TABANAN, kanalbaliid – Tim Pengabdian Masyarakat (TPM) Universitas Waramdewa menggelar kegiatan pada Kamis (14/5/2026) di Desa Penebel, Tabanan, Bali.
Kegiatan TPM Universitas Warmadewa mengusung matei berupa teori dan praktek pembuatan pupuk kandang dengan judul : Pemberdayaan Kelompok Ketahanan Pangan Penebel Berlian Dalam Pengolahan Kotoran Sapi Menjadi Pupuk Organik Padat.
Materi diberikan oleh Ir. Ni Ketut Sri Rukmini, MP yang sekaligus sebagai Ketua Tim serta Dr. Ir. Ni Made Ayu Gemuh Rasa Astiti. Disamping ketua kelompok I Nengah Suardika beserta seluruh anggota kelompok.
Hadir pula dalam kegiatan ini adalah : Sekretaris Desa Penebel : Bapak I Kayan Agus Widia Ambara, S.Or.M.Or dalam laporannya, menyatakan, kegiatan Pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Warmadewa melibatkan tim yang terdiri dari berbagai bidang ilmu.
Diantaranya adalah Produksi ternak dan Sosial Ekonomi Peternakan yang sama-sama tertarik dalam meningkatkan kesejahteraan peternak melalui olahan kotoran sapi menjadi pupuk organik padat, serta melibatkan beberapa mahasiswa.
Dia menegaskan, tugas seorang dosen tidak hanya mengajar di kampus, tetapi wajib melakukan tridarma perguruan tinggi, disamping mengajar, meneliti dan hasil penelitiannya dihilirisari kemasyarakat melalui pengabdian masyarakat demi kesejahteraan masyarakat.

Adapun kegiatan kali ini dilakukan agar peternak di Desa Penebel mampu meningkatkan kualitas penghasilan dari olahan kotoran sapi menjadi pupuk organik padat. Pengabdian Institusi ini berjalan berkat bantuan dari DPPM Universitas Warmadwa. Selanjutnya anggota pengabdi (Ayu Gemuh) menyampaikan :
Memelihara sapi Bali dinilai masih sangat menguntungkan karena tidak hanya menghasilkan daging dan anak, tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan sebagai tenaga kerja. Kotoran sapi mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan oleh semua jenis tumbuhan.
Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur. Namun peternak harus mempertimbangkan sejumlah hal seperti soal lokasi dan penyiapan sarana dan pra sarana khususnya soal penyediaan kandang.
Selajutnya adalah masalah pemeliharaan sapi dimana penyediaan pakan yang baik sangat diperlukan. Diakhir kegiatan ketua tim pengabdi menyerahkan bantuan berupa, scop, cangkul, gerinda serta alat pencacah, disamping seluruh bahan yang digunakan praktek seperti EM4 dan Molasis serta ember, terfal.
Nah, mengapa kotoran sapi yang diolah menjadi kompos? Karena mudah didapat serta kotoran sapi merupakan Limbah yang biasanya jadi masalah lingkungan dengan sentuhan Em4 serta pengolahan jadilah pupuk organik yang bernilai jual tinggi.
Kelebihan kotoran sapi setelah jadi pupuk padat/kompos, Mampu Memperbaiki struktur tanah. Kompos kotoran sapi punya banyak bahan organik yang membuat tanah gembur, tidak padat, dan aerasi jadi bagus.
Akar tanaman lebih mudah menembus tanah.Meningkatkan daya simpan air & unsur haraBahan organik di kompos bersifat seperti spons. Tanah jadi lebih tahan kering dan tidak cepat kehilangan pupuk saat hujan. Serta Sumber hara lengkap. ( kanalbali/IST)


