Agar Tak Terjebak Stigma, Kenali Dua Aliran Hacker Si Peretas

pixabay by janeb13

HACKER atau peretas merupakan istilah yang digunakan untuk merujuk seseorang atau sekelompok orang yang masuk ke dalam sistem jaringan. Secara umum, hacker memiki stigma negatif karena dianggap sebagai pelaku vandalisme digital.

Padahal menurut sistem analis dan IT Security di RS Anggrek Mas Jakarta, Randy Mandala Putra, hacker tak seharusnya selalu mendapat stigma negatif.

“Ada hacker, ada juga cracker. Ini sangat berbeda. Istilahnya. hacker terbagi dalam dua aliran yaitu putih dan hitam. Putih disebut white hat dan hitam black hat. Masyarakat biasanya mengeneralisasi padahal mereka memiliki niat dan tujuan berbeda,” kata Randy Mandala.

Ia melanjutkan, hacker adalah istilah untuk seseorang yang mempelajari, memodifikasi, menganalisa dan masuk ke sebuah jaringan komputer. Sementara cracker adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dalam bidang pemprograman dan dapat membuka sistem jaringan komputer, tapi dengan tujuan negatif.

“Hacker biasanya mencari kelemahan atau bug dalam sistem. Kelemahan akan dilaporkan pada pihak tertentu sekaligus dicarikan solusi untuk memperbaiki sistem tersebut,” lanjut Randy saat berbicara dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, Kamis (30/9/2021).

Beda dengan hacker, lanjut Randy, cracker biasanya melakukan crack demi kejahatan seperti mencuri data penting untuk kemudian di jual ke pihak tertentu. Meski memiliki perbedaan jelas baik dari nama, niat hingga tindakan, namun istilah cracking dan cracker masih belum familiar di telinga masyarakat.

“Banyak kesalahpahaman di kalangan publik bahwa hacker adalah pelaku perusakan yang mengacau sistem jaringan. Padahal dari awal saja niatnya berbeda. Hacker niat membantu mencari masalah, memberi masukan apa yang harus dilakukan,” tambah Randy.

Jangan Salah, Hacking Itu adalah Ilmu Seni Keamanan Jaringan Komputer

Secara gatis besar, hacker memiliki sifat seperti kemampuan menganalisa kelemahan suatu sistem atau situs, mereka juga memiliki etika serta kreatif dalam merancang sistem. Hacker juga umumnya tidak pelit membagi ilmu, serta selalu memperdalam ilmunya dan terus memperbanyak pemahaman tentang sistem operasi.

Sementara itu, lanjut Randy, sifat-sifat dasar cracker adalah membuat suatu program atau sistem demi kepentingan dirinya sendiri, bersifat destruktif atau merusak dan menjadikannya sebagai keuntungan. Cracker juga bisa berdiri sendiri atau berkelompok saat bertindak, mempunyai laman tersebunyi atau dark website serta mempunyai IP address yang tidak bisa dilacak.

Selain Randy Mandala Putra, hadir pula dalam Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, Kamis (30/9/2021) yaitu peneliti dan dosen Cenuk Sayekti, ahli komunikasi Rodrich Rolis Rahalalu, dan Nata Gein sebagai key opinion leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.