BADUNG, kanalbali.id – Ratusan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Bali berkumpul di Sanggar Kagama di Dalung, Badung, Rabu (6/8/2025).
Mereka mengikuti acara perpisahan yang digelar Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama). Acara berlangsung penuh kekeluargaan diwarnai dengan karaoke bersama dan diakhiri dengan santap siang.
“Kita ingin menyampaikan terima kasih karena adik-adik sudah ikut membangun Bali, khususnya di pedesaan,” kata Ketua Kagama Bali IGN Agung Diatmika.
Soul And Kith Luncurkan Mini Album ‘Kacamuka
“Harapannya pengalaman itu menjadi kenangan indah dan menjadi bekal bila nanti benar-benar terjun ke masyarakat setelah lulus,” sebut notaris senior ini.
Sertijab Kabapas Denpasar Digelar, Kemenkumham Bali Harapkan Kinerja yang Semakin Optimal
Kegiatan KKN UGM sudah dilangsungkan sekitar 50 hari dimana mahasiswa dibagi dalam sejumlah kelompok dan ditebar di Kabupaten Tabanan, Badung, Buleleng, Gianyar dan Karangasem.
Sebelumnya terjun ke lokasi, mereka telah merancang proposal kegiatan sesuai kondisi desa dan potensi keilmuan yang dimiliki. Antara lain di bidang peningkatan kualitas infrastruktur desa, penanganan sampah, pengembangan desa wisata sampai pada dukungan untuk mengatasi masalah-masalah kesehatan.

“Kami dari Kagama memberikan dukungan dengan menyediakan jaringan kerjasama dengan alumni di Bali,” sebut Diatmika.
Salah-satu mahasiswa Bramastya Maheranta dari kelompok Kembara yang ditempatkan di Tegallalang Gianyar menyatakan, dengan program itu mereka menjadi lebih mengenal Bali dalam kehidupan keseharian.
“Kami merasa senang karena sebelumnya hanya mengenal Bali sebagai wisatawan. Jadi tidak benar-benar mengenai Bali, tapi kami sekarang melihat Bali dengan perasaan yang berbeda karena seperti memiliki keluarga disini,” sebut mahasiswa Teknik Mesin 2022.

Salah-satu Dosen Pembimbing Lapangan Sumiarto menyatakan, penghargaan bagi Kagama Bali yang telah memberikan dukungan penuh pada program KKN UGM.
“Program ini bertujuan agar mahasiswa bersentuhan dengan problem masyarakat yang paling bawah dengan kondisi riilnya dan nanti kalau mereka memiliki posisi dalam masyarakat tidak akan lupa dengan pengalaman itu,” jelasnya.
Mahaiswa UGM diharapkan pula tidak hanya memiliki pengetahuan yang didapat dari kampus tapi harus memiliki soft skill untuk bergaul dan berkomunikasi dengan warga sehingga akan selalu mempertimbangkan kondisi rill di lapangan.
“Bonusnya, biasanya ada saja nanti setelah 2-3 tahun, saya menerima undangan pernikahan dari mahasiswa yang berada di kelompok yang sama,” kelakarnya.
( kanalbali/RFH)


