Hindari Lost Communication dalam Berbahasa di Medsos

pixabay by antonbe

PERSOALAN bahasa di dunia media sosial (medsos) hingga hari ini masih menjadi kendala. Banyak konten dan unggahan yang mengabaikan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Padahal bahasa yang baik dan benar sesuai konteksnya sangat dibutuhkan di tengah perkembangan dunia digital terutama maraknya beragam media sosial.

Seperti yang dikatakan oleh Moh.Hilmi, S.Pd, M.APP.Ling, Kepala Sekolah M.Ts, NW Mengkuru Lombok Timur dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten  Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Jumat 22 Oktober 2021, jangan sampai kita menjadi kebablasan berkomunikasi atau Lost communication di dunia digital.

“Saat ini banyak sekali terjadi kekacauan bahasa di dunia digital, ketimpangan-ketimpangan bahasa karena tidak mengetahui aturan dalam berbahasa atau sengaja membenturkan bahasa-bahasa kita ini untuk membuat kontroversial dan viral di media sosial. Fenomena lost communication atau kebablasan berbahasa juga kerap terjadi yang ujungnya menimbulkan persoalan di kemudian hari,” ujar Hilmi dalam webinar yang dipandu oleh Jhoni Chandra ini.

Lebih lanjut dikatakannya kekacauan-kekacauan bahasa di dunia digital ini memiliki faktor-faktor tertentu, bisa internal eksternal juga internal. Semisal bisa saja karena merasa diri pintar dan sudah luar biasa jadi semau-maunya dia, padahal ungkapan mulutmu adalah harimaumu kerap terjadi akibat komunikasi kita bisa tersandung hukum karena bahasa yang kita gunakan.

Fungsi bahasa secara umum adalah alat untuk mengungkapkan perasaan atau mengekspresikan keinginan dan bahasa sebagai alat komunikasi, alat terintegrasi dan beradaptasi sosial juga sebagai alat kontrol sosial.

“Melalui bahasa kita dapat menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam hati dan pikiran kita. Bahasa merupakan saluran maksud seseorang yang melahirkan perasaan dan memungkinkan masyarakat untuk bekerjasama pada saat beradaptasi di lingkungan sosial,” jelasnya.

Dijelaskannya juga bahwa seseorang akan memilih bahasa yang digunakan tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi yang mempengaruhi sikap tingkah laku serta tutur kata seseorang agar kontrol sosial dapat diterapkan pada diri sendiri dan masyarakat.

Perhatikan Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Teknologi Digital di Masa Pandemi Covid-19

Fungsi bahasa secara khusus mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari artinya manusia adalah makhluk sosial yang tak terlepas dari hubungan komunikasi dengan makhluk sosial nya.

Untuk di media sosial sepantasnya mempergunakan bahasa yang baik dan benar. Sementara bahasa yang baik belum tentu benar karena tergantung penggunaannya pada situasi tertentu dan disesuaikan dengan si penerima komunikasi kita atau disesuaikan dengan orang yang kita ajak berbicara begitupun di media sosial.

Sebaiknya gunakan standar bahasa baku dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar,  santun berbahasa dan hindari bahasa tabu.

Ciri-ciri bahasa yang benar adalah menggunakan kaidah tata bahasa normatif,  penggunaan lafal baku dalam bahasa lisan, penggunaan kata-kata baku dalam ajaran resmi sesuai EBI misalnya mengapa bukan kenapa. Selain itu perhatikan juga penggunaan kalimat secara efektif misalkan silakan maju bukan silakan maju ke depan bukan para hadirin tapi ‘hadirin’ saja.

“Mari kita membiasakan diri berbahasa yang baik dan benar di mana saja dalam kehidupan nyata maupun dalam interaksi interaksi kita di dunia digital,” tandasnya Hilmi.

Selain Hilmi juga hadir pembicara lainnya yaitu Anggie Ariningsih, CEO Tech Company, Nurul Amalia, Pramugari, Digital Content Creator dan Forex Trader dan Wicha Riska sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.