TABANAN, kanalbali.id — 20 mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu yang berasal dari lima belas Perguruan Tinggi yang tersebar di Indonesia berkumpul di Mulia Agro Eduwisata, Tabanan, Bali, untuk mengikuti kegiatan Kamp Akademi Perlindungan Hewan (Animal Protection Academy Bootcamp).
Bootcamp yang bertajuk “Membangun Suara, Mewujudkan Perlindungan Hewan: Gerakan Generasi Muda untuk Perlindungan Hewan Diternak” ini merupakan kegiatan pertama yang diselenggarakan oleh Animals Don’t Speak Human (ADSH).
Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari mulai dari hari Jum’at sampai Minggu (25-27 September 2026).
“Isu kesejahteraan hewan diternak sering dianggap terlalu jauh dari kehidupan mahasiswa sehari-hari, padahal setiap hari kita mengkonsumsi produk dari sistem yang penuh persoalan,” ujar Fiolita Berandini Saichu, selaku Direktur Animals Don’t Speak Human.
Persoalan ini bersinggungan dengan hukum, kebijakan publik, komunikasi, keamanan pangan sampai perilaku konsumen. Mahasiswa punya suara, jejaring, dan waktu untuk membangun gerakan jangka panjang.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan lintas disiplin ilmu sengaja dirancang bukan tanpa alasan.
“Kalau hanya mahasiswa peternakan yang belajar soal isu kesejahteraan hewan, gerakannya akan berhenti disitu saja. Kami butuh mahasiswa hukum yang paham regulasi, mahasiswa komunikasi yang bisa membangun narasi, dan mahasiswa dari jurusan lain yang bisa membawa isu ini ke lingkaran yang belum tersentuh,” lanjutnya.
Sepanjang tiga hari, peserta dibekali materi lintas bidang mulai dari Sentien Hewan dan Kerangka Lima Domains, Kesejahteraan Hewan yang Diternak, Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi, hingga Strategi Kampanye.
Selain pemberian materi dan diskusi interaktif di ruang kelas, peserta Bootcamp dibawa langsung mengunjungi ke peternakan kandang sempit atau kandang konvensional dan kandang bebas sangkar (cage-free). Peserta diajak untuk melihat dan merasakan langsung implikasi konkret dari kondisi dua sistem produksi terhadap kesejahteraan hewan.
“Bootcamp ini kami rancang sebagai ruang belajar, tidak hanya menerima materi tapi saling bertukar pandangan, dan membangun pemahaman bersama tentang isu kesejahteraan hewan. Harapannya ini menjadi titik awal membentuk jaringan advokasi mahasiswa yang peduli terhadap isu kesejahteraan hewan yang akan di bangun di wilayah masing-masing peserta berasal.” Ujar Marlita Yustiana selaku Public Outreach, Animals Don’t Speak Human.
Pada hari ketiga, peserta mempraktekkan kampanye publik di lapangan Alit Saputra untuk memberikan pengalaman langsung, bukan hanya sekedar simulasi di dalamruang kelas.
Pengalaman ini menjadikan mahasiswa yang terlibat langsung berubah menjadi garda terdepan yang akan mengawal isu yang selama ini luput dari sorotan publik: kondisi ayam petelur di balik kandang konvensional atau kandang sempit.
ADSH berharap gerakan akar rumput yang bangun ini menjadi lebih kuat untuk mendorong perubahan kebijakan kesejahteraan hewan, khususnya di isu ayam yang diternak, “Perubahan nyata bagi ayam petelur di Indonesia tidak akan datang dari kandang, melainkan dari mahasiswa yang berani bersuara, dan terlibat langsung.” tutup Fiolita. (kanalbali/RLS/RFH)


