Ketua DPRD Kota Denpasar: Pekuat Aturan dan Kesadaran Generasi Muda

DENPASAR, Kanalbali – Sebagai Ibu Kota Provinsi Bali, Denpasar seolah menjadi kota dengan arus globalisasi paling pesat jika dibandingkan dengan kabupaten lain yang ada di Bali. Ditengah tantangan arus globalisasi tersebut, ternyata subak di Denpasar masih ada. Walaupun tidak sebanyak seperti di daerah lain, Keberadaan subak itu  menuai pujian dari I Gusti Ngurah Gede selaku ketua DPRD Denpasar.

“Saya bicara ini bukan hanya sebatas ketua DPRD ya, tapi juga sebagai masyarakat Denpasar yang sangat bangga dengan masih adanya subak di Kota ini. Ini seusai dengan semangat kita bersama untuk terus menjaga warisan budaya dari leluhur kita,”  Jelasnya saat ditemui disela-sela acara temu Wirasa Pesakih se-Kota Denpasar, Selasa (30/10).

Kendati merasa bangga, Ngurah Gede paham betul bahwa tantangan globalisasi menjadi hal yang tidak dapat dipungkiri guna menjaga kelestarian subak untuk masa yang akan datang.  “Sudah pasti ada pengaruh. Buktinya saja, dulu kita punya subak di Denpasar beribu-ribu hektare. Sekarang yang tersisa sudah kurang dari 2600 hektare,” ujarnya.

Terpenting menurut Ngurah Gede, kesadaran masyarakat untuk melestarikan subak itu harus terus ditingkatkan. Apalagi, tanggung jawab pelestarian subak tidak hanya ada di tangan pemerintah, namun ada sampai ke tingkat paling bawah yakni sang pemilik lahan.

“Selain itu juga perlu didukung oleh aturan-aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah kan, seperti yang saat sedang dibahas yaitu tentang poin revisi atas perda itu. nah di situasi ini kita terus akan mendorong agar perubahan yang baru nanti benar-benar bisa melestarikan subak dari ancaman apapun,” paparnya.

Persoalan lain juga tak kalah pelik menurut Ngurah Gede, adalah minimnya generasi muda yang punya niat untuk turun langsung menjadi petani. Padahal menurut politisi PDIP, keilmuan yang dimiliki generasi muda khususnya yang memang mengambil jurusan pertanian, ilmunya tidak kalah dengan generasi sebelumnya yang sudah ada dunia pertanian.

“Kalau kita amati secara langsung memang sedikit sekali yang terjun ke dunia pertanian. Tapi dari segi keilmuan mereka mungkin lebih profesional, karna anak sekarang kan sudah dibekali dengan kemajuan tegnolongi yang menjanjikan. Mungkin bisa saja mereka menggabungkan tegnologi dengan bidang pertanian,” jelasnya.

Diluar persoalan itu, Ngurah Gede lagi lagi menyampaikan bahwa yang paling penting subak harus tetap dipertahankan. “Itu dulu untuk saat ini, kita perkuat aturan agar lahan ini tidak mudah dialihfungsikan. Kemudian kita bangun kesadaran ke generasi muda,” ujarnya. (*)