Penulis: Angga Wijaya*
DIPERINGATI setahun sekali, hari kasih sayang sedunia mengingatkan kita pada sesuatu yang seharusnya tidak pernah menunggu tanggal, cinta.
Kita mengunggah foto, memberi bunga, menulis status, mengutip puisi. Lalu besoknya kembali seperti biasa. Seolah cinta memang hanya pantas dirayakan, bukan dihidupi.
Saya pernah menulis esai ini tiga tahun lalu, dengan nada agak muram. Hari ini saya membacanya kembali dan bertanya, apakah saya terlalu sinis, atau memang kenyataan yang membuat kita sulit optimistis.
Belakangan saya melihat beberapa ulasan di media sosial tentang memoar berjudul Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth. Memoar ini ditulis oleh aktris Aurelie Moeremans. Saya belum membaca buku itu secara utuh, hanya membaca ringkasan dan komentar pembaca.
Dari yang saya tangkap, buku ini penuh potongan pengalaman hidup yang retak dan pahit, seolah senar kenangan yang putus karena kekerasan atau kehilangan. Senar yang putus terasa seperti metafora yang akrab. Dalam banyak hubungan, ada senar yang tak lagi mampu menegang, tak lagi menghasilkan nada.
Cinta yang kita pahami hari ini sering kali bercampur dengan hasrat ingin memiliki. Kita berkata aku mencintaimu, tetapi diam-diam menyimpan keinginan untuk menguasai. Kita menyebutnya perhatian, padahal mungkin itu kontrol. Kita menyebutnya cemburu karena sayang, padahal bisa jadi itu rasa tidak aman yang tak pernah dibereskan.
Di era ketika istilah grooming ramai dibicarakan, kita semakin sadar bahwa tidak semua yang mengatasnamakan cinta benar benar cinta. Grooming secara sederhana adalah proses manipulatif ketika seseorang membangun kedekatan dan kepercayaan secara bertahap dan halus untuk kemudian mengeksploitasi, terutama secara emosional atau seksual. Ia bisa terjadi dalam relasi yang tampak normal. Ia bisa menyamar sebagai perhatian dan perlindungan, bahkan kasih sayang.
Di titik ini, saya kembali bertanya, benarkah dalam setiap hubungan kita sudah menyayangi dan mencintai kekasih, istri, suami, orang tua, anak, kakak, adik, kakek, nenek, buyut, keponakan, sepupu, dengan tulus? Atau jangan-jangan, cinta kita selalu bersyarat.
Kita berkata mencintai anak, tetapi menuntutnya menjadi versi diri kita yang gagal. Kita berkata mencintai pasangan, tetapi menghukumnya dengan diam ketika ia tak sesuai ekspektasi. Kita berkata mencintai orang tua, tetapi hanya ketika mereka setuju dengan pilihan hidup kita. Kita berkata mencintai saudara, tetapi menyimpan iri yang tak pernah diakui.
Di zaman yang disebut posmodern ini, zaman ketika kebenaran terasa cair, identitas mudah berubah, dan realitas banyak dimediasi layar, cinta pun ikut terfragmentasi. Media sosial membuat kita akrab dengan istilah love language, red flag, toxic relationship. Itu baik karena memberi kita kosa kata untuk memahami relasi. Namun kadang kosa kata itu juga menjadi alat untuk menghakimi dan membatalkan orang lain dengan cepat.
Cinta menjadi proyek citra. Kita menampilkan hubungan yang tampak harmonis, padahal di balik layar mungkin ada kelelahan, kebisuan, bahkan luka. Kita hidup dalam budaya performatif. Yang penting terlihat mencintai.
Padahal cinta, jika mau kita telusuri lebih dalam, mungkin bukan soal perasaan yang meluap-luap. Ia adalah keputusan yang berulang. Keputusan untuk tidak menyakiti ketika kita mampu menyakiti. Keputusan untuk mendengar ketika ego ingin menang sendiri. Keputusan untuk jujur bahkan ketika kejujuran itu tidak nyaman.
Saya tidak sedang memutihkan realitas. Kekerasan dalam rumah tangga tetap ada. Kekerasan psikologis tetap terjadi. Eksploitasi atas nama cinta masih berlangsung, baik yang kasar maupun yang sangat halus. Ada pasangan yang bersumpah melindungi saat menikah, tetapi kemudian justru menjadi sumber luka. Ada orang tua yang berkata demi kebaikanmu, tetapi tak pernah benar-benar mendengarkan suara anaknya.
Barangkali cinta memang tidak pernah sederhana. Namun saya juga percaya, meski terdengar klise, bahwa cinta tidak pernah sepenuhnya hilang. Ia mungkin terkubur oleh trauma. Ia mungkin terdistorsi oleh pengalaman masa kecil. Ia mungkin berubah bentuk karena kita tidak pernah diajari cara mencintai yang sehat.
Saya membayangkan cinta yang lebih dewasa di zaman ini adalah cinta yang sadar diri. Cinta yang tahu batas. Cinta yang tidak merasa berhak atas tubuh dan pikiran orang lain. Cinta yang tidak memaksa orang lain menjadi obat bagi luka batin kita. Cinta yang berani berkata, aku mencintaimu, tetapi aku juga menghormatimu sebagai subjek yang utuh.
Hari kasih sayang tidak salah. Ia bisa menjadi pengingat. Tetapi jika hanya dirayakan setahun sekali, kita sedang mereduksi sesuatu yang seharusnya menjadi napas harian. Mungkin yang perlu kita rayakan bukan bunga dan cokelat, melainkan keberanian untuk mengevaluasi cara kita mencintai.
Apakah kita masih mudah merendahkan orang yang paling dekat dengan kita? Apakah kita menggunakan kata-kata kasar saat marah, lalu meminta maaf tanpa benar-benar berubah? Apakah kita menuntut dipahami, tetapi jarang mau memahami?
Esai lama saya dulu ditutup dengan harapan agar kita memaknai kembali sifat sifat baik yang pernah ada dalam diri kita. Hari ini saya ingin menambahkan bahwa mungkin kita perlu belajar mencintai dengan cara yang lebih sunyi. Tidak selalu diumumkan. Tidak selalu difoto. Tidak selalu diberi tanda pagar.
Cinta yang bekerja dalam diam, menahan diri, merawat, memperbaiki. Jika ada senar yang sudah terlanjur putus, mungkin tidak semua bisa disambung. Tetapi kita masih bisa belajar memainkan nada dengan lebih hati-hati pada hubungan yang tersisa. (*)
[Denpasar, 13 Februari 2026, menjelang tengah malam.]
Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai


