BADUNG, kanalbali.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta 34 gubernur dalam kegiatan di Kawasan Ibu Kota Negara (IKN) untuk membawa tanah dan air dari daerah masing-masing ke IKN.
Terkait hal itu, Gubernur Wayan Koster menjelaskan, untuk tanah dan air dari Bali yang dibawa ke IKN diambil dari Pura Pusering Jagat, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, untuk dipersatukan di IKN Nusantara di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Dipilihnya, tanah dan air yang diambil dari Pura Pusering Jagat, Desa Pejeng, Tampaksiring, Gianyar karena pura tersebut merupakan pura yang ada di pusat kosmologi dunia atau Pusering Jagat yang juga diyakini sebagai pusat samudera atau Pusering Tasik.
“Sehingga tanah dan air yang ada di Pura Pusering Jagat merupakan tanah suci pusat kosmologi dunia sekaligus pusat samudera, sebagai cikal bakal terbentuknya dunia dan segala kehidupan di dalamnya,” katanya.
Selain itu, Bali juga diidentikan sebagai Padma Bhuwana atau bunga teratai dengan 8 helai daun atau orientasi yang masing-masing di Timur Hyang Iswara, Tenggara Hyang Mahesora, Selatan Hyang Brahma, Barat Daya Hyang Rudra, Barat Hyang Mahadewa, Barat Laut Hyang Sangkara, Utara Hyang Wisnu, Timur Laut Hyang Sambu, dan di Tengah-tengah Hyang Siwa yang beristana di Pura Pusering Jagat yaitu puser berarti pusat, jagat berarti alam semesta atau kehidupan yang berada di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar-Bali.
“Tentu, kita berharap agar pembangunan berjalan dengan lancar sukses, dan IKN bisa terwujud di tempat yang ditentukan,” ujar Koster.

Sementara Wakil Gubernur Bali Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati atau Cok Ace menerangkan, dengan mengambil tanah dan air suci di Pura Pusering Jagat sebagai pusatnya Gumi Bali, diharapkan hubungan pemerintah pusat dengan Bali akan terjaga dengan kuat secara sekala niskala.
“Dengan pengambilan tanah dan air di Pusering Jagat kita berharap nanti hubungan pemerintah pusat dengan Bali benar-benar terjaga dan kuat,” kata Cok Ace dalam keterangan tertulisnya.
Cok Ace juga menerangkan, bahwa ternyata Kerajaan Bedahulu atau Bedulu atau disebut juga Kerajaan Pejeng karena lokasinya di Pejeng adalah kerajaan kuno di Pulau Bali pada abad ke-8 sampai abad ke-14, yang memiliki pusat kerajaan di sekitar Pejeng. Diperkirakan kerajaan ini diperintah oleh raja-raja keturunan Dinasti Warmadewa. Penguasa terakhir kerajaan Bedulu atau Dalem Bedahulu menentang ekspansi Kerajaan Majapahit pada tahun 1343 yang dipimpin oleh Gajah Mada namun berakhir dengan kekalahan Bedulu.
Ia juga menyatakan, sejarah berdirinya kerajaan Bedahulu pada abad ke-4 di Campa, Muangthai bertahta Raja Bhadawarman. Beliau kemudian diganti oleh anaknya bernama Manorathawarman selanjutnya Rudrawarman. Anak Rudrawarman bernama Mulawarman merantau dan kemudian mendirikan Kerajaan Kutai, Kalimantan Timur.
“Di Desa Pejeng, Tampaksiring, Gianyar merupakan situs dinasti Warmadewa Raja Bali abad ke 8 yang merupakan buyut dari Raja Mulawarman di Kutai, Kalimantan Timur. Sehingga hubungan Desa Pejeng dengan Kutai sangat dekat. Sehingga tanah dan air yang kita ambil dari Pura Pusering Jagat di Pejeng ini merupakan sebuah persembahan dari Bali untuk leluhur di Kalimantan,” ujarnya. (Kanalbali/KAD)



Be the first to comment