Ketika semua itu terjadi, saya tidak mempunyai jarak untuk melihat pengalaman tersebut sebagai gejala. Saya berada di dalamnya. Saya mempercayainya. Saya menjalaninya. Manusia bisa tersesat di dalam pikirannya sendiri.
Oleh Angga Wijaya*
Di sebuah warung, kita mungkin duduk bersebelahan dengan seseorang yang tampak baik-baik saja. Ia makan, minum kopi, memainkan telepon genggam, lalu sesekali tersenyum melihat sesuatu di layar. Dari luar, tidak ada yang tampak ganjil. Tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang berlangsung di dalam kepalanya.
Manusia memang pandai menyembunyikan luka. Tidak semua kesedihan terlihat dari mata. Tidak semua kecemasan terdengar dari suara. Seseorang yang sedang berjuang mempertahankan dirinya sendiri bisa saja tetap terlihat biasa di hadapan orang lain.
Komnas HAM Soroti Permenaker Nomor 5 Tahun 2023: Banyak Buruh Dipotong Gaji dan Terjerat Pinjol
Saya pernah berada di titik ketika dunia di dalam kepala saya terasa lebih nyata daripada dunia di luar diri saya.
Pada 2009, saya mengalami halusinasi pendengaran. Saya mendengar suara-suara yang bagi saya saat itu terasa nyata. Saya juga mengalami keyakinan bahwa ada orang yang ingin mencelakai saya. Saya merasa berada dalam bahaya dan tidak tahu lagi mana yang harus dipercaya.
Saya meninggalkan rumah tante di Singaraja pada malam hari. Saya sempat bersembunyi di sebuah merajan karena merasa membutuhkan tempat yang aman. Pada kesempatan lain, ketika berada di dalam bus, suara-suara yang saya dengar membuat saya turun sebelum sampai tujuan. Uang saya kemudian habis. Saya berjalan tanpa arah hingga akhirnya diamankan petugas keamanan dan polisi. Keluarga kemudian membawa saya ke Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali di Bangli.
Di sana saya mendapatkan diagnosis skizofrenia paranoid.
Bertahun-tahun kemudian, setelah memahami apa yang saya alami, saya mengetahui bahwa suara-suara tersebut merupakan halusinasi pendengaran, sedangkan keyakinan bahwa saya sedang diburu atau akan dicelakai merupakan bagian dari pengalaman psikotik.
Tetapi ketika semua itu terjadi, saya tidak mempunyai jarak untuk melihat pengalaman tersebut sebagai gejala. Saya berada di dalamnya. Saya mempercayainya. Saya menjalaninya.
Manusia bisa tersesat di dalam pikirannya sendiri.
Mungkin karena pengalaman itulah saya tertarik pada ungkapan Jawa lali jiwa. Dalam Kamus Bahasa Jawa-Indonesia, lali jiwa tercatat sebagai nama salah satu jenis mangga. Kata lali sendiri berkaitan dengan lupa, sedangkan jiwa merujuk pada kehidupan batin atau diri.
Menariknya, nama tersebut membuka kemungkinan permainan makna yang indah. Ada penjelasan yang berkembang dalam masyarakat bahwa mangga itu disebut lali jiwa karena rasanya begitu nikmat hingga membuat orang lupa diri. Apa pun asal-usul penamaan tersebut, bahasa telah mempertemukan dua hal yang tampaknya berjauhan, yaitu buah dan jiwa.
Dari sana, lali jiwa dapat dibaca lebih jauh. Bukan sekadar lupa nama, lupa tempat, atau lupa sebuah janji. Melainkan keadaan ketika manusia perlahan kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.
Ada masa ketika seseorang begitu sibuk mengejar sesuatu sampai tidak lagi tahu untuk apa ia mengejarnya. Ada orang yang begitu lama menyenangkan orang lain sampai lupa apa yang sebenarnya ia inginkan. Ada pula yang begitu lama menyimpan luka sampai tidak mampu lagi mengenali dirinya di luar luka tersebut.
Lali jiwa, dalam pengertian ini, bukan kehilangan jiwa. Ia adalah kehilangan hubungan dengan jiwa itu sendiri.
Dalam kebudayaan Jawa, kita mengenal ungkapan eling lan waspada. Eling berarti ingat atau sadar. Waspada berarti berhati-hati terhadap apa yang sedang terjadi.
Eling bukan sekadar mengingat nama sendiri. Ia adalah kesadaran untuk mengetahui siapa diri kita, apa yang sedang kita rasakan, ke mana kehidupan sedang membawa kita, dan kapan kita membutuhkan pertolongan.
Barangkali di situlah bahasa budaya bertemu dengan pengalaman kesehatan jiwa.
Tentu saja lali jiwa bukan istilah dalam diagnosis psikiatri. Ia adalah ungkapan budaya. Namun bahasa budaya terkadang membantu kita mendekati pengalaman manusia yang sulit dijelaskan hanya dengan istilah medis.
Dalam psikologi dan psikiatri, pengalaman seperti halusinasi, waham, kecemasan berat, depresi, atau perubahan perilaku mempunyai penjelasan klinis masing-masing. Skizofrenia, misalnya, merupakan gangguan mental serius yang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, berperilaku, dan berhubungan dengan kenyataan.
Diagnosis membantu menjelaskan penyakit. Tetapi diagnosis tidak menjelaskan seluruh manusia.
Seseorang yang mempunyai diagnosis gangguan jiwa tetap mempunyai nama, keluarga, pekerjaan, persahabatan, cita-cita, kegembiraan, kesedihan, dan kemungkinan untuk pulih. Ia bukan sekadar diagnosis yang tertulis dalam rekam medis.
Persoalan kesehatan jiwa di Indonesia hari ini semakin terlihat. Bukan hanya karena masyarakat mulai lebih terbuka membicarakannya, tetapi juga karena negara berusaha memperluas deteksi dini dan pelayanan kesehatan jiwa.
Pada Oktober 2026, Kementerian Kesehatan melaporkan skrining kesehatan jiwa melalui berbagai program telah menjangkau lebih dari 71,8 juta jiwa. Dari hasil skrining tersebut, ditemukan dugaan gejala depresi pada 1,2 persen sasaran dan gejala kecemasan pada 0,9 persen sasaran.
Angka-angka itu mudah dibaca sebagai statistik. Tetapi di balik setiap angka ada manusia.
Ada anak muda yang mungkin setiap malam sulit tidur. Ada pekerja yang tetap datang ke kantor sambil menyembunyikan kecemasan. Ada orang tua yang tidak tahu mengapa anaknya semakin banyak diam. Ada seseorang yang tertawa bersama teman-temannya, tetapi ketika pulang ke rumah merasa sangat kosong. (***)
*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali, yang menetap di Denpasar. Ia menulis esai kebudayaan, kehidupan urban Bali, puisi, serta isu kesehatan mental di berbagai media. Sejak 2018, ia telah menulis dan menerbitkan 21 buku.
Angga merupakan salah satu pendiri Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali, komunitas yang menjadi ruang dukungan, edukasi, dan advokasi bagi penyintas skizofrenia serta keluarga. Ia juga aktif dalam kegiatan literasi kesehatan jiwa dan menulis dari perspektif pengalaman hidup sebagai penyintas skizofrenia.
Selain menulis untuk berbagai media, Angga mengembangkan Bicarabali.com, media independen yang berfokus pada persoalan sosial dan kebudayaan Bali. Memoarnya, Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku, diterbitkan oleh Brilliant Books, Yogyakarta, pada 2026.


