Gerakan #Tanamsaja: Dari Bagi Benih hingga Pelatihan Agro-Ekologi Progresif

PADA pertengahan Desember 2020 Serikat Petani Suka Makmur (SPSM) mengadakan pelatihan Agro-Ekologi Progresif yang berlangsung di kantor serikat dan kebun kolektif yang baru saja mereka bangun. Serikat yang terletak di Desa Pemuteran ini berkolaborasi dengan Tanam Saja untuk mensukseskan pelatihan. Hadirnya kolaborasi di akhir tahun tersebut berangkat dari celetukan salah satu petani terkait kebun kolektif yang mereka bangun.

“Waktu dia [Radiasa] bilang anak muda dilatih, itu muncul idenya untuk membuat training agro-ekologi,” ungkap Roberto Hutabarat Tim Pakar tanam saja  yang juga sebagai trainer dalam pelatihan ini.

Kebun kolektif sebenarnya sudah direncanakan jauh sebelum tahun 2020, namun baru terealisasikan semenjak bergabungnya SPSM ke dalam jaringan Tanam Saja. Kolaborasi ini telah ada semenjak awal mula terjadinya pandemi Covid-19, tepatnya pertengahan Mei 2020. Proses ini diawali dari pembagian benih yang didistribusikan sebanyak 300 paket kepada komunitas dan perseorangan.

Berangkat dari Membagi Benih Organik

 Tanam Saja memulai pembagian benih pada tanggal 27 dan 28 Mei 2020, dengan 300 paket benih yang terdiri dari 5 jenis benih, diantaranya: sawi, kacang panjang, tomat, bayam merah, dan bunga matahari. Kelima jenis benih tersebut pun memiliki perannya masing-masing, khususnya kehadiran bunga matahari. Bunga matahari berfungsi sebagai tanaman refugia— untuk menarik predator alami hama.

Pembagian benih menjadi upaya Tanam Saja dalam menanggapi pandemi Covid-19 dengan membawa semangat menanam. Kehadirannya tidak hanya sebagai “pemberi bantuan amal”, melainkan membawa visi keberlanjutan dan pemberdayaan. Maka dari itu, Tanam Saja merupakan gerakan kecil yang sederhana untuk mengajak masyarakat menanam dan mengenali kembali potensi di lingkungan sekitarnya. Gerakan ini juga kembali mengingatkan kita pada pengetahuan tentang bertani yang telah diwarisi oleh para leluhur.

Kemandirian semakin ditekankan dalam gerakan ini, sebab tidak hanya memberi dan menerima pangan, melainkan juga menanam untuk keberlanjutan. Dimulai dari perseorangan yang memenuhi kebutuhan keluarganya, komunitas dengan kebun komunitasnya, hingga desa yang berdaya dari kebun kolektifnya. Adapun beberapa komunitas yang menerima dan menyalurkan benih-benih untuk ditanam, antara lain: Harmoni Parahyangan, Solidaritas Pangan Bali, Adopt A Family Bali (AAF), Team Action Amed, Serikat Petani Suka Makmur (SPSM), Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan Celukan Bawang, Yayasan Pilang dan KPA Bali yang diisi oleh kelompok ibu-ibu Sumberklampok, serta Singaraja Menanam dengan kebunnya bernama Terangkila.

Program pembagian benih ini pun masih berlanjut dan jangkauannya semakin meluas dengan penambahan komunitas baru, diantaranya Perpustakaan Jalanan Tabanan, Angel Hearts, dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Universitas Udayana. Fase kedua dimulai dari 26 sampai 29 Juni 2020 dengan paket benih yang lebih banyak dari sebelumnya, yaitu 700 paket. Selain itu, pada fase ini distribusi media tanam juga dilakukan sebanyak 32 paket dolomit arang sekam.

Mendampingi Kebun Komunitas

Upaya mengajak masyarakat untuk mulai menanam dengan membagikan benih organik ternyata belum cukup, sebab ada rentetan tantangan lainnya yang perlu diatasi. Setelah membagikan benih, Tanam Saja kemudian melakukan pemantauan pada setiap komunitas yang terlibat. Mula-mula pemantauan ini dilakukan secara daring. Melalui proses ini, setiap komunitas mengabarkan perkembangan kebunnya masing-masing. Selama masa pandemi, banyak pihak yang merasa terbantu dari diberikannya benih lokal dan pendampingan langsung dari Pakar Tanam Saja. “Sayur hijau, tomat, kacang, semua sudah saya pindahkan [ke bedeng], tinggal tunggu panen saja,” jelas Eko dengan tertawa lega, sewaktu mengikuti pertemuan secara daring melalui Zoom Meeting pada awal Juli 2020.

Namun seiring berjalanya waktu, pemantauan secara daring dirasa tidak cukup untuk mengetahui kondisi kebun saat itu. “Rosella sudah kena kutu putih dan buah terong tumbuh kecil, ada bintik-bintik hitam juga,” ungkap Dayat sebagai pengurus Kebun Terangkila pada pertemuan daring terakhir di Bulan November.

Maka dari itu, Tim Pakar Tanam Saja melakukan kunjungan langsung ke lapangan, tanpa Melupakan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. “Kunjungan lapangan itu semacam troubleshooting, apa kendalanya, bisa langsung diselesaikan disana,” kata Roberto.

