Meningkat Selama Pandemi, Ini Manfaat Paperless Transaction

pixabay by kreatikar

Perkembangan teknologi mengubah banyak hal dalam kehidupan. Salah satunya termasuk dalam sistem pembayaran.
Jika puluhan tahun lalu, uang masih menjadi alat pemabyaran atau transksi utama, kini keberadaannya mulai tergantikan dengan adanya paperless transaction. Kemajuan teknologi kini membuat masyarakat memilih melakukan pembayaran secara digital.

“Dalam konteks transaksi digital, paperless transaction adalah metode transaksi yang pencatatannya dilakukan secara digital,” ujar Josephine Brigthnessa, Marketing Manager Digital App, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital wilayah Paniai, Papua, Selasa, (12/10/2021).

Perempuan yang akrab disapa Jojo itu menjelaskan bahwa dalam paperless transaction media tukarnya biasanya tanpa berupa alat tukar fisik atau kertas. Melainkan perangkat teknologi. Kemajuan ini membuat paperless transaction ini membawa manfaat.

“Pertama itu lebih aman dan efisien. Aman karena tidak menggunakan uang tunai, pengguna tidak perlu terlalu membawa uang terlalu banyak,” ujar Jojo.

Selanjutnya efisien karena khususnya bagi pelaku UMKM bisa bertansaksi di mana saja dan kapan saja. Jojo juga mengatakan bahwa paperless transaction sendiri relatif lebih higienis.

Hal itu karena metodenya tidak bertukar uang secara fisik atau tidak perlu mengakses ATM yang mungkin tertempel virus dan kuman. “Jadi selama pandemi, penggunaan digital transaction juga meningkat 2,7 persen, ” kata Jojo.

Manfaat lainya transaksi digital juga lebih mudah dilacak. Pembayaran atau transksi dengan menggunakan metode paperless biasanya lebih mudah mengakses riwayat pembayaran yang dilakukan.

Mewujudkan Internet Aman dan Sehat

Meski demikian, kemajuan ini juga masih memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya ialah membutuhkan jaringan internet yang memadai.

“Karena kondisi wilayah Indonesia yang kepulauan dan sangat luas, masih banyak daerah khususnya di pedesaan yang belum memiliki jaringan intenet memadai,” kata dia.

Padahal dalam paperless transaction sangat bergantung pada ketersediaan internet. Kemudian, paperless transaction juga rentan terhadap kejahatan siber.
“Terakhir juga belum semua tempat menyediakan. Karena masih terbatasnya merchant yang menyediakan pembayaran cashless di kota-kota kecil dan pedesaan,” kata Jojo.

Dalam webinar kali ini juga hadir Yulia Dian, Social Media Specialist dan Jhonny Teddy Wakum, Kepala Divisi Kampanye LBH Papua serta Reza Aditya sebagai key opinion leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (Kanalbali/rls)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.