Ini Pentingnya Guru Bagi Generasi Alfa Punya Kemampuan Digital

pixabay by geralt

MEMILIKI kemampuan dan literasi digital kini menjadi suatu kewajiban bagi guru dan juga pengajar. Terlebih ketika murid atau anak ajarnya merupakan generasi alfa.

Seperti diketahui, generasi alfa sendiri terkenal sebagai generasi yang telah kenal dengan teknologi digital dan juga internet of things sejak lahir. Oleh sebab itu, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021, wilayah Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Nico Oliver, Penggiat Digital & Content Creator, memaparkan pentingnya kemampuan literasi digital bagi pengajar dan guru bagi generasi alfa.

“Ini jadi penting karena generasi alfa merupakan generasi masa datang yang akrab dengan digital,” kata Nico, Jumat, (17/9/2021).

Nico melanjutkan bahwa perubahan era digital saat ini terutama sejak masa pandemi, membuat bannyak kegiatan beralih menjadi online atau daring. Selain itu, ia melanjutkan bhawa proses belajar generasi alfa sendiri berbeda dengan generasi lainnya.

“Sudah menjadi tugas utama pendidik untuk terus memberikan yang terbaik dalam mempersiapkan dan mencerdaskan generasi masa depan Indonesia,” kata dia.

pixabay by thumprchgo

Nico mengatakan bahwa metode pembelajaran generasi alfa sendiri berbeda. Ini karena ciri dari generasi alfa yang suka dengan visual yang menarik, dekat dengan teknologi dan juga interaktif.

“Makanya perlu menggunakan desain menarik dan menggunakan gambar atau video,” kata dia.

Selain itu, lanjut Nico, metode belajar juga harus berbasiskan digital dan juga tidak lepas dari internet. Pada proses komunikasi dan pengajaran generasi alfa juga lebih suka komunikasi dua arah.

“Kalau dulu guru itu lebih cenderung satu arah, pada generasi alfa harus dua arah. Guru hanya menjadi fasilitator dan bukan sumber ilmu pengetahuan satu-satunya.

Oleh sebab itu, lanjut Nico, guru perlu juga paham dan punya perangkat keras seperti laptop dan tablet, hingga perangkat lunak seperti penguasaan microsoft office, Googele, media sosial hingga media pendukung lainnya.

“Guru dan pengajar generasi alfa juga perlu punya pemahaman digital, dair etika digitial, budaya digital dan keamanan digital,” kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, juga hadir  Kaprodi Teknik Informatika STTI, Chris Jatender, Anggota DPRD Provinsi NTT, Yohanes Rumat,SE., dan Key Opinion Leader Eryvia Maronie

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.