Adiyanti, keterampilan membuat makrame juga berpotensi dikembangkan menjadi produk baru dalam usaha yang telah dijalankannya. Pelatihan sekaligus menjadi ruang untuk bertemu dan berkenalan dengan peserta lainnya.
“Kedepanya ini juga bisa menjadi pilihan produk baru di usaha saya dan juga menambah teman baru. Terima kasih atas ilmu, pengalaman, dan kesempatan yang diberikan. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus diadakan karena sangat menambah wawasan dan keterampilan,” ujarnya.
Pelatihan tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk mengenal teknik dasar makrame sekaligus melihat kemungkinan pengembangannya menjadi produk yang dapat dijual. Dengan bahan yang relatif mudah diperoleh, keterampilan membuat makrame dapat dimanfaatkan untuk menambah variasi produk bagi pelaku usaha maupun menjadi langkah awal bagi anak muda yang ingin mencoba berwirausaha. (kanalbali/AWJ)


