Nestapa Bali karena BBM dan Ketergantungan pada Kendaraan Pribadi

Antrean kendaraan pribadi mencari BBM - IST
Antrean kendaraan pribadi mencari BBM - IST

Kelangkaan BBM pada Oktober ini menunjukkan betapa rentannya mobilitas masyarakat ketika distribusi energi mengalami gangguan.

Oleh: Angga Wijaya

PAGI ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di sebuah warung Madura. Selain menjual sembako, makanan, dan minuman, warung itu menyediakan bahan bakar minyak (BBM) eceran melalui alat yang lazim disebut Pertamini.

Antrean di warung kecil itu menjadi pemandangan yang tidak biasa. Orang-orang datang dengan sepeda motor, berharap memperoleh bensin setelah kesulitan menemukannya di sejumlah SPBU. Sebagian mungkin hendak berangkat bekerja, mengantar anak sekolah, pergi kuliah, atau menjalankan usaha. Saya sendiri membutuhkan bensin untuk menunjang mobilitas sehari-hari.

Hampir sepekan terakhir, kelangkaan BBM melanda sejumlah wilayah di Bali, terutama Denpasar dan Badung. Antrean kendaraan mengular di sejumlah SPBU. Beberapa tempat kehabisan stok sehingga pengendara harus berkeliling mencari tempat lain yang masih menyediakan bensin. Di beberapa jalan, warga bahkan terlihat mendorong sepeda motor karena kehabisan bahan bakar.

Situasi ini memperlihatkan betapa pentingnya bensin bagi kehidupan masyarakat Bali. Ketika pasokannya terganggu, bukan hanya perjalanan yang terhambat. Pekerjaan, kegiatan ekonomi, pendidikan, dan berbagai urusan rumah tangga ikut terdampak.

Namun, di balik antrean panjang tersebut, ada persoalan yang lebih mendasar daripada keterlambatan distribusi energi. Bali telah membangun kehidupan sehari-hari yang sangat bergantung pada kendaraan pribadi, terutama sepeda motor.

Ketika bensin sulit diperoleh, ketergantungan itu terlihat dengan jelas. Masyarakat seolah tidak memiliki cukup banyak pilihan untuk tetap bergerak.

Ketika pasokan bensin terganggu

Kelangkaan BBM pada Oktober ini menunjukkan betapa rentannya mobilitas masyarakat ketika distribusi energi mengalami gangguan.

Pada awal Oktober, antrean panjang mulai terlihat di sejumlah SPBU Denpasar dan Badung. Berdasarkan pemantauan aparat, keterlambatan kapal pengangkut BBM menuju Terminal BBM Sanggaran diduga menjadi salah satu penyebab gangguan pasokan. Pertamina Patra Niaga kemudian mengakui adanya keterlambatan pengiriman Pertalite dan menyatakan sedang mengupayakan pemulihan distribusi.

Pada Minggu, 11 Oktober, kapal tanker bersandar dengan membawa 18.000 kiloliter Pertalite dan 2.500 kiloliter Pertamax. Pertamina kemudian mengumumkan tambahan penyaluran BBM sebanyak 26.200 kiloliter yang dijadwalkan datang secara bertahap pada 12, 14, dan 16 Oktober melalui Terminal BBM Sanggaran dan Manggis. Perusahaan juga menyebut konsumsi Pertalite di Bali mencapai rata-rata sekitar 2.200 kiloliter per hari.

Pada Senin, 12 Oktober, Gubernur Bali Wayan Koster memanggil perwakilan Pertamina dan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas). Koster meminta pembenahan pasokan dan distribusi agar kebutuhan masyarakat terpenuhi dan antrean di SPBU dapat diatasi. Namun, pada hari yang sama, sejumlah SPBU masih dilaporkan kehabisan BBM.

SPBU pilih tutup - IST
SPBU pilih tutup – IST

Pagi berikutnya, ketika saya mengantre bensin di warung Madura, persoalan itu masih terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Gangguan distribusi tentu perlu diselesaikan melalui koordinasi yang baik antara Pertamina, pemerintah, dan pihak terkait. Masyarakat berhak mendapatkan informasi yang jelas mengenai penyebab gangguan, perkiraan pemulihan, serta langkah yang dilakukan untuk menjamin ketersediaan BBM.

