Penulis: I Gede Joni Suhartawan: freelance jurnalis dan konsultan media
Ilmu Wariga adalah sistem perhitungan waktu tradisional yang biasa digunakan terutama di Jawa dan Bali untuk menentukan tepat tidaknya dalam memulai dan mengahadapi sesuatu.
SEPERTI diketahui, waktu tradisional dalam pemahaman budaya Jawa-Bali, bukan semata tentang jam atau hari, tapi juga momentum.
Dalam pandangan budaya Jawa-Bali, soal waktu ini tidak terlepas dari perputaran bumi dan galaksinya, lengkap dengan efek-efeknya bagi bumi dan isinya (mahluk hidup). Ini semua dirangkum dalam apa yang disebut wewaran.
Dalam konsep wewaran itulah selain dikenal hitungan putaran 7 hari atau seminggu seperti yang kita kenal hari Minggu hingga Sabtu (disebut Sapta Wara), juga dikenal putaran 5
momentum (disebut Panca Wara): Umanis/Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon.
Dalam soal putaran waktu dan momentum ini, Bali mengenal sampai 10 gugus putaran, mulai dari Eka Wara hingga Dasa Wara. Ilmu Wariga mendasarkan diri pada setiap gugus putaran ini dan irisan atau pertemuan antar gugus putaran itu sendiri.
Antisipasi Lonjakan Kasus, Satgas COVID-19 Bali akan Batasi Aktivitas Perayaan Tahun Baru
Irisan atau pertemuan antar gugus putaran inilah yang dalam bahasa awam menghasilkan apa itu “hari baik-hari buruk” bagi masing-masing orang atau lembaga untuk menjalankan sesuatu.
Sesungguhnya yang benar adalah bahwa irisan gugus putaran wewaran itu menghasilkan satuan “waktu yang tepat dan tidak tepat” bagi individu atau lembaga dalam menjalankan atau menghadapi sesuatu.

Secara logika, keilmuan wariga justru tidak dapat begitu saja menyimpulkan ada hari baik hari buruk, terutama bagi individu yang diiiriskan antara gugus putaran semesta dengan gugus putaran “tatkala
kelahirannya”. Dalam bahasa kekinian mungkin lebih enak disebutkan sebagai hari “harmonis tidak harmonis” dengan alam.
Pemahaman inilah yang menjadi dasar nantinya untuk bagaimana mengaktifasi potensi diri untuk mencapai tujuan secara efektif dengan memanfaatkan ilmu wewaran ini.
Memang pada mulanya, Ilmu Wariga ini lebih banyak digunakan dalam skala aktivitas komunal seperti kapan waktunya bercocok tanam, kapan bangun rumah, dan sebagainya.
Namun kini, Ilmu Wariga dapat diterapkan untuk skala individu. Ibarat tanah ladang, seorang individu dapat memakai wariga untuk menentukan saat tepat “menumbuhkan bibit baik” dalam dirinya, saat yang harmoni untuk “membangun tekad” dalam dirinya dan seterusnya.
Dalam pandangan budaya Jawa-Bali, diri ini adalah juga jagat, yaitu jagat cilik yang tak bisa lepas dari jagat agung (semesta alam).
Ilmu Wariga untuk individu atau kepribadian inilah yang sedang dikembangkan oleh Dewi Uma, praktisi dan ahli Wariga dari Bali.
Bakat alam pada dirinya dan didikan ketat yang lansung dari gurunya, Ida Peranda Nyoman Temuku, ulama-ilmuwan karismatik Bali, telah mengantarkannya menjadi penekun dan pengembang Ilmu Wariga yang kredibel.
Dewi Uma termasuk gigih mengabarkan ilmu wariga untuk individu ini dalam berbagai kesempatan, terutama dalam pengembangan ilmu-ilmu Nusantara dan diskusi-diskusi kebudayaan tingkat nasional maupun internasional.
Dalam forum resmi nasional misalnya, bulan Mei lalu, Dewi Uma menjadi pembicara utama
seminar-diskusi di Universitas Indonesia bertema “Melestarikan dan Menginternasionalisasikan Warisan Budaya Nusantara untuk Perdamaian Dunia” yang diselenggarakan BEM FIB UI didukung oleh Kementerian Kebudayaan dan Yayasan Sanjeev Lentera Indonesia.
Seminar ini sendiri merupakan upaya kurasi warisan budaya Nusantara untuk Unesco dalam pemetaan dan perbendaharaan warisan dunia tak benda.
Di Jakarta, ia juga terlibat aktif dalam diskusi-diskusi komunitas seperti Eco Tebet Park discussion, ikatan persahabatan Indonesia – Rusia dan sebagainya. Selain giat dalam
pengabaran Wariga untuk individu, Dewi Uma juga melayani pendampingan pihak-pihak yang berminat memanfaatkan ilmu wariga bagi tata kelola diri terutama pada aspek kesehatan (welness) dan bisnis.
Putu Suasta, seorang aktivis kebudayaan, menyebutkan Dewi Uma sebagai fenomena generasi muda Nusantara, khususnya Bali, yang berani speak out ke ranah publik lebih luas mewartakan wariga sebagai ilmu dari Timur yang tak kalah ilmiahnya dari Barat. “Generasi muda seperti ini patut kita dukung!” pungkasnya. (*)


