BADUNG, kanalbali.id – Upacara Guru Piduka digelar Manajemen PT. Kreasi Bali Prima sebagai perusahaan sektor industri pariwisata dan hiburan yang menaungi Atlas Super Club, Bali, Indonesia.
Acara dilakukan di Pura Desa Lan Puseh Desa Adat Berawa Jalan Pantai Berawa, Banjar Berawa, Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali. Upacara pada Sabtu (8/2/2025) itu dilaksanakan dengan sarana sesajen lengkap yang disiapkan oleh para pemangku dan penglinsir pura setempat.
Bangkit dengan 19 Wisata Alam, Desa Srimulyo di Yogyakarta Dapat Penghargaan dari Menteri Desa
“Upacara ini sebagai permohonan maaf secara niskala kepada dewa atau leluhur atas insiden yang telah terjadi agar dapat menjalani hidup dengan lebih baik,” kata Direktur Event dan Entertainment Atlas, Citra Yunita.
Di Muscab NTT, BKH Bawa Pesan SBY dari Lagu Bryan Adams ” Everything I Do. I Do It for You”
“Kami memohon maaf dan pengampunan sebesar-besarnya kepada masyarakat dan umat Hindu, khususnya di Bali, terhadap insiden karya visual yang menyerupai Dewa Siwa, yang telah terputar di layar LED (Light-Emitting Diode) di Atlas Super Club, pada tanggal 30 Januari 2025 lalu,” jelasnya.
Sebelumnya, dalam Siaran Pers 5 Februari 2025 lalu, manajemen Atlas juga menjelaskan bahwa mereka sudah memenuhi dan merespon Surat Teguran dari PHDI Bali dan LBH KMHDI untuk melakukan permohonan maaf secara terbuka.
BACA JUGA: Promosikan Blue Economy, Bali Ocean Days Kembali Digelar
Bahkan sejak 3 Februari 2025, sejumlah mediasi dan audiensi juga dilakukan terhadap berbagai instansi terkait di Bali. Mulai dari pemuka agama, aparat keamanan, anggota perwakilan rakyat, organisasi masyarakat, dsb.
Selain itu, Atlas juga sudah melakukan pertemuan dengan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Bali, PHDI Bali, DPRD Bali, DPRD Badung, SatPol PP dan pihak kepolisian.
“Ini semua dilakukan sebagai bukti kerendahan hati kami, wujud permohonan maaf kami atas insiden yang dilakukan dengan tidak sengaja tersebut,” sambung Citra.

Sementara Kepala Humas Atlas, Tommy Dimas, mengatakan bahwa Upacara Guru Piduka diniatkan agar dapat berjalan bersamaan dengan Hari Raya Saraswati. Sebagai wujud toleransi dan penghargaan terhadap kepercayaan masyarakat Hindu Bali.
Dia menyebut, sejak dibuka tahun 2022, telah menjadi tempat mencari nafkah bagi 1300 pekerja. Lebih dari 700 karyawan Atlas ternyata merupakan umat Hindu Bali yang telah menjadi bagian penting bagi industri pariwisata di Pulau Dewata.
Salah seorang warga Desa Adat Berawa, Made Sandra, mengatakan bahwa usai Upacara Guru Piduka diharapkan keadaan dapat kembali tenang dan kondusif. “Tujuan utamanya mari kita saling memaafkan,”ungkapnya.
I Made Kamajaya Perbekel Desa Tibubeneng menambahkan bahwa ribuan orang menggantungkan hidupnya dari Atlas. Hal ini perlu menjadi pertimbangan mengingat pentingnya keberlangsungan ekonomi masyarakat Bali. (Kanalbali/RLS)



Be the first to comment