Pikirkan Terlebih Dahulu Dampak Postingan Jika ingin Mengunggah di Medsos

RAMAINYA dunia internet termasuk media sosial membuat penggunanya kebablasan. Ada saja kabar orang-orang yang terjerat kasus hukum karena perilakunya di ruang digital, termasuk karena komentar-komentar negatif tak mengindahkan etika dan hukum yang ada.

Hal itu dikatakan oleh Nofi Kurniati, SE, Analis APBD dan APBN Biro Administrasi Pembangunan Provinsi NTB dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin 11 Oktober 2021.

Dikatakan Nofi bahwa banyak orang-orang sekarang mengeluarkan unek-uneknya di media sosial dan akan menjadi bumerang ketika menjadi sebuah keniscayaan bagi pengguna media terutama dalam mengekspresikan kemudahan.

“Oleh sebab itu ada beberapa hal yang harus dipahami sebelum kita mempublikasikan ide dan curahan hati di ruang digital dengan memahami etika digital. Etika digital merupakan kemampuan individu dalam menyadari, mencontohkan, menyesuaikan diri, merasionalkan, mempertimbangkan dan mengembangkan tata kelola etika digital dan kehidupan sehari-hari,” ujar Nofi dalam webinar yang dipandu oleh Kika Ferdind ini.

Nofi juga mengatakan bahwa karena komentar di media sosial sering kita lihat berita di TV akan kejadian yang marak dialami artis-artis Indonesia yang baru-baru ini seperti kasus Atta Halilintar yang di bully  oleh pengguna media sosial sehingga berujung laporan polisi.

“Inilah yang seperti ungkapan ‘mulutmu harimaumu’, pepatah ini menjelaskan pada kita agar selalu menjaga lisan kita ketika berbicara,” ungkapnya.

Menerapkan Etika Digital saat Terkoneksi secara Global

Untuk itu ada sejumlah tips agar bijak bermedia sosial. Diantaranya adalah selalu berhati-hati dalam mengunggah dan harus mempertimbangkan segala macam akibat yang bisa jadi sangat fatal yang akan diterima jika itu menyakiti orang lain.

Juga ingatlah akan dampak postingan dan reaksi pembaca medsos, menghindari emosi dan sentiment serta tetap bersikap empati dan hati-hati terhadap berita yang kita baca di media sosial.

“Seperti konten-konten yang sangat tidak jelas asal-usulnya akan membuat orang-orang percaya dan membagikan link misalnya di media Facebook dan Instagram sehingga orang-orang percaya dengan apa yang telah dibagikan, padahal hal ini bisa memecah belah juga menjadikan salah paham.”

Yang juga harus diingat adalah akibat perundungan di media sosial bagi korban. Diantaranya bisa mengganggu kesehatan mental korban, mengakibatkan kepercayaan diri sendiri korban hilang dan harga diri dari korban menurun.

“Selain itu dampak lain adalah bisa membuat korban menjadi tidak memiliki motivasi lagi dalam menjalani kehidupan. Bahkan yang paling mengerikan adalah memungkinkan korban melakukan tindakan bunuh diri.

Selain Nofi juga hadir pembicara lainnya yaitu Gebryn Benjamin, Lead Creative & Marketing Strategy,  Ilham Faris, Digital Strategist dan Putri Langi sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)