Waspadai Hoaks yang Bisa Membuat Kebingungan Masyarakat

pixabay by XANDER_DEZ

DIBANDING  dengan media mainstream seperti TV, surat kabar atau media berita online, hoax lebih cepat menyebar lewat media sosial. Sebab mengunggah konten berita atau unggahan apapun lebih bebas di medsos ketimbang media mainstream lainnya yang mengikuti standar peraturan penulisan dan penyebaran berita.

Tiara Maharani, penulis dan koresponden Indonesia untuk TTG Asia dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Kamis 28 Oktober 2021, mengatakan bahwa ada berbagai alasan untuk orang menyebarkan hoax.

“Kerap orang menyebarkan berita hoax hanya untuk meneruskan berita yang tersebar tak memikirkan benar atau salah. Selain itu kadang juga ketika menerima beritanya mereka langsung panik lalu menyebarkan dan tidak sampai 1 jam sudah tersebar,” ujar Tiara dalam webinar yang dipandu oleh Claudia Lengkey ini.

Selain itu ada juga karena orang yang menyebarkan berita hoax itu sebenarnya tidak tahu bahwa berita tersebut tidak benar dan juga tidak tahu sumber berita secara jelas. Tak jarang juga penyebar berita hoax melakukannya hanya sekedar iseng ataupun memang untuk mempengaruhi orang lain.

Dijelaskan juga oleh Tiara bahwa hoax adalah berita bohong atau informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya.

“Hal ini tidak sama dengan rumor atau berita palsu maupun April mop. Tujuan dari berita bohong adalah membuat masyarakat menjadi tidak aman, tidak nyaman dan kebingungan,” imbuh Tiara lagi.

Jangan Anggap Musuh Orang yang Berbeda dari Kita

Ia juga mencontohkan berita hoax yang kadung dipercaya banyak orang yaitu WHO menemukan vaksin covid 19 yang palsu dan beredar di Indonesia. Ada lagi berita hoax soal  vaksin 19 mengandung magnet dan harga vaksin di Indonesia 1000% lebih mahal daripada di Brazil.

Dijelaskannya juga bahwa pada tahun 2020 lalu Kominfo menemukan ada 1.201 berita hoax tentang  covid 19 selama 2020 lalu.

“Itu baru tentang covid, belum lagi hoax yang lainnya semisal tentang tsunami dan segala macam. Kalau misal kita sudah terbiasa menerima berita hoax bisa jadi kita akan sulit membedakan antara yang benar atau yang salah,” beber Tiara.

Oleh karena itu, penting sekali bagi setiap pengguna ruang digital untuk mengetahui mana hoax dan mana berita yang benar dengan cara mengidentifikasinya.

Maka untuk mengidentifikasi berita hoax ada beberapa cara di antaranya adalah perhatikan judul, perhatikan sumber berita, waspada informasi copas dari grup sebelah dan jangan terkecoh dengan foto yang tertera pada suatu berita.

“Selain itu berita hoax biasanya berisi pesan tendensius dan mengarah kepada kebencian atau permusuhan,” katanya.

Selain Tiara Maharani juga hadir pembicara lainnya yaitu Chyntia Andarinie Founder Mom Influencer Indonesia, Yunus Mida, S.Pd, Pengawas Sekolah Madya-SMP dan Chika Mailoa sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (KANALBALI/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.