Kadistan Janjikan Pertanian Organik di Seluruh Bali Terwujud di 2028

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Kadistan) Provinsi Bali, I Wayan Sunada - KAD
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Kadistan) Provinsi Bali, I Wayan Sunada - KAD

DENPASAR, kanalbali.id  – Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Kadistan) Provinsi Bali, I Wayan Sunada mengatakan, pertanian organik di seluruh Pulau Bali terwujud di tahun 2028.

Sunada mengatakan, lahan persawahan di Pulau Bali saat ini seluas 68.076 hektar. Dan saat ini pihaknya mengklaim pertanian organik di seluruh Bali sudah mencapai 65 persen.

“Dari lahan (sawah) yang kita miliki 68 ribu hektar itu sudah 65 persen organik. Maksudnya organik ini, untuk di keamanan pangan. Karena Dinas Pertanian menangani dari hulu sampai hilir. Bukan di hulunya saja. Bukan di budidayanya saja, dari hulu sampai hilir,” kata dia, saat menjadi pembicara di acara peluncuran,”Aplikasi Sapatani dan Diseminasi Hasi Riset Proyek Solusi Digital,” di Denpasar, Bali, pada Selasa (11/11).

Ia juga menerangkan, kendati budidaya pertanian seperti benih, alat dan mesin pertanian (Alsintan) dan pupuk organik yang dibantu pemerintah pusat sudah memadai. Tetapi, yang harus dipikirkan juga adalah soal ketersediaan air bagi persawahan di Bali. Maka, untuk mencukupi kebutuhan air itu Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali, telah mengajukan Jaringan Irigasi Tersier (JIT) 1800 unit ke pemerintah pusat.

“Air ini sangat penting. Dan tahun ini kita mengajukan perbaikan JIT sebanyak 1800 unit. Kami membuat surat untuk meminta bantuan pupuk dan alsintan, yang tanda tangan Pak Gubernur. Begitu sampai ke pusat, tiga direktur turun. Makannya pertanian kita dijanjikan oleh Direktur Pupuk tahun 2028, secara keseluruhan pertanian kita sudah organik dibantu oleh pusat,” katanya.

Ia menyampaikan, pertanian organik di Bali memiliki lahan 68.076 hektare per Bulan November 2025 dan sudah mencapai 65 persen untuk pertanian organik.

“Target kami tahun 2028 Bali ini sudah organik secara keseluruhan. Kita organik-kan Bali ini. Tentunya organik itu yang memiliki sertifikat, yang sudah kita sertifikasi untuk meyakinkan ke masyarakat, bahwa itu sudah organik secara utuh,” ujarnya.

Kemudian, untuk supply pupuk organik di Pemprov Bali memiliki pupuk subsidi organik serta dibantu juga oleh pemerintah pusat.

“Kalau pupuk kita punya subsidi. Subsidi pupuk Pemprov Bali, tahun ini didukung oleh (pemprov) Bali dan pusat juga. Kemarin sudah kita bersurat, kita sepakati tahun 2028 ini sudah organik dengan Direktur Pupuk Indonesia. Kita sudah sepakati di 2028, Bali sudah organik,” jelasnya.

Ia menyebutkan, tujuan pertanian organik di seluruh Pulau Bali, terkait keamanan pangan agar masyarakat Bali bisa menikmati pangan yang sehat, bebas dari pestisida atau bahan kimia.

“Dan pupuk kimia kita ganti sekarang. Kita menggunakan pupuk organik dan pestisida nematik (nabati) itu yang kita pakai. Sehingga masyarakat kita bisa menikmati pangan yang sehat,” sebutnya.

Ia mengatakan, program pertanian organik di Pulau Bali, sudah berjalan sejak tahun 2018 lalu, dan saat ini sudah ditata dengan baik dari hulu sampai hilir.

“Sebetulnya ini sudah lama dari tahun 2018, kita sudah programkan dan sekarang kita tata dengan baik. Di mana pertanian-pertanian kita yang sudah organik dari hulu sampai hilir,” ujarnya.

“Kita kerjakan adalah dari hulu pertama supaya yang di hilir itu tidak kena cemaran pestisida. Kalau dari bawah kan kena cemaran kalau dari atas kita cemarkan. Kita ambil dari hulu untuk menuntaskan pertanian organik dari hulu ke hilir dari atas ke bawah, sehingga tidak terjadi cemaran lagi pertanian kita yang sudah organik,” ujarnya. (kanalbali/KAD)

Apa Komentar Anda?