JEMBRANA- Tim SAR atau Basarnas Bali masih melakukan pencarian korban kapal motor penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di Selat Bali, pada Rabu (2/7) malam.
Namun, hingga pencarian hari ketiga pada Sabtu (5/7) tim SAR gabungan masih belum menemukan puing maupun posisi bangkai KMP Tunu Pratama Jaya. Kemudian, untuk memaksimalkan pencarian, Basarnas mengerahkan kapal dengan teknologi sonar guna menyisir keberadaan kapal di dasar laut.
Kepala Basarnas Bali, I Nyoman Sidakarya, mengatakan bahwa pencarian dilakukan dengan melibatkan berbagai alat utama (alut).
“Bahwa untuk alut yang kita kerahkan dari pagi sampai dengan sore hari ini, itu yang pertama RIB 01 Jembrana bergerak sebanyak dua kali atau dua sorti yang kami laksanakan dengan hasil masih nihil. Untuk RIB 04 Buleleng itu bergerak satu sorti dan area pencarian dari selatan menuju utara,” kata dia saat konferensi pers di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali, Sabtu (5/6) sore.
Kemudian, salah satu kapal yang digunakan untuk deteksi bawah laut adalah kapal Manik Emas, milik Distrik Navigasi (Disnav) Benoa, yang dilengkapi sonar Multi Beam Echosounder 240.
“Itu telah melaksanakan atau mendeteksi koordinat terjadinya kapal tenggelam tersebut. Dari rencana sepuluh jalur penyisiran sonar, hingga sore ini baru empat jalur yang berhasil dilalui,” imbuhnya.
Selain itu, sejumlah armada laut lainnya juga dikerahkan, KN 49 KPLP Gilimanuk, dan KP Tanjung Rening Polairud Jembrana. Kapal-kapal itu menyisir di sekitar perairan Pantai Pebuahan, di Kecamatan Negara, Jembarana, yang merupakan lokasi sejumlah korban ditemukan sebelumnya.
Di sisi lain, pencarian melalui armada udara juga tetap dilanjutkan, dan untuk kondisi cuaca pada pencarian hari ini relatif baik dengan angin berkisar 7 knot. Arus laut dari selatan mengarah ke utara.
“Untuk faktor cuaca hari ini memang ada cerah berawan, tapi angin 7 knot, dengan arus dari selatan ke utara. Demikian yang dapat kami sampaikan sesuai dengan data BMKG,” jelasnya.
Selain itu, tim SAR terus juga berkomunikasi dengan nelayan lokal dan kapal-kapal yang melintas, jika menemukan tanda-tanda keberadaan korban dan sesuai dengan Undang-undang Nomor 29, Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan, operasi SAR dilakukan hingga tujuh hari. Tetapi, tim SAR gabungan tidak terpaku pada batas waktu tersebut dan tetap berharap para korban bisa segera ditemukan.
“Kami tidak menentukan batasan pasti. Jika sebelum hari ketujuh sudah ditemukan, maka pencarian akan ditutup,” ujarnya.
Pihaknya juga menyampaikan, hingga sore hari ini, update operasi SAR terhadap kecelakaan dengan hasil nihil.
“Untuk unsur udara itu masih terus melaksanakan pencarian dan unsur-unsur kapal-kapal yang terlibat dalam pelaksanaan operasi SAR masih berlangsung. Sampai dengan sore hari ini, update data baik itu di posko evakuasi di Gilimanuk maupun Posko utama yang ada di Ketapang,


