Cara Tepat Dapatkan Manfaat Internet untuk Anak-anak

ILUSTRASI Bermain game online pada gadget.* /PIXABAY/.*/PIXABAY

ANAK-ANAK  menjadi kelompok yang rentan mengalami kecanduan internet. Kecanduan internet bisa ditandai dengan penggunaan internet secara berlebihan hingga dapat mengganggu kesehatan fisik dan psikis.

Dikatakan dosen STAI Bani Saleh Bekasi – Tine Mulyaningsih, keadaan saat ini membuat perilaku masyarakat berubah dari yang tadinya melarang anak menggunakan internet, menjadi menyajikan segala macam kepentingan anak lewat layar termasuk sebagai sarana belajar.

Padahal, lanjutnya, internet bagaikan pisau bermata dua yang memiliki sisi positif dan negatif terutama bagi anak. Sisi negatif internet pada anak misalnya, membuat pertumbuhan anak terhambat, fisiknya menjadi lemah, membuat anak miskin kosakata dan berkurangnya kemampuan anak dalam berhitung.

“Itu terjadi karena ajak berinteraksi melalui media sosial sehingga kemampuan kognitif mereka berkurang,” kata Tine saat berbicara dalam agenda webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021, wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (28/6/2021).

Untuk itu, lanjutnya, penting bagi orangtua untuk mengetahui saat anak mulai membutuhkan bantuan karena kecanduan internet. Perhatikan apakah anak memiliki luka di jari atau jempolnya. Perhatikan juga apakah anak mengalami masalah mata kering, rentan sakit, memiliki pola makan menyimpang, gagal mengurus kebersihan diri sendiri dan memiliki pola tidur yanv berubah.

Beberapa hal yang bisa orangtua lakukan sebagai pertolongan pertama adalah menyimpan akses internet seperti komputer di atea terbuka, memberikan filter internet dan memeriksa semua media elektronik.

Selain Tine Mulyaningsih yang memberikan paparan, webinar literasi digital ini juga diisi oleh Bentang Febrylian, seorang pemeriksa fakta senior dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia atau Mafindo.

Memberikan paparan bertajuk membedakan antara informasi dan hoaks, Bentang mengatakan sebuah informasi harusnya selalu berdasarkan data dan fakta.

Ia bercerita bagaimana istilah hoaks atau hoax pertama kali digunakan pada 1808 silam, dan berasal dari kata hocus yang memiliki arti mengelabui. “Jadi hocus ini adalah penyingkatan dari hocus pocus, semacam mantra dari aksi sulap di atas panggung seperti bimsalabim,” katanya.

Ia menyebut ada tujuh jenis misinformasi dan disinformasi yang biasa berkeliaran di  masyarakat. Pertama adalah satir atau parodi. Jenis ini tidak memiliki niat untuk merugikan namun berpotensi untuk mengelabui. Kedua adalah konten yang menyesatkan. Jenis ini digunakan untuk membingkai sebuah isu atau individu.

Ketiga adalah konten tiruan. Konten ini dibuat ketika sebuah sumber asli ditiru hingga menyerupai konten tiruan. Keempat konten palsu. Konten palsu merupakan konten baru yang dibuat 100 persen salah dan didesain untuk menipu serta merugikan. Kelima, jenis misinformasi dan disinformasi juga bisa terjadi karena kesalahan koneksi. Ini membuat  judul, gambar, atau keterangan tidak mendukung konten.

Keenam adalah konten yang salah, atau ketika konten asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah. Terakhir atau ketujuh adalah konten yang dimanipulasi, atau ketikan informasi atau gambar asli dimanipulasi untuk menipu.

Untuk itu Bentang menekankan pentingnya langkah bijak bermedia sosial seperti merahasiakan data pribadi, mengunggah sesuatu yang penting, tidak membuat dan menyebarkan disinformasi, tidak membuka link pornografi, menggunakan bahasa yang sopan dan mengontrol waktu bermain media sosial. (KANALBALI/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.