Tantangan Mengajar bagi Guru Generasi Alfa

pixabay by Capri23auto

GURU GENERASI ALFA ini secara umum tentu memiliki peserta didik yang lahir di masa generasi ini (2010-2015) dan mengajar di era revolusi industri 4.0. Sebagai peserta didik yang juga digital native, hal ini memberikan tantangan bagi guru-guru untuk memahami karakteristik dalam upaya menyesuaikan cara belajar generasi alfa sendiri.

“Sebelum mulai belajar di kelas, tentu kita harus tahu dulu peserta didiknya seperti apa, terutama karakteristik yang dimiliki generasi alfa. Agar kita bisa mengkodisikan model pembelajaran dan cara mengajarnya supaya sinkron,” ungkap Nur Rahma Yenita, Kaprodi Teknik Elektro STTI dan Asesor Kompetensi Multimedia BNSP dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Rabu (13/10/2021).

Dalam uraian Rahma, karakteristik generasi alfa di antaranya, lebih percaya informasi dari media interaktif, cenderung lebih suka menggunakan smatphone, pandai bermedia sosial, kurang senang baca buku, adaptif terhadap teknologi, dan bekerja secara efektif. Kemudian, dalam melakukan transaksi generasi ini lebih memanfaatkan metode pembayaran cashless.

Rahma menyampaikan, di dalam pembelajaran, peserta didik generasi alfa lebih memilih untuk diajak berdiskusi dibandingkan menggunakan metode belajar teacher-oriented. Generasi ini pun cenderung mengerjakan atau diberikan tugas berdasarkan project tertentu. Di mana mereka dilibatkan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan dalam pembelajaran lewat project tersebut.

“Sebagai guru generasi alfa harus menyesuaikan diri untuk mengimbangi para peserta didik di dalam kelas. Agar mampu memberikan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik,” ujarnya.

Generasi alfa merupakan generasi cakap teknologi. Karena itu, guru-guru harus melek akan perkembangan teknologi digital agar bisa memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran. Guru-guru juga harus memiliki kemampuan literasi digital setingkat lebih tinggi dibandingkan peserta didiknya.

Bahaya Penggunaan Internet yang Tidak Sehat

Di samping itu, guru generasi alfa sangat penting untuk memiliki kompetensi dalam literasi digital. Pertama, mampu mengakses, menyeleksi, dan memahami informasi dari internet. Kedua, mampu menganalisis, memverifikasi, dan mengevaluasi informasi yang telah didapatkan. Ketiga, memproduksi, berpartisipasi, berkolaborasi, dan mendistribusikan berbagai macam konten kreatif digital terkait pembelajaran melalui platform digital.

“Hal ini bukan sesuatu yang mustahil saat guru ada kemauan untuk berpartisipasi,” tuturnya.

Untuk itu, Rahma memaparkan berbagai cara dalam meningkatkan kompetensi literasi digital bagi guru generasi alfa. Di antaranya, menggunakan smartphone yang mendukung berbagai aplikasi, meluangkan waktu untuk mencari dan membaca informasi digital, serta meningkatkan kemampuan digital secara mandiri.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Sumba Timur, NTT, Rabu (13/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Alaika Abdullah (Virtual Assistant & Digital Content Creator), Alfrian C Talakua (Dosen Teknik Informatika – Universitas Kristen Wira Wacana Sumba), dan Fitriyani (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalBALI/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.