DENPASAR, kanalbali.id– Potensi cuaca ekstrem selama masa peralihan musim atau pancaroba dari kemarau ke penghujan agar diminta diwaspadai oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Bali.
Masa pancaroba di Pulau Bali diperkirakan berlangsung selama dua hingga tiga dasarian atau sekitar 30 hari atau sebulan. Namun, durasinya bisa berbeda-beda di setiap wilayah, bergantung pada Zona Musim (ZOM).
Kepala Stasiun Klimatologi Bali, Aminudin Al Roniri mengatakan untuk periode masa peralihan atau pancaroba dari musim kemarau ke penghujan biasanya berlangsung selama 2 dasarian hingga 3 dasarian.
“Tergantung masing-masing wilayah zona Musim di Bali,” kata kata Aminudin, dikonfirmasi Kamis (5/11).
Ia menerangkan, pada periode pancaroba memang kondisi atmosfer sedang tidak stabil, karena akan mengalami transisi musim, sehingga banyak potensi terjadinya cuaca ekstrem yang terjadi dalam waktu singkat dan berubah-ubah.
“Maka dari itu, potensi terjadinya bencana hidrometeorologi juga berpeluang tinggi, seperti tanah longsor, banjir, dan lain-lainnya,” ujarnya.
Peringatan BMKG tersebut menjadi perhatian menyusul sejumlah kejadian bencana yang dilaporkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali di beberapa kabupaten dalam beberapa hari terakhir.
Sebelumnya, akibat hujan deras dan angin kencang atau cuaca ekstrem yang terjadi sejak Minggu (1/11) hingga Senin (2/11), tercatat ada puluhan titik pohon tumbang dan terjadi longsor di sejumlah titik wilayah Pulau Bali.
Salah satunya, dari catatan BPBD Provinsi Bali, untuk peristiwa longsor yang terjadi di kawasan Eco Park Pelaga Glamping Retreat, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali, pada Minggu (1/11) sekitar pukul 23:00 WITA.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bali Gede Teja Bhusana mengatakan, longsor terjadi sekitar pukul 23.00 WITA dan menimpa atau merusak 4 tenda glamping dan satu tenda diantaranya hanyut.
“Pemicunya, hujan sangat lebat di kawasan Pelaga (121 mm/hari). Pelaga Ecopark seluas 4 hektar, memiliki 25 unit tenda glamping. Topografinya di kemiringan atau jurang dan pinggir sungai atau Tukad Yeh Kilap,” kata Bhusana dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/11) malam.
Ia menerangkan, saat peristiwa longsor tersebut ada 23 tamu yang menginap Eco Park Pelaga Glamping Retreat, dan 21 orang selamat tetapi 2 orang korban masih dalam pencarian.
“Saat kejadian terdapat 23 tamu menginap, 21 berhasil selamat. Sementara 2 masih dalam pencarian yaitu 1 orang lokal bernama Bangkit Mubarok dan 1 orang asing identitas belum diketahui,” imbuhnya.
Kemudian, untuk kegiatan di tempat tersebut
telah dilakukan menutup sebagian pintu air bendungan di hulu agar air ke sungai berkurang, dengan maksud memudahkan pencarian di sepanjang sungai. Selanjutnya,
pencarian dengan menyemprot air pada timbunan tanah di lokaai tenda dan menyusuri sungai sampai ke bendungan Batul Lantang sekitar 500 meter dan pencarian dengan bantuan anjing pelacak atau K9 Polda Bali.
“Hingga pukul 17.30 WITA, belum dapat menemukan korban. Operasi pencarian akan dilanjutkan besok,” jelasnya.
Ia menambahkan, bahwa Minggu (1/11) malam telah terjadi hujan di seluruh Bali, untuk di wilayah Kabupaten Badung, Jembrana, Buleleng dan Kota Denpasar, hujan sangat lebat. Untuk di Kabupaten Tabanan, Gianyar, Klungkung, Karangasem, Bangli, hujan ekstrim,
Untuk di wilayah Kabupaten Gianyar ada 15 titik, diantaranya pohon tumbang 4 titik, jalan jebol 1 titik, tanah longsor 8 titik, tembok roboh 1 titik, bangunan roboh 1 titik.
Kemudian, di Kabupaten Badung ada 6 titik. Diantaranya, jalan Jebol 1 titik, tanah longsor 3 titik, pohon tumbang 1 titik, tembok roboh 1 titik. Selanjutnya, di Kabupaten Buleleng,
ada da 5 titik, senderan jebol 1 titik, tanah longsor 1 titik, jalan jebol 1 titik, bangunan roboh 2 titik.
Untuk di Kabupaten Bangli ada 11 titik. Diantaranya, pohon tumbang 4 titik, tanah longsor 6 titik, jalan jebol 1 titik. Kemudian, di Kabupaten Klungkung ada 10 titik, diantaranya pohon tumbang 7 titik, tanah longsor 1 titik, jalan jebol 1 titik, dan banjir 1 titik.
Selanjutnya, di Kabupaten Karangasem ada 12 titik diantaranya, pohon tumbang 6 titik, tanah longsor 4 titik, tembok jebol 1 titik, pelinggih roboh 1 titik. Dan di Kabupaten Tabanan ada 5 titik yakni pohon tumbang 1 titik dan tanah longsor 4 titik. (kanalbali/KAD)