Selain kunjungan lapangan, pemantauan terhadap kebun-kebun komunitas juga dilakukan bersamaan dengan kegiatan edukasi yaitu sekolah lapang. Kegiatan ini lebih spesifik  Untuk meningkatkan kapasitas pengelola kebun dalam menangani masalah utama yang dihadapi pada saat itu, melalui pemberian materi secara langsung dan praktek. Beberapa kebun komunitas yang menerima sekolah lapang diantaranya: Kebun Terangkila—milik Singaraja Menanam tentang pembuatan pengendali hama, SPSM tentang pemahaman permakultur, Harmoni Parahyangan mengenai langkah-langkah pembenihan, Perpustakaan Jalanan Tabanan tentang mendesain kebun, dan AAF terkait langkah-langkah pembuatan mikro organisme lokal (MOL).

Berbagi Pengetahuan di Media Sosial

Selain turun ke lapangan, Tanam Saja juga mengajak masyarakat untuk mulai menanam dengan membagi informasi-informasi menarik di media sosial. Dengan hadirnya media sosial, pihak-pihak yang telah menerima benih namun belum terpantau secara langsung dapat memperoleh informasi tentang menanam dengan mudah. Informasi melalui sosial media juga  Tidak melulu untuk mereka yang telah menerima benih, melainkan siapa saja yang memiliki “niat” untuk mulai menanam.

Beberapa pihak pun merasa terbantu dari pemberian informasi ini khususnya untuk Kategori #TipsTanamSaja. Kategori tips menanam ini telah menjangkau pengguna Facebook lebih dari 10.000 orang, termasuk Instagram yang telah menjangkau ratusan penggunanya, meskipun Tanam Saja baru aktif pada pertengahan Bulan November.

Hadirnya sosial media Tanam Saja juga telah membuka peluang bagi komunitas lainnya  Untuk terlibat dalam gerakan ini. Permintaan untuk memperluas jaringan datang dari komunitas asal Flores, yaitu Rumah Baca Aksara. Meskipun pada dasarnya siapa saja bisa terlibat dalam gerakan ini, dengan menggunakan #TanamSaja.

Upaya Keberlanjutan dengan Demplot dan Pelatihan Agro-Ekologi

Meskipun di penghujung tahun 2020, masyarakat yang pada awalnya berfokus untuk menanam sudah berangsur-angsur kembali ke rutinitas awal. Namun gerakan ini perlu terus bergulir, sebab menanam tidak hanya untuk saat ini, melainkan di masa mendatang. Agar nantinya masyarakat memiliki jaring pengaman dari permasalahan ekonomi, khususnya mencapai kemandirian pangan. Langkah ini dilakukan dengan pembangunan demonstrasi plot (demplot) sebagai kebun percontohan yang dikelola secara kolektif. Untuk saat ini, dua demplot yang hampir selesai dibangun yaitu kebun kolektif milik Adopt A Family Bali dan Serikat Petani Suka Makmur (SPSM).

Kebun kolektif milik Adopt A Family Bali yang terletak di Pusat Kota Denpasar (Renon) ini sengaja dibuat selain sebagai media belajar anak-anak sekolah, juga menjadi percontohan bagi warga di sekitar Renon. Hingga saat ini, kebun AAF telah memiliki rumah kompos dan rumah pembibitan.

Kemudian, jauh ke utara, dapat ditemui kebun kolektif dari SPSM yang dirancang untuk menjadi percontohan bagi warga sekitar dan masyarakat di luar desa. Kebun yang disebut-sebut akan menjadi Mandala Garden ini juga berfungsi untuk mempererat solidaritas antar warga dan menjadi contoh dari pertanian tanpa kimia.

Para petani yang tergabung dalam SPSM menyadari betul bahwa Mandala Garden memiliki makna dan maksud yang tidak kalah pentingnya dari sekedar menanam organik. Maka dari itu, dalam perancangannya, SPSM yang juga tergabung dalam jaringan Tanam Saja mengadakan pelatihan Agro-Ekologi Progresif.

Pelatihan yang mengambil tema “Menanam adalah Melawan” ini telah menarik minat anak-anak muda dari berbagai daerah, bahkan sampai ke Kalimantan dan Jawa Timur. Peserta dari luar Bali meliputi Malang, Surabaya, dan Banyuwangi.

Mengikuti pelatihan dan merancang Mandala Garden telah menumbuhkan niat para peserta untuk membangun kebun kolektif di daerahnya masing-masing. “Balik dari sini rencananya mau rombak sedikit lahan di Singaraja, mengadopsi apa yang telah diperoleh dalam pelatihan,” ungkap Lingga, pengurus kebun Terangkila. Hal serupa juga disampaikan pemuda asal Pakel, Banyuwangi. “Mungkin pertama ngumpulin pemuda Pakel, kemudian sama-sama memikirkan cara mengubah pola pikir warga yang mayoritas menggunakan obat-obatan kimia untuk lahannya,” ujar pemuda yang kerap disapa Jai ini.

Mereka pun menjadi kader-kader muda yang nantinya akan menyebarluaskan semangat menanam yang dibawa gerakan Tanam Saja. Pembuatan demplot dan pelatihan agro-ekologi merupakan upaya dari capaian tersebut, untuk kedaulatan pangan masyarakat dan kelestarian lingkungan kita. (KANALBALI/rls)

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.