Kini, setiap petikan gitarnya membawa saya kepada pertanyaan yang lebih pribadi: bagaimana manusia menghadapi sesuatu yang pada akhirnya tidak dapat ia kendalikan?
Oleh Angga Wijaya*
MENGENAL pertama kali lagu ini dari dua kakak angkat laki-laki saya, Brothers in Arms dari Dire Straits punya makna tersendiri bagi saya. Terlebih saat ini saya sedang menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening.
Pikiran tentang akhir kehidupan sering datang, terutama ketika saya sendirian. Jujur saja, saya agak tertekan secara psikologis. Rasa takut akan usia yang tak panjang, kehilangan, dan kesendirian kerap datang menghantui.
Manusia memang sering berasumsi dan membuat gambaran sendiri tentang sesuatu yang belum tentu terjadi. Pikiran mampu membuat masa depan terasa seolah-olah sudah berlangsung di depan mata. Sesuatu yang masih jauh dapat terasa begitu dekat ketika malam terlalu sunyi.
Pada saat seperti itu, saya merasa seperti laba-laba yang terjerat oleh sarangnya sendiri. Yang menahan saya bukan hanya keadaan, melainkan pikiran tentang berbagai kemungkinan yang belum tentu menjadi kenyataan.
Mungkin karena itu pula saya kembali mendengarkan Brothers in Arms. Lagu yang dahulu saya kenal melalui dua kakak angkat saya tersebut tiba-tiba terdengar berbeda. Dulu saya mungkin hanya menikmati permainan gitar Mark Knopfler dan suasana musiknya yang sendu.
Kini, setiap petikan gitarnya membawa saya kepada pertanyaan yang lebih pribadi: bagaimana manusia menghadapi sesuatu yang pada akhirnya tidak dapat ia kendalikan?
Dire Straits adalah grup rock Inggris yang dibentuk di London pada 1977 oleh Mark Knopfler, David Knopfler, John Illsley, dan Pick Withers. Mereka dikenal melalui perpaduan rock dan blues serta permainan gitar Mark Knopfler yang khas.
Lagu seperti Sultans of Swing, Romeo and Juliet, dan Money for Nothing membuat nama mereka dikenal luas. Brothers in Arms sendiri menjadi salah satu karya penting mereka sekaligus judul album yang dirilis pada 1985.
Lagu ini berbicara tentang perang, tetapi bukan dengan nada kemenangan. Mark Knopfler justru menghadirkan sisi manusiawi seseorang yang berada di tengah peperangan, berhadapan dengan kehancuran dan kehilangan.
Mereka yang bertempur disebut sebagai saudara seperjuangan. Di situlah ironi lagu ini terasa kuat: manusia yang sesungguhnya dapat menjadi saudara justru ditempatkan dalam keadaan untuk saling berhadapan.
Jika makna liriknya diterjemahkan secara bebas, lagu tersebut menggambarkan seseorang yang berada dalam kabut peperangan dan melihat kehancuran di sekelilingnya. Orang-orang di hadapannya bukan sekadar lawan.
Mereka juga manusia yang memiliki kehidupan, ketakutan, dan nasib masing-masing. Perang membuat batas antara kawan dan lawan menjadi tegas, tetapi penderitaan menunjukkan betapa tipisnya batas itu. Pada akhirnya, yang muncul adalah kesadaran bahwa manusia sama-sama rapuh.
Saya tidak berada di medan perang. Tidak ada senjata di tangan saya dan tidak ada musuh yang harus saya lawan. Namun, tubuh yang sedang menjalani pengobatan kadang terasa seperti sebuah medan pertempuran.
Ada sesuatu yang berlangsung di dalam tubuh, sementara pikiran saya berusaha membaca setiap perubahan sebagai pertanda tentang apa yang mungkin terjadi. Penyakit membuat sesuatu yang sebelumnya terasa jauh menjadi lebih nyata, bahwa tubuh memiliki batas dan kehidupan tidak selalu dapat diprediksi.
Di sinilah Brothers in Arms berbicara kepada pengalaman pribadi saya. Pertarungan tidak selalu berlangsung antara dua kelompok manusia. Ia juga dapat berlangsung di dalam diri seseorang.
Saya berhadapan dengan ketakutan sendiri; bagaimana jika penyakit semakin berat, bagaimana jika usia saya tidak panjang, bagaimana jika suatu hari saya harus menghadapi semuanya seorang diri?
Pertanyaan seperti itu tidak pernah benar-benar selesai. Karena tidak memiliki jawaban pasti, pikiran terus memproduksi kemungkinan baru. Masa depan yang masih tertutup berubah menjadi film yang diputar berulang-ulang di kepala.
Saya tahu semuanya belum tentu terjadi, tetapi rasa takut tidak selalu tunduk kepada pengetahuan. Kita bisa memahami sesuatu secara rasional, tetapi tetap merasakannya secara emosional.
Saya kemudian menyadari bahwa mungkin saya terlalu sering berperang dengan sesuatu yang belum terjadi. Saya menghabiskan kehidupan yang nyata untuk menghadapi kemungkinan yang masih berupa bayangan.
