Hate Speech Bisa Terjadi Karena Kurang Kontrol Keluarga

pixabay by Wokandapix

PENGGUNA internet di Indonesia meningkat dalam setiap detiknya. Paling banyak digunakan oleh yang sudah selesai S3 dan yang pernah kuliah atau tidak tamat karena mereka selalu mengakses internet dengan kapasitas hampir 100%.

Menurut Yampi R.Kaesmetan,M.Kom, Dosen STIKOM Uyelindo Kupang dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat 5 November 2021, semakin tingginya kuantitas pengguna internet maka persoalan yang timbul pun makin besar. “Semisal adanya penyalahgunaan konten media sosial dan dari survei kasus penipuan ini sampai 4.600 an dan kasus pengancaman sampai 3.101,” imbuhnya.

Media digital atau media online menciptakan masyarakat baru yang impersonal tetapi hangat dan akrab yaitu di dunia maya. Di ruang digital juga manusia dapat terhubung satu dengan lainnya bukan hanya cerminan human relations dan untuk mencari informasi sekaligus sebagai pengolah informasi.

Selain itu kehadiran media digital atau media online membawa display effect dalam kehidupan masyarakat.Dampak negatif lainnya adalah maraknya hate speech atau ujaran kebencian. Hate speech sendiri adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi hasutan ataupun penghinaan kepada individu atau kelompok yang lain.

Hate speech juga bisa berarti suatu tindak pidana yang berbentuk penistaan pencemaran nama baik menghasut menyebarkan berita bohong perbuatan yang tidak menyenangkan dan semua tindakan tersebut mempunyai tujuan atau dapat memberikan dampak pada kekerasan penghilangan nyawa konflik sosial dan diskriminasi.

Faktor penyebab hate speech bisa karena dari individu sendiri semisal sakit hati, rendah mental dan dendam. Sehingga dia bisa melakukan ujaran kebencian, dan ada juga karena ketidaktahuan masyarakat.

Ingin Laporkan Kejahatan Siber, Catat Tahapannya

Hate speech juga bisa terjadi karena kurangnya sosialisasi sehingga membuat masyarakat tidak tahu tentang penghinaan dan ada aturan yang berlaku. Juga bisa terjadi karena kurang bijak dalam memanfaatkan sarana dan fasilitas di era globalisasi di tengah penyebaran informasi semakin mudah cepat efektif dan di dapat kan.

Penyebab lainnya adalah karena kurangnya kontrol sosial termasuk kurang kontrol internal dari keluarga yang tidak tahu kondisi anggota keluarganya. Dan faktor eksternal yaitu ini masyarakat tidak perlu akan kejadian kejahatan di sekitarnya. Dan lingkungan pun berpengaruh karena lingkungan yang memberi kesempatan untuk melakukan kejahatan dan lingkungan pergaulan yang tidak memberi contoh atau teladan.

Yang terakhir adalah harte speech bisa terjadi karena ekonomi dan kemiskinan. Sebab keadaan ekonomi pengangguran dan tidak berpenghasilan sehingga tersadar akan suatu kebutuhan dan mendorong sampai terjadi ujaran kebencian.

Selain Yampe juga hadir pembicara lainnya yaitu Chris Jatender, Kaprodi Teknik Informatika, Nurul Amalia, Pramugari, Content Creator dan Forex Trader dan Fitriyani sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.