Membuat Konten Agama yang Positif di Medsos

pixabay by gulzer

DI era yang serba digital ini sangat mudah untuk melakukan komunikasi terutama karena adanya fasilitas jaringan internet yang terbuka bagi siapa saja. Selain berkomunikasi, Arnoldus Yanuarius Lede, S.Fil, Guru SMPK Santo Paulus Karuni dalam Webinar Literasi Digital di Sumba Barat Daya NTT Rabu 3 November 2021, mengatakan bahwa ruang digital juga bisa dimanfaatkan untuk membuat konten agama yang positif.

“Hal itu juga dimanfaatkan untuk melakukan dakwah atau ceramah dalam rangka menyebarkan ajaran ajaran positif dalam bidang keagamaan,” ujar Arnoldus dalam webinar yang dipandu oleh Yulian Noor ini.

Namun demikian, dalam berdakwah di ruang digital, pengguna digital harus memahami bagaimana membuat konten agama yang baik di medsos atau bisa dibilang sebagai penguatan literasi agama. Ada tiga tahap untuk penguatan literasi agama yang baik yaitu personal competency, comparative competency dan collaborative competency.

Penguatan literasi agama yang benar juga sangat penting untuk menjaga persatuan di Indonesi. Karena masih ada kelompok-kelompok orang kaum radikal dan kaum the mentalist yang berusaha untuk merusak keutuhan rasa kesatuan dan persatuan bangsa dan negara.

“Kalau kita sudah bisa melakukan tiga hal itu maka tidak akan ada pelecehan agama dan saling merendahkan agama oleh penganut agama yang satu dengan lainnya karena kita sudah saling bisa memahami,” bebernya.

Penggunaan media digital untuk menyebar konten positif mengenai agama juga termasuk bagian dari upaya menciptakan ruang digital yang sehat. Bila itu sudah tercapai makan dunia digital menjadi sangat efektif sebagai media belajar atau self developing.

Jangan Asal Sebar, Kenali Ciri Berita Hoaks yang Bisa Picu Perpecahan

“Manfaat internet itu banyak, namun semuanya tergantung pada penggunanya. Kalau kita ingin maju, maka gunakan internet untuk kebaikan. Tebarkan hal positif dan optimisme,” lanjutnya.

Namun demikian, kata Arnoldus, masih banyak pengguna yang belum paham mengenai manfaat dan etika berinternet. Akibatnya banyak muncul konten negatif dan ujaran kebencian.

Dari 1,3 juta konten negatif yang ditangani oleh kominfo Januari sampai September 2020 ada banyak sekali konten SARA termasuk konten radikal. Padahal jika setiap pengguna memahami pentingnya etika bermedia sosial, hal ini bisa diminamilisir.

Selain Arnoldus, turut hadir pembicara lainnya yaitu Adji Srihandoyo, Busineess development Director Koperasi Jasa Tri Capital Investama (TC Invest), Josephine Brightnesa, Marketing Manager dan Ichal Muhammad sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.