Namun, setelah persoalan pasokan dibenahi, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting. Mengapa gangguan BBM selama beberapa hari dapat begitu mengusik kehidupan masyarakat?

Jawabannya bukan hanya karena bensin merupakan sumber energi. Bensin juga menjadi penopang sistem mobilitas yang sebagian besar bergantung pada kendaraan pribadi.

Pulau kecil, kendaraan membeludak

Bali bukan pulau yang memiliki ruang tanpa batas. Jalan-jalannya harus menampung pergerakan penduduk lokal, wisatawan, kendaraan logistik, angkutan umum, dan berbagai kegiatan ekonomi. Di kawasan perkotaan dan pusat pariwisata, kebutuhan ruang jalan semakin besar seiring meningkatnya aktivitas masyarakat.

Sementara itu, jumlah kendaraan bermotor terus bertambah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 5.537.916 kendaraan bermotor di Bali pada 2025. Jumlah tersebut terdiri atas 4.756.197 sepeda motor, 569.311 mobil penumpang, 195.797 mobil barang, dan 16.611 bus. Dengan demikian, sepeda motor mencakup sekitar 85,9 persen dari jumlah kendaraan yang tercatat.

Angka itu perlu dibaca secara hati-hati. Jumlah kendaraan terdaftar tidak otomatis menunjukkan berapa banyak kendaraan yang setiap hari beroperasi di jalan. Namun, dominasi sepeda motor memperlihatkan betapa pentingnya kendaraan roda dua bagi mobilitas masyarakat Bali.

Sepeda motor menawarkan kemudahan yang sulit ditandingi. Harganya relatif terjangkau dibandingkan mobil, dapat dibeli dengan sistem cicilan, mampu melewati jalan sempit, dan memungkinkan pengendara mencapai tempat tujuan tanpa harus berganti kendaraan.

Bagi pekerja berpenghasilan terbatas, sepeda motor bukan selalu simbol kemewahan. Kendaraan itu bisa menjadi kebutuhan untuk mempertahankan pekerjaan. Bagi mahasiswa, sepeda motor memudahkan perjalanan menuju kampus. Bagi pedagang, pengemudi ojek, kurir, dan pekerja lapangan, kendaraan tersebut bahkan menjadi alat produksi.

Karena itu, persoalannya bukan menyalahkan masyarakat yang membeli atau menggunakan kendaraan pribadi. Masyarakat memilih kendaraan berdasarkan kebutuhan, waktu, biaya, dan ketersediaan alternatif.

Persoalan sesungguhnya muncul ketika kendaraan pribadi menjadi pilihan yang nyaris tidak terhindarkan karena transportasi publik belum mampu memenuhi kebutuhan perjalanan secara menyeluruh.

Ketika seseorang harus berangkat bekerja tepat waktu, sementara angkutan umum tidak tersedia di dekat rumah atau tidak menjangkau tempat kerjanya, sepeda motor menjadi jawaban praktis. Ketika perjalanan membutuhkan beberapa kali pergantian kendaraan, mengendarai sepeda motor sendiri sering kali terasa lebih sederhana.

Pilihan individual yang masuk akal itu, ketika dilakukan oleh jutaan orang, menghasilkan persoalan kolektif berupa kemacetan, kebutuhan ruang parkir, polusi udara, dan konsumsi BBM yang besar.

Inilah paradoks kendaraan pribadi. Bagi seseorang, sepeda motor merupakan solusi atas kesulitan mobilitas. Namun, ketika hampir semua orang membutuhkan solusi yang sama, jalanan menjadi semakin padat dan perjalanan justru semakin melelahkan. 

TENTANG PENULIS

I Ketut Angga Wijaya adalah jurnalis, esais, dan penulis puisi yang berasal dari Negara, Jembrana, Bali, dan kini tinggal di Denpasar. Ia menulis tentang kebudayaan, kehidupan sosial, lingkungan, kebijakan publik, dan pengalaman sehari-hari masyarakat Bali. Tulisan-tulisannya terbit di sejumlah media, antara lain Tatkala.co, Kanal Bali dan BaleBengong. Ia juga mengembangkan Bicarabali.com sebagai media independen yang mengusung jurnalisme humanis, reflektif, dan mendalam tentang Bali.

Apa Komentar Anda?