DENPASAR, kanalbali,id – Dalam lukisan bertajuk “Frame by Promise” seorang perempuan muda tampak duduk menghadap ke jendela. Tampak jelas di hadapannya langit yang cerah dan laut luas yang biru warnanya.
Pelukis Ricky Bambang Sudibjo Salim lalu melengkapi pesan yang disampaikan dengan pernyataan bahwa Tuhan sejatinya telah memberikan kerangka yang jelas dan damai bagi masa depan semua orang.
Peringati Hari Lahir Pancasila, Peserta Upacara di Kemenkumham Bali Pakai Pakaian Adat Nusantara
“Namun seringkali memilih jalan yang lain dan berkelok-kelok,” katanya saat ditemui pada pembukaan pameran yang memajang 33 lukisan karya terbarunya pada Minggu (21/12) di Lima Art Café & Galleri, GWK Cultural Park, Jimbaran, Bali.
Tari Janger Klasik Melampahan Khas Pejeng Kangin Gianyar Tampil Memukau di Panggung PKB ke-46
Seluruh lukisan memiliki nuansa spiritual dari hasil refleksi dari perjalanan hidupnya maupun dari pemahamannya terhadap kitab suci Injil yang diimaninya.
Biasanya sebelum melukis, dia akan merumuskan terlebih dahulu teks yang akan direfleksikannya dalam lukisan.
Setelah lukisan jadi, dia mencetaknya dalam kartu kecil yang disebut “Carrot Card”. Di baliknya, tercantum pesan-pesan yang memperjelas makna dari lukisan itu.
“Pengunjung yang relate dengan lukisan dan pesannya akan bisa merasakan hingga ada yang terharu atau merasa lebih bahagia,” sebutnya.
Lukisan dan kartu yang ditampilkan adalah seri kedua dalam prosesnya bekerya. Seri pertama dipamerkan di Jakarta pada 2024 bersama Art Moment dan ternyata cukup mengundang perhatian.
Setelah pameran itu, Ricky Bersama keluarga sempat berlibur ke Italia dan inginnya adalah ke kota Florence. Namun dalam perjalanan mereka sempat tersesat ke kota Tuscany di Kawasan pedesaan.
Ricky kemudian merasa mendapat bisikan bahwa dia akan membuat seri kedua lukisan Carrot Card di kota itu dan bahkan disebutkan waktunya pada bulan Oktober 2025.
Sempat ragu karena mahalnya biaya hidup di kota itu, pada bulan Oktober 2025, Ricky memutuskan untuk menetap selama 3 minggu untuk mengerjakan lukisannnya. “Saya merasa ,mendapat banyak kemudahan dan kuasa Tuhan dalam proses ini,” katanya.

Nuansa spiritual memang tak bisa dilepaskan dari perjalanan Rucky sebagi pelukis. Ia yang berpuluh tahun menggeluti dunia fotografi, pada pada 8 tahun lalu menekuni seni rupa.
Dia mengisahkan, perubahan itu bermula dari mimpi yang sangat jelas dimana dia melihat dirinya melukis adegan The Last Supper atau Perjamuan Terakhir. Adegan itu adalah ketika Yesus menjamu 12 muridnya.
Firasat itu diabaikannya karena dia merasa tak memiliki kemampuan melukis sama sekali dan bahkan memiliki masalah dengan matanya yang buta war
Namun sosok kelahiran Surabaya, 18 Januari 1972 ini terus mendapat pertanda yang makin kuat sehingga akhirnya dalam doa pagi dia menguatkan tekat untuk mencoba.Selama masa pandemi, dia pun mengikuti kursus online dari Milan Art Institute.
Ia pun terus berpikir agar lukisannya tak sekedar menyampaikan pesan melalui gambar tetapi juga menegaskannya melalui teks.” Jadi akan ada lebih banyak orang yang bisa tersentuh,” tegasnya.
Dari situ lahirla Carrot Card yang dipilih sebagai plesetan atau permainan makna dari “tarot”, yakni permainan dalam meramal nasib. Padahal pesan yang disampikan Ricky justru adalah pesan-pesan yang sudah pasti.
Pengamat seni Hartanto menilai, karya-karya Ricky bercorak impresionisme. “Artinya itu adalah ungkapn dari kesan dia mengenai suatu hal yang diungkapkan kembali dalam lukisan,” jelasnya.
Menariknya, karya Ricky bersifat universal meskipun kadang menggunakan symbol-simbol Kristiani sesua latar belakang agamanya. Tekanannya, kata Hartatnti, adalah pada nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki oleh siapa saja tanpa melihat latar belakangnya.
Gimmick dengan “Carrot Card’, menurut dia, adalah cara yang unik dalam mempopulerkan pesan dan mempermudah orang untuk terhubung ke dalamnya. “Jadi disini antara teks dan visual saling mendukung untuk menciptakan impresi pada karya Ricky,” tegasnya. (kanalbali/RFH)


