Okupansi Hotel di Bali Menurun, PHRI Sebut Wisdom Berkurang

Ilustrasi landasan pacu bandara. Foto: Shutter Stock

DENPASAR, kanalbali.id– Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya menerangkan bahwa pada 2025 terjadi  penurunan keterisian kamar hotel di Bali turun sekitar 2-3 persen.

Hal itu, karena kunjungan wisatawan domestik turun ke Pulau Dewata di 2025 tetapi penurunan itu tidak terlalu signifikan.

“Mungkin menurunnya 2-3 persen, itu tidak termasuk menurun sekali,” kata Suryawijaya, saat dihubungi pada Kamis (8/1) malam.

Ia menerangkan dari Bulan Januari-Desember 2025, jika melihat data yang ada terjadi peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Pulau Bali, dibandingkan kunjungan wisman di 2024.

“Kalau kami bandingkan di tahun 2024 itu ada 6,3 juta (wisman). Di tahun 2025 meningkat menjadi 7.050.000. Yang ada penurunan adalah dari pangsa pasar domestiknya,” imbuhnya.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menargetkan di 2025 kunjungan wisatawan domestik ke Pulau Bali diharapkan bisa mencapai 10,5 juta. Tetapi target itu, tidak tercapai dan angkanya dari catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, kunjungan wisatawan domestik mencapai 9,2 juta sepanjang 2025 ke Bali.

“Target yang kami inginkan domestik itu adalah 10,5 juta yang dipasang oleh Pemerintah Provinsi (Bali) di tahun 2025. Tapi nyatanya belum mencapai target, masih di bawah 10 juta lagi dikit,” jelasnya.

Ia menerangkan, penyebabnya menurunnya kunjungan wisatawan domestik ke Pulau Bali itu ada banyak faktor. Pertama, karena harga tiket pesawat masih relatif mahal, kedua tidak adanya cuti bersama seperti tahun sebelumnya.

Selanjutnya ketiga, karena ada pengaruh dari cuaca ekstrem, keempat wisatawan domestik juga banyak memilih berlibur ke luar negeri dan kelima di tahun ini banyak wisatawan domestik yang memilih berwisata di daerahnya masing-masing.

“Misalnya banyak yang berwisata ke Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, dan lain-lain. Itu kan bagus, tidak ada masalah,” jelasnya.

Ia juga menerangkan, jika terjadi penurunan okupansi hotel di Bali, itu kemungkinan juga tidak seluruh di hotel itu mungkin case to case. Karena di wilayah tertentu seperti di daerah Kabupaten Badung dan Kota Denpasar, okupansi hotel cukup tinggi saat momen Natal dan Tahun Baru (Nataru).

“Jadi kemungkinan ini case to case berarti.
Tapi banyak yang saya pantau, khususnya di daerah Badung dan di Denpasar itu, tingkat hunianya masih relatif bagus. Kalau ada di daerah lain barangkali turun, misalnya daerah timur (Kabupaten Karangasem) ataupun utara (Kabupaten Buleleng), mungkin bisa jadi. Karena marketnya memang domestik barangkali,” katanya.

“Tapi di Bali itu tingkat hunianya, kalau kita ngomong overall, Bali itu masih tetap bagus.
Dari Januari sampai Desember banyak hotel secara umum itu hotelnya running-nya itu 70 sampai 80 persen. Jadi kalau ada yang di bawah itu, berarti harus banyak evaluasi oleh manajemennya,” jelasnya.

Di sisi lain, dengan meningkatkannya kunjungan wisatawan baik asing maupun domestik tentu ada demand atau penambahan kamar atau ketersediaan kamar baru di Bali.

“Ketersediaan kamar yang baru, baik hotel, kondotel, apartemen, vila, juga guest house, termasuk rumah-rumah sewa atau kos-kosan juga meningkat. Itu penyebabnya,” ujarnya.

“Sehingga barangkali ada penurunan, mungkin 3-5 persen itu sangat kompetitif. Itu sangat bergantung ke hotelnya masing-masing tapi secara umum pariwisata Bali masih diminati,” jelasnya.

Ia menegaskan, peningkatan kedatangan jumlah wisatawan tidak harus selaras dengan peningkatan okupansi hotel di Bali. Karena di sana ada persaingannya atau kesediaan daripada kamar-kamar baru itu juga meningkat juga.

Ia juga mengatakan, kedatangan wisatawan di 2025 adalah rata-rata kalangan middle low jadi banyak yang berwisata sesuai isi kantongnya.

“Jadi banyak yang menyasar sesuai dengan kemampuan daripada kantongnya atau bekalnya itu. Seperti saya bilang, di domestik turun sedikit tapi di internasional naik 11 persen, jadi sebetulnya equal atau hampir sama,” ujarnya.

“Kenapa secara umum okupansinya kelihatan menurun sedikit, iya karena ada penambahan kamar. Kalau tidak ada penambahan kamar mungkin saja bisa tingkat hunian kita sama dengan tahun lalu,” katanya.

Ia memperkirakan, penambahan kamar penginapan baru di Bali, baik itu hotel, vila, pondok wisata, guest house dan lain-lainnya di tahun 2025 meningkat 5 hingga 10 persen.

“Perkiraan saya (di 2025) bisa saja mencapai 5 hingga 10 persen ada penambahan kamar. Kalau dulu di tahun 2024 itu bisa mencapai 160 ribu hotel room. Baik yang berbintang, baik yang non-star, termasuk apartemen, pondok wisata, vila, guest house itu yang terjadi,” ujarnya. (kanalbali/KAD)

Apa Komentar Anda?