Di situlah metafora laba-laba tadi kembali muncul. Saya membuat sarang dari kekhawatiran, lalu terjerat di dalamnya. Semakin saya berusaha membebaskan diri dengan memikirkan segala kemungkinan, semakin rumit jaring itu terbentuk.
Brothers in Arms juga berbicara tentang persaudaraan. Makna ini terasa penting ketika seseorang berada dalam keadaan rentan. Persaudaraan tidak selalu lahir dari hubungan darah. Ia dapat hadir melalui orang-orang yang memilih tetap berada di dekat kita ketika kehidupan sedang sulit.
Saya kembali mengingat dua kakak angkat laki-laki yang dahulu mengenalkan lagu ini kepada saya. Saya tidak pernah membayangkan bahwa lagu tersebut akan kembali hadir bertahun-tahun kemudian, ketika hidup membawa saya berhadapan dengan persoalan yang begitu berbeda.
Barangkali setiap manusia memiliki lagu semacam itu. Lagu yang pada suatu masa hanya terdengar sebagai musik, tetapi pada masa lain berubah menjadi cermin. Brothers in Arms bagi saya kini adalah cermin tersebut.
Saya mendengar kisah tentang perang, tetapi yang saya temukan justru pertempuran dalam diri sendiri. Saya mendengar tentang mereka yang berada di ambang akhir, tetapi kemudian berpikir tentang kehidupan yang masih saya miliki.
Saya tidak tahu berapa panjang usia yang masih tersedia bagi saya. Tidak seorang pun sebenarnya memiliki kepastian semacam itu. Orang sehat sekalipun hidup dalam ketidakpastian, hanya saja penyakit membuat ketidakpastian tersebut terasa lebih dekat.
Karena itu, saya tidak ingin terus-menerus menghitung berapa lama lagi saya akan hidup. Yang lebih penting adalah bagaimana saya menjalani hari yang masih diberikan kepada saya.
Saya masih takut kehilangan waktu yang saya miliki. Saya masih takut usia saya tidak panjang. Saya masih takut suatu hari harus menghadapi kesendirian. Saya tidak ingin berpura-pura sudah sepenuhnya berdamai dengan kefanaan. Belum. Mungkin saya memang belum sampai di sana.
Namun, saya mulai mengerti bahwa keberanian bukan ketika rasa takut menghilang. Keberanian mungkin justru ketika saya tetap bangun keesokan pagi, minum obat, menjalani pengobatan, menulis, dan melakukan hal-hal kecil yang membuat hidup terasa tetap sebagai hidup.
Karena itu, Brothers in Arms kini bukan lagi sekadar lagu lama yang mengingatkan saya kepada dua kakak angkat yang mengenalkannya. Lagu itu seperti teman ketika malam terlalu panjang dan pikiran mulai membuat perang sendiri.
Ia tidak menjanjikan kesembuhan. Tidak pula memberi kepastian tentang berapa lama saya akan tinggal di dunia ini. Ia hanya menemani saya duduk bersama ketidakpastian.
Saya tidak tahu berapa panjang usia yang tersisa. Barangkali pertanyaan itu memang tidak perlu saya jawab malam ini. Saya masih punya tubuh yang sedang berjuang, orang-orang yang masih peduli, buku-buku yang belum selesai saya baca, tulisan-tulisan yang belum selesai saya kerjakan, dan kehidupan yang belum selesai saya jalani. Selama semua itu masih ada, saya ingin berhenti menghitung batas dan mulai menghitung kehidupan.
Dulu saya mengenal Brothers in Arms dari dua kakak angkat saya sebagai sebuah lagu. Kini, setelah berhadapan lebih dekat dengan penyakit dan kefanaan, saya mendengarnya sebagai sesuatu yang lain. Ia seperti suara dari kejauhan yang mengingatkan bahwa manusia memang rapuh, tetapi kerapuhan bukan alasan untuk berhenti hidup.
Maka, ketika pikiran buruk datang lagi, saya tidak ingin berlari terlalu jauh ke dalamnya. Saya akan membiarkannya duduk sebentar, seperti tamu yang tidak saya undang. Setelah itu saya akan kembali kepada hari ini; kepada napas saya, kepada obat yang harus diminum, kepada tulisan yang belum selesai, dan kepada orang-orang yang masih memanggil nama saya.
Sebab sekarang saya mengerti, saya tidak harus memenangkan pertarungan melawan sesuatu yang memang merupakan bagian dari kehidupan. Tidak ada manusia yang dapat menghindarinya selamanya. Yang bisa saya lakukan adalah memastikan bahwa sebelum batas itu tiba, saya tidak sudah lebih dulu meninggalkan kehidupan karena ketakutan.
Saya tidak sedang menunggu akhir. Saya sedang menjalani hari ini. Dan selama hari ini masih menjadi milik saya, saya ingin benar-benar berada di dalamnya. ***
I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Ia mulai menulis puisi pada 2001 dan esai pada 2008. Sempat bekerja sebagai jurnalis pada 2008, ia kembali menekuni dunia jurnalistik sejak 2015. Pernah belajar Antropologi Budaya di Universitas Udayana. Memoarnya, Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku, diterbitkan Brilliant Books, Yogyakarta pada Juni 2026.


