JAKARTA, kanalbali.id – Pertunjukan Palegongan Satua Calonarang garapan Bengkel Tari AyuBulan sukses digelar di Teater Salihara, Minggu (9/11), dalam dua sesi yang memukau penonton.
Dramatari karya mendiang Dr. A.A. Ayu Bulantrisna Djelantik ini kembali hadir setelah satu dekade, menandai peringatan sepuluh tahun sejak pertama kali dipentaskan pada 2015 di Galeri Indonesia Kaya.
Dalam versi terbarunya, Satua Calonarang tampil dengan durasi yang lebih panjang serta penyempurnaan pada tata gerak dan musik. Iringan gamelan dan juru tandak (penyanyi) yang tampil secara langsung memperkuat suasana dramatik, mengajak penonton menelusuri kisah klasik yang sarat simbol dan makna.
Kisah Calon Arang sendiri telah hidup berabad-abad dalam khazanah sastra dan seni Bali. Cerita rakyat ini berakar dari tradisi Jawa dan Bali, dengan jejak tertulis dalam naskah lontar bertarikh 1540 M (kode LOR 5387/5279), atau tahun saka 1462.
Melalui Palegongan Satua Calonarang (Ujaran Calonarang), Bengkel Tari AyuBulan menghadirkan kembali sosok perempuan Nusantara yang tangguh, berilmu, dan berani melawan stigma serta ketidakadilan.
Dramatari ini menjadi refleksi moral bahwa kebenaran dan kesalahan tidak selalu hadir dalam hitam dan putih, serta bahwa kekuatan perempuan berakar pada pengetahuan dan ketulusan.
“Pertunjukan ini adalah bentuk penghormatan kepada Ibu Bulantrisna Djelantik, sekaligus upaya kami meneruskan semangat beliau dalam menjaga relevansi tari palegongan di masa kini. Keterlibatan para penari lintas usia dalam produksi ini menjadi simbol kesinambungan dan semangat regenerasi yang selalu beliau tekankan,” ujar Nyoman Trianawati, pimpinan Bengkel Tari AyuBulan.
Melalui karya ini, Bengkel Tari AyuBulan menegaskan bahwa seni tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan ruang refleksi dan renungan bagi masyarakat masa kini.
Bengkel Tari AyuBulan adalah kelompok penari profesional yang didirikan di Bandung pada tahun 1994 oleh Dr. A.A. Ayu Bulantrisna Djelantik, maestro Legong Indonesia.
Dengan visi melestarikan kesenian Legong—yang dikenal sebagai “ibu” dari seluruh tari performatif di Bali—Bengkel Tari AyuBulan berkomitmen menjaga keaslian sekaligus memperkenalkan keindahan tarian klasik Bali kepada generasi baru.
Hingga kini, Bengkel Tari AyuBulan tetap aktif berkarya dan mengajar. Para penarinya juga menjadi pengajar di berbagai kelas tari yang dinaungi oleh cabang pendidikan di Jakarta dan Bandung, Lestari AyuBulan, yang berfokus pada pewarisan nilai dan teknik tari klasik Bali kepada murid-murid dari berbagai kalangan. ( kanalbali/RLS )


